Musni Umar Socmed

Search

Jokowi Komitmen Berantas Korupsi, Rintangannya Berat dan Banyak
Dialog Generasi Mecin yang bertema "Komitmen Pemberantasan Korupsi di Periode Kedua Jokowi" yang dilaksanakan atas kerjasama Jak TV dengan Universitas Ibnu Chaldun di Aula Prof Dr Bahder Djohan Universitas Ibnu Chaldun Jakarta (31/10/2019)

Opini

Jokowi Komitmen Berantas Korupsi, Rintangannya Berat dan Banyak

Musni Umar dalam dialog Generasi Mecin yang bertema “Komitmen Pemberantasan Korupsi di Periode Kedua Jokowi” yang dilaksanakan atas kerjasama Jak TV dengan Universitas Ibnu Chaldun di Aula Prof Dr Bahder Djohan Universitas Ibnu Chaldun Jakarta (31/10/2019).

Musni Umar, Sosiolog yang juga rektor Univ. Ibnu Chaldun Jakarta mengatakan bahwa Presiden Jokowi memiliki komitmen untuk memberantas korupsi di Indonesia, tetapi selama 21 tahun Indonesia di era Orde Reformasi, pemerintah yang sudah silih berganti belum berhasil memberantas korupsi. Padahal isu sentral yang digulirkan untuk menjatuhkan (melengserkan) Presiden Soeharto adalah isu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Hal tersebut kemukakan Musni Umar dalam dialog Generasi Mecin yang bertema “Komitmen Pemberantasan Korupsi di Periode Kedua Jokowi” yang dilaksanakan atas kerjasama Jak TV dengan Universitas Ibnu Chaldun di Aula Prof Dr Bahder Djohan Universitas Ibnu Chaldun Jakarta (31/10/2019).

Komitmen Berantas Korupsi dan Rintangan

Setidaknya ada tiga rintangan dan tantangan besar yang dihadapi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pertama, faktor budaya. Sejak zaman penjajahan Belanda sudah ramai dipraktikkan budaya upeti. Pegawai bawahan memberi upeti kepada atasan agar mendapat kedudukan atau kedudukan yang disandang tetap (tidak diberikan kepada pihak lain).

Di era Orde Baru dan Orde Reformasi, para pengusaha memberi upeti kepada para penguasa di pusat dan daerah atau calon penguasa. Tujuan antara lain:
1) sebagai balas jasa atas izin atau proyek yang diberikan penguasa kepada pengusaha atau calon penguasa.
2) sebagai kontribusi kepada calon penguasa. Kalau terpilih dalam Pemilu, penguasa akan ingat jasa baik sang pengusaha.

Kedua, faktor sistem. Sistem ekonomi yang dibangun sejak Orde Baru dengan menggunakan teori “trickle down effect” telah melahirkan sekelompok kecil yang sangat kaya. Dampak negatif dari itu, hadir ketidak-adilan hukum, politik, sosial dan sebagainya.

Mengapa? Setidaknya ada dua sebabnya.
1) Penguasa politik dan pemilik modal berkolaborasi dalam membangun ekonomi. Mereka saling melindungi. Pemilik modal mendapat perlindungan dari penguasa politik, sehingga hukum tidak bisa ditegakkan secara baik dan adil.
2) Kolusi penguasa dan pemodal. Pemodal mendukung pendanaan para pemimpin di pusat dan daerah, sehingga sering terjadi OTT korupsi yang melibatkan pengusaha. Termasuk para pemodal mendukung calon pemimpin eksekutif dan legislatif dalam Pemilu.

Di masa depan, sistem yang dibangun, harus newujudkan keadilan bagi semua. Segala hambatan dalam mencegah dan menghentikan korupsi harus dilakukan.

Ketiga, faktor manusia. Dalam masyarakat Indonesia sekurang-kurangnya terdiri dua golongan yaitu wong gedhe dan Wong cilik. Kedua golongan ini sudah hampir semuanya melakukan korupsi. Wong gedhe melakukan korupsi karena serakah (corruption by greed) dan politisi (Bupati, Walikota, Gubernur) melakukan korupsi karena kepentingan politik yang saya sebut corruption by political interest.

Akhiri Korupsi

Untuk mengakhiri korupsi, diperlukan pembangunan budaya jujur dan benar dan mengakhiri budaya upeti.

Selain itu, membangun sistem ekonomi, hukum, politik dan sosial yang menghadirkan keadilan bagi semua. Oleh karena, merupakan kenyataan bahwa hukum sulit ditegakkan jika keadilan ekonomi tidak hadir ditengah masyarakat.

Terakhir, dalam rangka pemberantasan korupsi supaya pembangunan manusia dijadikan arus utama dalam pembangunan dengan menanamkan kepada setiap orang pentingnya mengamalkan kejujuran, kebenaran dan keadilan. Disamping itu, para pemimpin di semua tingkatan agar memberi contoh teladan tentang kejujuran, kebenaran dan keadilan, hidup bersih dan tidak korupsi.

Berikut foto-foto kegiatan

Kutipan

Butuh bahan berita/artikel/tulisan?

Diperbolehkan mengkutip sebagian isi dari tulisan ini tapi jangan lupa sebut sumber: arahjaya.com atau dikutip dari Musni Umar.

Diharapkan tulisan-tulisan di website ini bisa menginspirasi pembaca untuk selalu mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Youtube Musni Umar

Baca Juga

Pendidikan

Seminar internasional bertajuk Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid untuk memperingati 65 Tahun Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Pendidikan

Ekonomi rakyat atau juga dikenal dengan istilah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) merupakan sektor usaha yang paling terpuruk di era pandemi Covid-19. Hal tersebut...

Pendidikan

Seminar internasional Universitas Ibnu Chaldun yang bertema "Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid" pada 11 Februari 2021.

Covid-19

Saya kemukakan tahun 2020 merupakan tahun kesedihan karena hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia terpuruk ditengah ancaman corona.

Pendidikan

Diskusi virtual dengan Dr. Sheikh Mas'oud, Cendekiawan Muslim Arab Saudi serta Sheikh Hilal Bahri dan Sheikh Marhum keduanya pengusaha, yang dipandu Hartono Subirto.

Covid-19

Program Studi Perbankan Syariah Universitas Ibnu Chaldun Jakarta pada 12 Desember 2020 telah menyelenggarakan Webinar dengan tema "Peran Perbankan Syariah Dalam Membantu UMKM Dimasa...

Lainnya

Hari ini 9 Desember 2020 adalah Hari Antikorupsi Sedunia. Selain itu, tgl 8 Desember 2020 terjadi penembakan 6 laskar FPI yang mengawal Imam Besar...

Pendidikan

Pada 4 dan 6 Desember 2020, selaku rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC), saya diminta memberi sambutan sekaligus membuka webinar nasional UIC yang pertama bertema...