Pelajaran Dari Papua Untuk Mengubah Arah dan Orientasi Pembangunan

 In Politik, Opini

Gubernur Papua Lukas Enembe dalam talk show di Mata Najwa ketika disinggung Trans Papua mengatakan bahwa orang Papua tak pernah lewat jalan yang dibangun, yang dibutuhkan di Papua adalah guru dan kehidupan. Inilah salah satu pelajaran dari Papua.

Pernyataan itu sangat menggugah karena sejatinya tujuan kita merdeka yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 antara lain ┬┤memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.┬┤

Dalam pelaksanaan pembangunan, sejak Orde Baru yang mengamalkan Trilogi Pembangunan yaitu pertumbuhan, stabilitas dan pemerataan, sampai di era Orde Reformasi tetap mengutamakan pertumbuhan ekonomi.


Pertumbuhan Dinikmati Elit

Pembangunan ekonomi diperlukan. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, yang digenjot adalah pembangunan infrastruktur berupa jalan, jembatan dan sebagainya.

Hasil pembangunan semacam itu, sudah terbukti bahwa yang paling banyak menikmati hasil pertumbuhan adalah para elit. Rakyat jelata seperti yang dikemukakan Gubernur Papua Lukas Enembe tidak menikmatinya.

Inilah ironi pembangunan, penguasa mengatakan, Jalan Trans Papua dibangun untuk memperlancar hubungan antara satu daerah dengan daerah lain, antara kota dan desa, antara pusat produksi dan konsumen, memperlancar arus perdagangan.

Sasaran dari pembangunan infrastruktur adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan tumbuhnya ekonomi diharapkan terjadi pemerataan.

Dalam realita, terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi yang menikmati pertumbuhan ekonomi hanya kelompok kecil yaitu pengusaha dan penguasa. Rakyat jelata tidak memperoleh manfaat nyata dari pembangunan dan bahkan tidak pernah melewati jalan yang dibangun. Inilah salah satu pelajaran dari Papua.


Pelajaran Dari Papua Untuk Mengubah Arah

Para bapak bangsa yang mendirikan negara ini (founding fathers) telah memberi panduan kepada yang memimpin negara ini supaya melaksanakan tujuan Indonesia merdeka diantaranya memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan banga.

Dua hal tersebut, masih jauh perwujudannya di Papua dan Indonesia. Mengapa ini terjadi? Bukan karena tidak dilakukan pembangunan kesejahteraan dan pembangunan pencerdasan bangsa, tetapi kedua hal tersebut tidak menjadi agenda utama dalam pembangunan.

Kasus di Papua yang dikemukakan Gubernur Lukas Enembe babwa masyarakat membutuhkan guru dan kehidupan, hendaknya menyadarkan Presiden Jokowi dan para menteri, sejatinya rakyat Papua dan rakyat Indonesia tidak terlalu membutuhkan Trans Papua, Trans Sumatera, Trans Sulawesi, Trans Jawa dan lain-lain, yang amat di perlukan adalah guru dan kehidupan. Mulailah dengan membangun sumber daya manusianya, dari para perempuan dan wanita di Papua.

Guru dan pengajar sangat di perlukan untuk mencerdaskan rakyat Papua dan rakyat Indonesia supaya pintar dan mampu bersaing di dalam dan luar negeri.

Sedang kehidupan, rakyat Papua dan rakyat Indonesia membutuhkan kesejahteraan. Untuk itu, pemerintah harus mewujudkan kesejahteraan umum dengan membangun sektor produksi di dalam negeri, sehingga tidak lagi mengimpor segala macam kebutuhan dalam negeri, tetapi mengekspor.

Pembangunan ekonomi semacam itu, akan menghadirkan lapangan kerja, ekonomi sektor riil bergerak, dan devisa tidak lari keluar negeri.

Kasus di Papua dan di berbagai daerah di Indonesia moga-moga menjadi pelajaran dan dapat ditemukan jalan keluarnya secara baik dan damai.

Semoga tulisan ini menjadi sumbangsih yang positif dalam upaya kita memecahkan masalah Papua dan Indonesia pada umumnya.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Beli Mobil Baru Wajarkah Ditengah Utang Negara Menggunung dan Rakyat Miskin?10 Mudarat Pindah Ibu Kota Baru Kalimantan dan 6 Manfaatnya