Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 6,5% Asalkan Tinggalkan IMF dan World Bank

 Di Pendidikan

Ekonom Senior Rizal Ramli dalam orasi ilmiahnya dihadapan Civitas Akademika Universitas Ibnu Chaldun yang menyelenggarakan wisuda sarjana ke-63 mengatakan bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6,5% tahun 2020 asalkan meninggalkan resep IMF dan Bank Dunia serta mengelola ekonomi dengan menggunakan strategi out of the box.

Akan tetapi sangat sulit keluar dari paradigma lama dalam membangun ekonomi Indonesia. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 akan nyungsep 4,5%.

Kemajuan Indonesia

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian RI di era Presiden Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa Indonesia harus diakui telah mengalami kemajuan dengan income per kapita US$3.500. Menurut BPS pendapatan per kapita Indonesia telah meningkat menjadi US$ 3.927 atau sekitar Rp 56 juta per kapita pertahun.

Akan tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti China, Thailand, Malaysia, Indonesia sudah jauh tertinggal dalam berbagai bidang.

Income per kapita China diproyeksikan tahun 2020 sekitar US$ 9.200. Padahal menurut Rizal Ramli, pada saat mulai membangun sekitar tahun 60-an, Indonesia lebih maju ketimbang China. Saat ini China telah menjadi negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia.

Demikian juga halnya dengan Thailand, tahun 2018 in come per kapita telah melaju mencapai US$ 7.448. Sedang Malaysia income per kapita US$ 11.072.

Rizal Ramli menegaskan, kita sudah sangat jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara lain, bahkan dengan Vietnam Indonesia sudah disalip jauh.

Khawatir Terjadi Krisis

Rizal Ramli mengemukakan kekhawatiran besarnya defisit anggaran, defisit transaksi berjalan, besarnya utang Indonesia dan banyaknya masalah yang dihadapi seperti kasus Jiwasraya, hanya diributin, tapi tidak dipecahkan masalahnya. Masalah-masalah tersebut telah menimbulkan distrust (ketidak-percayaan) publik, dan bisa menjadi pemicu terjadinya krisis di Indonesia.

Menanggapi orasi ilmiah Dr. Rizal Ramli, Musni Umar, yang merupakan sosiolog dan juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun mengemukakan pentingnya pemerintah mengantisipasi agar tidak terjadi krisis ekonomi, misalnya mengurangi defisit anggaran dengan melakukan penghematan besar-besaran seperti melarang para pejabat melakukan perjalanan keluar negeri, membubarkan berbagai lembaga negara yang menghabiskan anggaran dan sebagainya.

Selain itu, berhenti berutang, melakukan negosiasi ulang terhadap utang dan meminta pemotongan utang. Disamping itu, mendorong rakyat untuk berproduksi komoditi yang bisa di ekspor, berhenti impor barang yang bisa diperoleh atau diproduksi dalam negeri.

Pemerintah harus bekerja keras mewujudkan visi dan misi Jokowi-Ma’ruf, mengajak rakyat bersatu dan berhenti melemparkan isu yang semakin menambah kisruh di masyarakat seperti isu radikalisme, terorisme, intoleransi dan lain sebagainya.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search