Demo Berlanjut: DPR Menabur Angin Badai Untuk Jokowi

 In Politik, Opini, Sosial

Saya memulai tulisan ini dengan mengemukakan pernyataan Soe Hok Gie, Aktivis Indonesia Tionghoa 1942-1969
“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

Saya juga sampaikan pandangan sebagai aktivis mahasiswa 77-78 bahwa “Dalam negara demokrasi, demonstrasi merupakan salah satu cara yang sah secara hukum untuk menyampaikan pendapat dan pikiran, tetapi dalam menyampaikan pendapat dan pikiran harus secara baik dan damai.”

Selama hampir lima tahun Jokowi-JK memimpin Indonesia, tidak ada demonstrasi yang berskala besar seperti akhir-akhir ini.

Ada demo 411 dan 212 yang memiliki skala besar, tetapi pemicunya adalah pernyataan Ahok tentang surat Al Maidah ayat 51. Kemudian publik marah dan melakukan demonstrasi yang menuntut Ahok diseret di meja hijau dan akhirnya masuk penjara.

Akan tetapi demo besar yang terjadi di akhir masa bakti DPR RI 2014-2019 dan akhir masa bakti Jokowi-JK sangat mengkhawatirkan, karena bersifat masif dan para pendemonya adalah para mahasiswa dan pelajar serta mereka yang pernah terlibat dalam aksi 411 dan 212.

Sasaran akhir demo ini patut diduga adalah Presiden Jokowi.


DPR Menabur Angin

Mayoritas mahasiswa sudah lama diam. Mereka sibuk kuliah dan setelah selesai kuliah, cari pekerjaan dan cari jodoh (menikah).

Tidak dinyana atau diduga, mahasiswa merespon isu pelemahan KPK melalui revisi UU KPK dan isu RUU KUHP, dan isu-isu lain seperti RUU PKS, RUU Agraria, RUU Lembaga Pemasyarakatan. Kaum muda Indonesia merespon isu-isu tersebut dengan turun ke jalan dalam jumlah yang besar untuk berdemonstrasi.

Tanpa diduga, ribuan pelajar menyusul kakak-kakaknya dan masyarakat luas khususnya yang pernah demo dalam aksi 411 dan 212 ikut turun di jalan untuk melakukan demonstrasi.

Pemicu mahasiswa, pelajar dan eksponen 411 dan 212 turun ke jalanan karena ulah teman-teman anggota DPR RI sebelum mengakhiri masa bakti mereka 30 September 2019, bersama utusan pemerintah membahas secara kilat berbagai RUU yang ditengarai mencederai hak-hak demokrasi rakyat, merugikan rakyat dan terkesan melindungi para koruptor dan pemodal.

Salah satu tuntutan mahasiswa, menolak revisi UU KPK sudah dilakukan revisi oleh para anggota DPR bersama pemerintah dan sudah disahkan. Hasilnya seperti yang diduga publik, terbukti melemahkan KPK.

Menurut saya, revisi UU KPK dan berbagai RUU yang disebutkan di atas, merupakan jebakan maut. Tanpa disadari, para anggota DPR RI dan Menteri yang mewakili Presiden Jokowi, telah menabur angin. Jika gejolak yang tengah terjadi tidak bisa dikelola dengan baik, maka Presiden Jokowi dan pemerintahannya akan menuai badai.

Kita berdoa semoga tidak terjadi badai. Kita berharap bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia selamat dan segera ditemukan solusi damai melalui dialog.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Jokowi Hadapi Tiga Masalah Besar: Demo Mahasiswa, Karhutla dan PapuaDemokrasi Kita: Memasung Kebebasan dan Melakukan Represif