Proyeksi Sosial 2020: Tantangan dan Harapan

 Di Opini, Sosial, Top

Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun 2020. Sehubungan itu, saya menyampaikan pandangan yang saya beri judul “Proyeksi Sosial 2020: Tantangan dan Harapan.”

Tahun 2020 bukanlah tahun yang mudah. Setidaknya ada lima alasan, 2020 tahun yang tidak mudah dan penuh tantangan.

Pertama, defisit anggaran Indonesia sangat besar. Defisit tersebut ditutup dengan utang baru yang lebih besar. Ini tentu tidak sehat sebab lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. Kata pepatah “besar pasak daripada tiang.”

Kedua, utang Indonesia sudah sangat besar. Menurut Bank Indonesia (BI) utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 393,5 milyar atau setara Rp 5.553,5 triliun perakhir Agustus 2019 (CNBC Indonesia, 15 Oktober 2019). Dampak sosialnya, APBN sejatinya untuk membangun guna mensejahterakan rakyat tapi dalam realitasnya, terpaksa dana APBN dialokasikan untuk membayar cicilan utang berikut bunga.

Ketiga, tren kemunduran ekonomi yang ditandai dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), yang berdampak meningkatnya pengangguran, melemahnya daya beli rakyat jelata, dan bertambahnya kemiskinan. Kalau selama ini Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi penurunan jumlah penduduk miskin, lebih banyak disebabkan karena batas garis kemiskinan sangat rendah hanya sekitar Rp13.000 per kapita perhari.

Keempat, tingginya impor barang untuk konsumsi seperti beras, gula, garam, gandum dan sebagainya. Dampak negatifnya mematikan produksi pangan dan produksi dalam negeri, yang tentu memukul para petani dan industri dalam negeri.

Kelima, perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, mengakibatkan terjadi ketidakpastian ekonomi dan kemunduran ekonomi dunia.

Kombinasi persoalan dalam negeri Indonesia dengan ekonomi global yang tidak menentu, akan memberi tantangan sosial yang sangat berat tahun 2020.

Jika tidak antisipatif dan berusaha memelihara, merawat dan mempertahankan persatuan sesama anak bangsa, maka tidak tertutup kemungkinan terjadi gejolak sosial.

Harapan 2020

Potensi terjadi krisis sosial sebagai akibat dari masalah ekonomi, sangat mungkin terjadi, jika Presiden, Wapres dan para menteri tidak menyadari adanya masalah sehingga lengah dan lupa melakukan antisipatif dan kerja keras.

Untuk menghadapi dan antisipasi hal-hal yang kita tidak inginkan tahun 2020, pertama, sebaiknya kita galang terus-menerus persatuan dan kesatuan. Hindari ungkapan yang terkesan memojokkan siapapun seperti radikalisme, anti Panca Sila, intoleransi, terorisme dan lain sebagainya.

Kedua, wujudkan politik merangkul, politik membangun kebersamaan, politik membesarkan yang kecil dan tidak mengecilkan yang besar, saling menyintai dan saling mengasihani terhadap sesama.

Ketiga, tumbuhkan terus-menerus optimisme dan harapan baru bahwa harapan itu masih ada dan kita memiliki potensi besar untuk bangkit dan maju.

Keempat, sebaiknya Presiden, Wapres, para menteri dalam pernyataan di media selalu mengajak untuk mewujudkan visi Presiden Jokowi-Wapres Ma’ruf Amin yaitu “Terwujudnya Indonesia Maju, yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong.”

Kelima, saya mendesak untuk diamalkan 9 misi Presiden Jokowi – Wapres Ma’ruf Amin secara murni dan konsekuen terutama pemerataan dan keadilan, ekonomi kerakyatan, usaha mikro, kecil menengah dan koperasi serta ekonomi daerah.

Harapan terakhir, betapapun berat tantangan yang dihadapi tahun 2020, dengan semangat kebersamaan, politik merangkul dan menebar optimisme disertai doa kepada Allah, insya Allah tahun 2020 kita masuki dan jalani dengan baik dan selamat.

Yakinlah didalam kesulitan itu ada kemudahan. Selamat tahun 2020 semoga kita semuanya sukses dan selamat.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search