Napak Tilas Mengenang Masa Kecil Melintasi Laut ke Kampung Halaman

 In Wisata, Lainnya

Pada 13-15 September 2019, saya dengan isteri ke Kendari Sulawesi Tenggara untuk menghadiri acara keluarga yaitu acara tunangan Rizki Berlian Pagala dan Ines Amalia Amanda yang dihadiri Walikota Kendari dan isteri serta Bupati Konawe dan isteri serta keluarga dari pihak perempuan dan laki-laki.

Pada kesempatan mudik di kampung halaman, saya mengajak isteri napak tilas untuk mengenang masa kecil dengan naik speed boat.

Kampung Halaman

Saya menghabiskan masa kecil di desa Toli-Toli, pesisir pantai Kabupaten Kendari (sekarang kab. konawe). Melalui darat dari kota Kendari, ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ke desa tersebut sekitar 17 km.

Di desa itu pernah bermukim seorang ulama yang bernama Sheikh Muhammad Attamimi, dari Kesultanan Tidore Maluku Utara. Beliau menikah dengan keluarga kami dan mengajarkan agama, sehingga wafat di desa itu.

Berkat pengajaran Sheikh Muhammad Attamimi, desa Toli-Toli dan sekitarnya terkenal sejak dahulu masyarakatnya taat beragama dan banyak melahrkan para ustaz.

Untuk melestarikan tradisi keagamaan di desa itu, pada masa saya menjadi anggota DPR RI diawal reformasi, saya mendirikan Pondok Pesantren Hubbul Wathan yang menaungi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah sampai saat ini.

Pada masa dahulu sebelum jalan raya dibuka, untuk ke kota Kendari harus jalan kaki melintasi gunung atau naik perahu dengan mendayung serta menggunakan perahu layar.

Kenang Masa Kecil lintasi Laut

Dalam rangka mengenang masa kecil, saya ajak isteri yang tidak pernah mengenal desa dan laut karena lahir dan besar di Jalan Melawai Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kami dari tempat keramba ikan milik M. Kasim Pagala, desa Tapulaga, diluar teluk Kendari, kami menaiki speed boat yang memuat 5 (lima) orang yaitu Pak Kasim dan temannya serta pengemudi, membawa kami ke kampung halaman untuk berziarah ke kubur kedua orang tua.

Selama ini, kami selalu naik mobil ke kampung halaman untuk ziarah kubur dan melihat pondok pesantren yang dibangun pada awal reformasi, yang relatif dekat dengan kota Kendari.

Kali ini melalui laut untuk sampai di kampung halaman dengan speed boat menempuh perjalanan sekitar 20 menit.

Saya mengenang masa kecil, ketika mau masuk SMP, bapak saya bernama Umar membawa saya ke kota Kendari naik perahu kecil dengan mendayung dan pakai layar yang memakan waktu sehari penuh, bahkan lebih jika sedang cuaca buruk.

Masa kecil dengan segala suka dan dukanya, terasa indah dan amat berkesan, jika dikenang saat ini. Keindahan itu patut disyukuri dengan selalu mendoakan kedua orang tua serta selalu menyempatkan berziarah ke makam keduanya karena berkat jasa, pembinaan dan perjuangan keduanya, bisa meraih kesuksesan sebagai akademisi.

Isteri saya yang tidak pernah mengalami seperti yang saya alami, juga merasa senang dan bahagia karena bisa melintasi lautan lepas yang tidak pernah dialaminya. Tentu dia membayangkan betapa tidak mudah mengubah nasih jika tidak ada perjuangan yang keras dan pertolongan Allah.

Napak tilas membawa kesyukuran kepada Allah yang tidak henti-hentinya dan kepada kedua orang tua, yang insya Allah diwujudkan dengan meningkatkan pengabdian kepada pencerdasan bangsa sebagai kunci memajukan umat, bangsa dan negara.

Berikut foto-foto kegiatan dan wisata di Sulawesi Tenggara

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Tuhan Turunkan Tokoh Seperti BJ Habibie di Bumi IndonesiaKota Kendari Maju Kotanya, Maju UMKM Dan Banyak Universitas Berkualitas