PAN: Sadarlah Berubahlah dan Bangkitlah Dari Keterpurukan

 Di Politik, Opini

Partai Amanat Nasional dengan akronim PAN merupakan partai politik yang didirikan M. Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah dan kawan-kawan pada awal reformasi.

Partai politik ini sempat menghantarkan M. Amien Rais menjadi Ketua MPR RI pada awal reformasi. Melalui kepemimpinan M. Amien Rais, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melaksanakan amandemen UUD 1945 sebanyak 4 (empat) kali.

Kurang satu bulan sebelum pemilu serentak 17 April 2019, tepatnya 21 Maret 2019, Litbang Kompas merilis hasil surveinya yang menyebut PAN termasuk salah satu partai politik yang terhempas dari Senayan karena elektabilitasnya hanya 2,9%.

Untuk merespon hasil survei Litbang Kompas sebelumnya yang juga merilisis hasil elektabilitas partai politik menjelang pemilu 17 April 2019, saya menulis artikel di arahjaya.com dengan tajuk “Muhammadiyah dan warganya Selamatkan PAN.”

Tulisan saya itu kemudian disebarluaskan ke warga Muhammadiyah dan masyarakat luas yang kemudian mendapat respon positif.


Hasil Pemilu 2019

Hasil pemilu legislatif (DPR) RI 2019 menempatkan Partai Amanat Nasional (PAN) nomor dua dari terakhir setelah PPP.

Sebagai pengingat kembali (reminder), berikut ini di kemukakan perolehan suara (%) dan kursi Pemilu Legislatif (DPR) RI tahun 2014:

1. PDIP. 18,95% / 109
2. Golkar. 14,75% / 91
3. Gerindra. 11,81% / 73
4. Demokrat 10,19% / 61
5. PKB. 9,04% / 47
6. PAN. 7,59% / 49
7. PKS. 6,79% / 40
8. Nasdem. 6,72% / 35
9. PPP. 6,53% / 39
10.Hanura. 5,26% / 16

Hasil pemilu legislatif 2014, menempatkan PAN pada posisi tengah nomor 6 perolehan suara terbanyak. Akan tetapi, PAN mengalahkan PKB dalam perolehan kursi di DPR RI. PAN meraih 49 kursi sedang PKB meraih 47 kursi.

Hasil pemilu 2014, PAN meraih posisi Ketua MPR RI dan Wakil Ketua DPR RI. Posisi penting yang diraih PAN hasil pemilu 2014 gagal didayagunakan untuk meningkatkan perolehan suara dan kursi di DPR RI pada pemilu 2019, malah melorot dan nyaris terhempas dari Senayan karena elektabilitasnya rendah hanya 2,9% satu bulan sebelum pemilu.

Hasil pemilu legislatif (DPR) RI 2019 menempatkan Partai Amanat Nasional (PAN) pada posisi yang memprihatinkan karena menempati nomor dua dari terakhir setelah PPP.

Sebagai gambaran, ditampilkan hasil perolehan suara (%) dan kursi di DPR RI hasil pemilu legislatif 2019:

1. PDIP. 19,33% / 128
2. Gerindra. 12,57% / 78
3. Golkar. 12,33% / 85
4. PKB. 9,69% / 58
5. Nasdem. 9,05% / 59
6. PKS. 8,21% / 50
7. Demokrat 7,77% / 54
8. PAN. 6,84% / 44
9. PPP. 4,52% / 19


Ketua umum PAN

Hasil pemilu 2019 menjadi potret nyata bahwa PAN mengalami keterpurukan.

Sebagaimana dikemukakan di atas, satu bulan sebelum pemilu 2019, elektabilitas PAN hanya 2,9%. Prof Din Syamsuddin menyerukan supaya menyelamatkan PAN dan saya menulis artikel untuk mendukung dan menyelamatkan PAN.

Alhamdulillah berkat dukungan masyarakat terutama warga Muhammadiyah, PAN lolos dari parlementary threshold dengan peningkatan dukungan suara pemilih sebesar 6,84%.

Walaupun begitu, jumlah perolehan suara PAN dapat dikatakan terpuruk. Sebagai bukti keterpurukan PAN, di seluruh Jawa Tengah, pada pemilu 2014, PAN memperoleh 8 kursi untuk DPR RI.

Akan tetapi pada pemilu 2019, satu kursipun PAN tidak memperoleh di Jawa Tengah. Ini adalah kegagalan nyata pengurus PAN. Mengapa ini terjadi? Salah satu sebabnya karena uang saksi yang dijanjikan sebesar Rp 100.000/orang tidak direalisasikan sesuai janji yang disampaikan.

Oleh karena itu, sebagai akademisi yang ikut menulis dan mendorong supaya rakyat memilih PAN pada pemilu 2019, saya mendukung amanat M. Amien Rais, ketua kehormatan PAN, juga sebagai penggagas dan pendiri PAN supaya ketua umum PAN hanya satu priode kecuali kalau ada kesuksesan yang luar biasa dalam memimpin PAN.


Jaga Marwah PAN

Salah satu penyakit kronis pengurus partai politik di Indonesia adalah politik uang.

Untuk meraih ketua umum di semua tingkatan (DPP, DPW dan DPC) dilakukan politik uang. Saya mendesak PAN yang lahir di era reformasi untuk mengoreksi berbagai kesalahan, kekurangan dan kelemahan partai politik dalam pemilihan umum supaya tidak menyogok dan menerima sogokan dalam pemilihan ketua umum PAN di semua tingkatan.

Kalau main uang (money politic) dalam pemilihan ketua umum, maka legitimasi PAN akan hancur di mata publik. Pemilih PAN mayoritas dari kalangan kelas menengah yang berpendidikan. Mereka mudah pindah memilih partai lain jika PAN dianggap sama saja dengan partai lain seperti melakukan politik uang, korupsi dan tidak bisa dipercaya.

Oleh karena itu, dalam memilih ketua umum PAN, pilihlah kader terbaik yang bersih dari korupsi. Kalau pilih ketua umum yang punya kelemahan di masa lalu, maka PAN dengan mudah akan dikebiri dan dihancurkan dari dalam.

PAN sudah diluar kekuasaan, gunakan para kader di parlemen di semua tingkatan untuk membela rakyat yang terpuruk mengkritisi pemerintah yang tidak memihak rakyat. Akan tetapi dalam mengeritik pemerintah, berikan solusi.

Supaya dalam mengeritik sampai pesannya kepada pemerintah dan diketahui masyarakat luas, maka gunakan media sosial (twitter, facebook, instagram, youtube) dan lain sebagainya secara maksimal.

Semoga tulisan ini memberi penyadaran dan pencerahan kepada seluruh pengurus PAN di semua tingkatan, kader dan anggota PAN untuk sadar, berubah dan bangkit dari keterpurukan.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Wujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat dan MandiriPeringatan Hari Anti Korupsi Sedunia di Indonesia Tidak Semarak