Refleksi Sosial 2019: Tragedi Sosial

 In Lainnya, Opini, Sosial, Top

Tahun 2019 akan segera kita tinggalkan. Sebagai sosiolog, yang banyak mengamati dan menulis nasalah sosial, saya ingin mengemukakan refleksi sosial yang paling menonjol dalam mengakhiri tahun 2019.

Tahun 2019, Indonesia melaksanakan hajatan besar yaitu pemilu seretak 17 April 2019. Pemilu ini dilaksanakan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta memilih anggota DPR RI, anggota DPD RI dan memilih anggota DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten dan DPRD Kota.

Pemilu yang banyak menyita perhatian publik ialah pemilu Presiden (Pilpres). Pasalnya yang bertarung dalam pemilihan umum Presiden hanya dua pasang calon yaitu pasangan Ir. H. Joko Widodo – Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin melawan pasangan H. Prabowo Subianto – H. Sandiaga Salahuddin Uno.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pemenang Pemilu Presiden ialah pasangan Ir. H. Joko Widodo – Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin.

Tragedi Sosial

Pemilu serentak 17 April 2019 telah menghadirkan setidaknya tiga tragedi sosial.

Pertama, perpecahan sosial yang sangat tajam antara pendukung Prabowo-Sandi dengan pendukung Jokowi-Ma’ruf dalam pemilu yang sampai saat ini masih belum pulih.

Kedua, petugas pemilu yang sangat yang meninggal. Ada media yang memberitakan, jumlah semuanya yang meninggal mencapai sekitar 700 orang. Mereka tidak di visum sehingga tidak diketahui secara pasti pentebab mereka meninggal.

Ketiga, mereka yang meninggal dan cedera karena melakukan protes sosial terhadap dugaan pemilu yang sarat dengan kecurangan.

Selain tragedi sosial akibat pemilu, terjadi pula tragedi sosial yang mengerikan dalam kerusuhan di Papua. Banyak sekali pendatang di Manokwari, dan Wamena mengalami pembantaian akibat kerusuhan massal. Banyak warga pendatang yang terbunuh dan terpaksa mengungsi.

Sebagai contoh, delapan perantau asal Sumatera Barat meninggal dunia saat terjadi kerusuhan massal di Wamena. Mereka dibantai oleh warga Papua. Jenazah mereka dipulangkan ke Sumatera Barat dan dikebumikan di Kabupaten Pesisir Selatan (BBC News Indonesia,26/9/2019).


Tragedi sosial yang paling menonjol di tahun 2019 merupakan kejahatan kemanusian yang tidak boleh ditolerir.

Semoga tahun 2020 tidak terjadi tragedi sosial. Oleh karena itu, kita harus berjuang bersama mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab yang merupakan sila kedua dari Pancasila, sehingga tragedi sosial tidak terulang di Indonesia pada masa mendatang.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search