Musni Umar Socmed

Search

74 Tahun Merdeka: Jadikan Rakyat Indonesia Merdeka di Bidang Ekonomi, Dimulai Dari Pendidikan Anak Bangsa
warga dki jakarta di berbagai rw punya cara seru rayakan hari ulang tahun (hut) ke-74 kemerdekaan indonesia yakni dengan mengadakan upacara kemerdekaan dan perayaan detik-detik proklamasi - twitter DKIJakarta

Pendidikan

RI 74 Tahun Merdeka: Jadikan Rakyat Indonesia Merdeka di Bidang Ekonomi, Dimulai Dari Pendidikan Anak Bangsa

Mayoritas bangsa Indonesia belum bebas dari penjajahan dalam bidang ekonomi. Salah satu petunjuk yang Allah berikan kepada manusia, ialah pentingnya pendidikan. Realitas yang dialami, 32 tahun pembangunan ekonomi di masa Orde Baru dan 20 tahun di masa Orde Reformasi, mayoritas rakyat tidak banyak berubah nasibnya, tetap miskin. Sebagai sosiolog, saya merasa yakin untuk mengakhiri kemiskinan dan keterbelakangan rakyat hanya melalui pendidikan. RI 74 Tahun Merdeka: Jadikan Rakyat Indonesia Merdeka di Bidang Ekonomi, Dimulai Dari Pendidikan Anak Bangsa.

Hari ini 17 Agustus 2019 seluruh bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-74 tahun.

Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan, Hari ini Universitas Ibnu Chaldun yang saya pimpin, menggelar apel bendera yang diikuti pimpinan yayasan, pimpinan universitas dan fakultas, serta karyawan dan mahasiswa penerima bidik misi.

Selain itu, saya menurunkan sebuah tulisan yang diberi judul “RI 74 Tahun Merdeka: Jadikan Rakyat Indonesia Merdeka di Bidang Ekonomi, Dimulai Dari Pendidikan Anak Bangsa”

Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
1. bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri
2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan
3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa

Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa mayoritas bangsa Indonesia belum bebas dari penjajahan dalam bidang ekonomi.


Mayoritas Belum Merdeka

Rizal Ramli, ekonom senior Indonesia yang pernah menjadi menteri di era Abdurrahman Wahid dan Jokowi pernah mengatakan bahwa mayoritas masyarakat belum merasakan arti kemerdekaan. Dia menyebut, sampai saat ini baru 20 persen rakyat Indonesia yang berada di kelas menengah atas. Mereka sudah bisa merasakan nikmatnya memiliki rumah, pendidikan, makan dan berlibur.

“Tapi 80 persen rakyat kita yang paling bawah belum merasakan arti kemerdekaan, makan saja susah apalagi sekolahin anak.” (merdeka.com, Kamis, 8 Oktober 2015).

Pernyataan itu saya yakin bukan mengada-ada, tetapi faktanya seperti itu, rakyat Indonesia masih banyak yang miskin, yang bisa dimaknai belum merdeka.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut: Maret 2019, penduduk miskin Indonesia turun jadi 25,14 juta orang (kompas.com, 15/7/2019).

Jumlah penduduk miskin tergantung besar garis kemiskinan yang digunakan. BPS menetapkan garis kemiskinan Maret 2018 sebesar Rp 425.250 perkapita atau perbulan. Jika dibagi dengan 30 hari dalam sebulan, maka garis kemiskinan sebesar Rp 14.175 perkapita perhari.

Pertanyaannya, adakah yang bisa hidup dengan penghasilan sebesar Rp 14.175 perhari? Kalau kita naikkan garis kemiskinan menurut standar Bank Dunia 2 dolar Amerika Serikat perhari dengan kurs 14.300 berarti Rp 28.600 perkepala perhari, masih jauh dari cukup untuk hidup layak.

Maka, saya sependapat pernyataan Rizal Ramli, rakyat Indonesia yang benar-benar sudah merdeka di bidang ekonomi baru 20 persen. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa, maka yang benar-benar sudah merdeka baru sekitar 53 juta jiwa.


Jalan Keluar

Para ekonom selalu mengatakan bahwa untuk memajukan bangsa Indonesia dengan pembangunan ekonomi.

Realitas yang dialami, 32 tahun pembangunan ekonomi di masa Orde Baru dan 20 tahun di masa Orde Reformasi, mayoritas rakyat tidak banyak berubah nasibnya, tetap miskin.

Kalau demikian, berarti fokus pembangunan ekonomi bukan cara yang tepat untuk membawa kemajuan seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai sosiolog, saya merasa yakin untuk mengakhiri kemiskinan dan keterbelakangan rakyat hanya melalui pendidikan.

Penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim sejatinya telah dipandu Alqur’an. Dalam surat Al Baqarah ayat (185) Allah menegaskan: Alqur’an adalah petunjuk bagi manusia. Pada surat yang sama ayat (2) Allah mengemukakan: Alqur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Salah satu petunjuk yang Allah berikan kepada manusia, ialah pentingnya pendidikan. Allah secara tekstual menurunkan ayat pertama yang berisi perintah membaca dengan kata “iqra.” Membaca adalah kunci membuka ilmu. Allah juga dalam ayat itu “yang mengajarkan menulis dengan pena.”

Menyadari hal itu, Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraannya dihadapan anggota parlemen Indonesia pada 16 Agustus 2019 menegaskan bahwa periode kedua kepemimpinannya akan memberi fokus pembangunan sumber daya manusia, yang tidak lain adalah pendidikan.

Semoga berhasil. Dirgahayu Republik Indonesia ke-74.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Kutipan

Butuh bahan berita/artikel/tulisan?

Diperbolehkan mengkutip sebagian isi dari tulisan ini tapi jangan lupa sebut sumber: arahjaya.com atau dikutip dari Musni Umar.

Diharapkan tulisan-tulisan di website ini bisa menginspirasi pembaca untuk selalu mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Youtube Musni Umar

Baca Juga

Pendidikan

Musni Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun mengingatkan kepada seluruh Sivitas Akademika Universitas Ibnu Chaldun bahwa UIC tahun 2021 genap 65 tahun. Ditengah bangsa Indonesia...

Covid-19

Dunia juga menghadapi ketidak-pastian dalam bidang ekonomi sehingga memberi pengaruh negatif kepada kehidupan sosial, pendidikan dan sebagainya.

Pendidikan

Mahasiswa (i) Universitas Ibnu Chaldun calon penerima beasiswa diundang ke UIC, disamping urusan akademik, untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan mendengarkan ceramah rektor Universitas...

Pendidikan

Musni Umar yang melantik Dr. Drs. Abbas Thaha, MBA., MM., BE sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ibnu Chaldun

Lainnya

Berdasarkan pengalaman pribadi, dan yang saya saksikan di masyarakat bahwa kunci kemajuan seluruh bangsa Indonesia bukan pembangunan ekonomi, tetapi pembangunan manusia. Pada saat terjadi...

Covid-19

Masa studi program S3 di Asia e University bisa diselesaikan selama 3 tahun.

Opini

Umur 75 tahun masih bisa dikatakan sebagai negara baru, karena sangat banyak masalah yang diwariskan penjajah sebagai PR (Pekerjaan Rumah).

Covid-19

Corona tidak hanya menyerang bangsa Indonesia, tetapi juga Finlandia. Akan tetapi, pemerintah bersama rakyat Finlandia, sukses memerangi corona.