Partai Nasdem Versus Partai Golkar dan PKS Versus Partai Gelora

 In Politik, Top

Partai Nasional Demokrat yang populer dengan akronim Partai Nasdem, didirikan Surya Paloh pada 26 Juli 2011 di Jakarta.

Partai ini ikut pemilihan umum tahun 2014 dengan perolehan kursi di DPR RI sebanyak 35.

Hasil Pemilu 2014
1. PDIP = 109 kursi
2. P. Golkar = 91 kursi
3. P. Gerindra = 73 kursi
4. P. Demokrat = 61 kursi
5. PAN. = 49 kursi
6. PKB. = 47 kursi
7. PKS. = 40 kursi
8. PPP. = 39 kursi
9. P. Nasdem. = 35 kursi
10. Hanura. = 16 kursi

Hasil Pemilu 2019
1. PDIP. = 128 kursi
2. P. Golkar. = 85 kursi
3. P. Gerindra. = 78 kursi
4. P. Nasdem. = 59 kursi
5. PKB. = 58 kursi
6. P. Demokrat. = 54 kursi
6. PKS. = 50 kursi
7. PAN. = 44 kursi
8. PPP. = 19 kursi

Partai Nasdem sejatinya didirikan oleh elit Partai Golkar. Sebelum Surya Paloh mendirikan Partai Nasdem, Pak Surya merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar.

Jika melihat hasil pemilu legislatif 2014, Partai Nasdem yang baru pertama kali ikut pemilu, langsung memperoleh kursi parlemen yang cukup besar yaitu sebanyak 35 kursi. Pada pemilu 2019, Partai Nasdem meraih kursi di DPR RI yang cukup besar sebanyak 59 kursi.

Sebagai perbandingan, Partai Golkar yang pernah dibesut Pak Surya sebagai Ketua Dewan Pembina, pada pemilu 2009 memperoleh kursi di DPR RI sebanyak 107 kursi. Pada pemilu 2014 mengalami penurunan menjadi 91 kursi dan pada pemilu 2019 mengalami penurunan lagi menjadi kursi 85 kursi.

Sementara itu, Partai Nasdem dalam dua kali pemilu mengalami peningkatan perolehan kursi di DPR RI secara signifikan dari 35 kursi pada pemilu 2014 menjadi 59 kursi pemilu 2019.

PKS Versus Partai Gelora

Partai Keadilan Sejahtera dengan akronim PKS mengalami nasib yang hampir sama dengan Partai Golkar sebagaimana dikemukakan di atas.

Bedanya dengan Partai Golkar, yang mendirikan Partai Gelora adalah mereka yang terlibat mendirikan Partai Keadilan yang kemudian Partai Keadilan bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yaitu Anies Matta, Fahri Hamzah dan Mahfudz Sidiq. Selain itu, Ketua Umum Partai Gelora adalah mantan Sektetaris Jenderal dan mantan Presiden PKS.

Pertanyaannya, apakah nasib Partai Gelora yang didirikan Anis Matta, Fahri Hamzah dan lain-lain akan mengalami nasib seperti Partai Nasdem? Atau akan mengalami nasib seperti Partai Berkarya yang didirikan Tommy Soeharto yang mencoba mengambil segmen pasar Partai Golongan Karya dengan membuat warna baju hampir sama baju Golkar dan merekrut mantan petinggi Partai Golkar seperti Priyo Budi Santoso dan Titiek Soeharto.

Menurut saya, PKS akan tetap survive sebagaimana Partai Golkar. Sedangkan Partai Gelora, saya memperkirakan, jika ikut pemilu 2024, akan memperoleh suara yang lumayan.

Setidaknya ada enam alasan yang mendasari, Partai Gelora akan memperoleh dukungan suara pada pemilu 2024.

Pertama, para pimpinan Partai Gelora sudah mempunyai pengalaman yang panjang dalam mengelola dan memimpin partai politik.

Kedua, Anis Matta dan Fahri Hamzah yang menjabat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Partai Gelora sudah dikenal publik secara luas termasuk media.

Ketiga, petinggi Partai Gelora sudah memiliki jaringan yang luas di berbagai daerah di seluruh Indonesia, sehingga mudah mendirikan dewan perwakilan wilayah (DPW) dan dewan perwakilan daerah (DPD) kota dan kabupaten.

Keempat, Anis Matta, Fahri Hamzah dan kawan-kawan sangat cerdas menggunakan media sosial untuk mempromosikan Partai Gelora. Buktinya Partai Gelora segera dikenal secara luas di masyarakat Indonesia.

Kelima, Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelora memiliki kemampuan berorganisasi yang tinggi dan orator yang ulung, sehingga bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia.

Keenam, banyak rakyat yang tidak puas terhadap partai politik. Partai Gelora bisa menggait masyarakat yang tidak puas terhadap partai-partai politik.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

PPP dan Penyelamatannya di Masa Depan