Mudarat Impor dan Nikmatnya Komisi Impor

 Kategori Dunia Usaha, Sosial

Salah satu masalah aktual yang ramai dibicarakan publik ialah perdagangan impor. Semua jenis barang diimpor. Mulai dari garam, daging, beras, gula dan kembang gula, belerang, kapur, barang tekstil, baja, mesin peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik, pupuk, bubur kayu, dan lain-lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti impor ialah pemasukan barang dan sebagainya dari luar negeri.

Barang-barang impor pada umumnya dapat diproduksi di dalam ini. Tidak masuk akal, Indonesia sudah merdeka 74 tahun, tidak bisa memproduksi kebutuhannya sendiri.

Masalah impor, terletak pada moralitas penguasa yang hobby mengimpor barang karena diduga keras dalam kegiatan impor barang ada komisi besar yang diraup penguasa di satu kementerian.

Arti komisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 1 sekelompok orang yang ditunjuk (diberi wewenang) oleh pemerintah, rapat dan sebagainya untuk menjalankan fungsi (tugas) tertentu. 2 imbalan (uang) atau persentase tertentu yang dibayarkan karena jasa yang diberikan dalam jual beli dan sebagainya.

Arti komisi yang kedua inilah yang terkait erat dengan perdagangan impor.


10 Mudarat Impor

Impor barang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih besar. Menurut saya, setidaknya 10 mudarat impor.

Pertama, hancurnya industri dalam negeri.

Kedua, hilangnya semangat nasionalisme untuk menjadi negara produsen dan spirit menggunakan produksi dalam negeri.

Ketiga, membanjirnya hasil pertanian negara asing di dalam negeri dan merananya para petani Indonesia.

Keempat, ketergantungan bangsa Indonesia kepada produk asing meningkat.

Kelima, secara tidak langsung terjadi penjajahan ekonomi terhadap bangsa Indonesia.

Keenam, devisa terkuras habis dan hilang kemandirian bangsa.

Ketujuh, tidak berbuka lapangan kerja karena barang-barang diproduksi di negara lain.

Kedelapan, produsen dalam negeri gulung tikar. Dampaknya pemutusan hubungan kerja merajalela dan kemiskinan meningkat.

Kesembilan, Indonesia dijadikan tempat menjual produk asing.

Kesepuluh, pengangguran merajalela, karena lebih menguntungkan menjual produk asing ketimbang mendirikan pabrik di dalam negeri yang akan membuka lapangan kerja baru.


Komisi Impor

Sudah menjadi pengetahuan publik, dibalik kebijakan impor terdapat komisi yang menggiurkan.

Ekonom Faisal Basri dalam acara Mandiri Investasi di Ritz Carlton mengatakan: “Mudah-mudahan Enggar nanti tidak dipilih lagi, atau dipecat dari sekarang. Dia buka impor gula, impor beras dan impor garam dapat triliunan dari tiga komoditi itu, lezat.” (detikfinance, Rabu, 13 Feb 2019).

Oleh karena itu, impor barang dari luar negeri sangat banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Manfaat yang besar hanya dinikmati penguasa dan pengusaha yang menjadi importir.

Jika tidak salah mereka adalah pemain lama, yang sejak Orde Baru menikmati rente ekonomi, yang membuat mereka sangat kaya, dan mampu membeli penguasa dan suara rakyat dalam Pemilu.

Moga-moga tulisan ini menjadi masukan bagi pengambil kebijakan untuk menata kembali impor kebutuhan dalam negeri.

Selamat membaca.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recent Posts

Start typing and press Enter to search

Beli Mobil Baru Wajarkah Ditengah Utang Negara Menggunung dan Rakyat Miskin?10 Mudarat Pindah Ibu Kota Baru Kalimantan dan 6 Manfaatnya