Mewariskan Spirit Perjuangan Nabi Ibrahim Melalui Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun

 Kategori Pendidikan

Sejarah Nabi Ibrahim a.s. dan puteranya Nabi Ismail a.s. sarat dengan pendidikan yang amat penting diwariskan kepada putera (i) kita di manapun berada sebagai generasi pelanjut.

Salah satu warisan yang amat penting diajarkan kepada generasi muda Islam, ialah pendidikan tauhid, yang mengajarkan kepada keesaan dan ketunggalan Allah.

Pertama, berdakwah kepada ayah yang musyrik dengan sabar, tabah dan lembut. Allah menjelaskan dalam Alqur’an surat Maryam ayat (42):

Ingatlah ketika dia berkata kepada ayahnya; “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesutu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun.”

Ibnu Katsiir dalam tafsir Fii Zilalil Qur’an mengemukakan: “Penduduk negeri Harran adalah kaum musryik penyembah bintang dan berhala. Seluruh pendudukny Kafir kecuali Ibrahim a.s. dan isterinya, dan kemenakannya Nabi Luth a s. Ibrahim dipilih oleh Allah untuk menghapus berbagai kebatilan yang sesat. Allah menganugerahkan kepadanya kegigihan dan ketabahan sejak masa kecil.”

Akan tetapi dakwah yang dilakukan Nabi Ibrahim ditentang ayahnya dan kaumnya. Dalam surat Ash-Shaffat ayat (95-98) Allah menggambarkan:

“Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” Mereka berkata: “Dirikan suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.”

Setelah bangunan selesai di atas tumpukan kayu bakar, mereka melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allah): Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrahim (Tafsir At-Thabari, Juz 9, hal. 43).

Kedua, ke Baitullah. Ismail putera kesayangannya baru saja dilahirkan dan masih dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrahim membawa keduanya menuju Baitullah, Makkah, sebuah lembah yang tidak dihuni oleh siapapun dan tidak ada sumber air.

Nabi Ibrahim tidak lama dilembah itu, kemudian meninggalkan isterinya dan putera kesayangan Ismail ditempat itu.

Ketika Nabi Ibrahim mau meninggalkan isterinya dan Ismail, Hajar bertanya berkali-kali mau ke mana? Nabi Ibrahim tidak menolek ke isterinya dan tidak memberi jawaban. Kemudian Hajar bertanya, Apakah Allah yang telah memerintahkan engkau dengan ini? Nabi Ibrahim menjawab ya?

Mendengar jawaban itu, Hajar berkata: “Jika demikian, Allah tidak akan meninggalkan kami.”

Kemudian Nabi Ibrahim berdoa “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Alqur’an surat Ibrahim ayat (37).


Ketiga, Perintah sembelih Ismail

Setelah Nabi Ibrahim kembali menemui isterinya dan dan Ismail sudah menginjak dewasa, Allah kembali menguji Nabi Ibrahim. Dia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putera yang amat dicintainya. Sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah, dia berdialog dengan puteranya dengan menanyakan pendapatnya? Ismail secara spontan menjawab. “Hai bapaku, laksanakan apa diperintahkan, insya Allah engkau akan menemukan aku termasuk dari orang-orang yang sabar.”

Ketika perintah Allah mau dilaksanakan dan Ismail siap disembelih sebagai kurban, Allah menggantinya dengan sebuah sembelihan yang besar.

Peristiwa tersebut diabadikan dengan perintah menyembeli hewan kurban pada tiap merayakan hari raya Idul Adha.


Keempat, bangun Ka’bah

Karya monumental Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ialah membangun Ka’bah sebagai simbol tauhid (ke-esaan Allah) dan persatuan umat Islam.

Hal tersebut dikemukakan dalam Alqur’an surat Al-Hajj ayat (26-27): Dan ingatlah, ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadaMu dengan berjalan kaki, dan mengendadai unta yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Doa nabi Ibrahim ini dikabulkan oleh Allah sehingga setiap musim haji, jutaan manusia datang ke Baitullah dari berbagai bangsa, suku dan warna kulit untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji.


Menggali Sejarah dan Ajaran Islam

Untuk memahami, dan menghayati sejarah perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ajaran Islam, sehingga bisa diwariskan kepada generasi mendatang, maka para tokoh pergerakan Islam 63 tahun yang lalu seperti Parada Harahap, Zainal Abidin Ahmad, Ali Akbar mendirikan Universitas Ibnu Chaldun. Adapun yang memberi nama Universitas Ibnu Chaldun adalah Prof. Dr. Osman Raliby, cendekiawan Muslim terkemuka di masa itu yang lahir di Aceh, lama belajar di Mesir dan di Jerman, serta menguasai banyak bahasa asing.

Salah satu fakultas yang didirikan di Universitas Ibnu Chaldun untuk mendalami, menghayati, mengamalkan, mengabadikan, melestarikan, dan menyebar-luaskan Islam kepada generasi muda ialah Fakultas Agama Islam yang terdiri dari tiga program studi.

Pertama, Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah),
Kedua, penyiaran Islam (Dakwah),
Ketiga, Al Ahwal Asy-Syahsyiah (Syariah)

Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun Jakarta telah meluluskan banyak cendekiawan Muslim, Ulama, pengajar, dai, usahawan, aktivis sosial, politisi, dan lain-lain diantaranya adalah Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Wakil Presiden Terpilih Republik Indonesia.

Dalam rangka merayakan Idul Adha 10 Zulhijjah 1440 H. saya mengundang kaum muda Indonesia untuk mendalami, menghayati, mengamalkan serta mengambil pelajaran dari sirah Nabawiyah (sejarah para Nabi) diantaranya sirah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, serta belajar ilmu-ilmu keislaman secara klasik dan kontemporer di Universitas Ibnu Chaldun.

Mulai tahun ini (2019/2020) Universitas Ibnu Chaldun memberikan beasiswa 10 orang dari negara-negaraTimur Tengah dan Afrika untuk melanjutkan pendidikan di berbagai program studi di Universitas Ibnu Chaldun.

Insya Allah alumni Universitas Ibnu Chaldun memiliki kualitas, integritas intelektual, berdaya saing tinggi secara akademik maupun moral (berakhlaqul karimah), serta mampu beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.

Alumni Universitas Ibnu Chaldun mempunyai peluang yang luas untuk berkarir dan mengabdi di lembaga penelitian, lembaga pendidikan, berbagai instansi pemerintah dan swasta, menjadi pendidik profesional, entrepreneur (wirausahawan), dai (pendakwah) yang handal, mendirikan perusahaan konsultan pendidikan, bimbingan belajar dan berbagai jenis kegiatan dalam lapangan kehidupan sosial, budaya, agama dan politik.

Semoga spirit Idul Adha, kita bisa wariskan kepada generasi muda untuk semakin memacu diri menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya di masa muda khususnya ilmu-ilmu keislaman di Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.


Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi

Kepala Humas UIC: Syahiruddin, HP: 0852-4177-5588
Staf Rektorat UIC, Muslikhun, HP: 0856-4153-2499
Kepala Rektorat UIC, Siti Amina Amohuru (Ici) HP: 0822-1480-4277

Tertarik menjadi mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta? Berikut Infonya

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Tawuran di DKI: Penyebab Utamanya Pengangguran dan KemiskinanDKI Asri Tanpa Polusi Bersama Agroteknologi Universitas Ibnu Chaldun