Umat Islam Hanya Di Manfaatkan, Ketika Pilpres Selesai, Mereka Ditinggal

 Di Politik, Sosial

Prof Dr KH Said Aqil Sirodj, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada saat berbicara dalam wisuda sarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Parung Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa “Ketika Pilpres, suara kita dimanfaatkan. Tapi ketika selesai, kita ditinggal.” – Umat islam hanya di manfaatkan.

Pernyataan itu, bukan mengada-ada, tetapi faktanya seperti itu. Umat Islam yang mayoritas di Indonesia, faktanya mereka tak obahnya buih dipermukaan laut – memutih saking banyaknya, tetapi secara de facto betul sekali, suara mereka hanya dimanfaatkan. Setelah menang pemilu mereka ditinggal.


Umat Islam Hanya di Manfaatkan

Menurut saya, paling tidak ada lima sebab, umat islam hanya di manfaatkan, setelah pemilu mereka ditinggal.

Pertama, ada rekayasa internasional, umat Islam Indonesia yang mayoritas tidak boleh kuat secara ekonomi dan politik karena bisa mengancam kepentingan asing dan penguasa ekonomi di Indonesia. Ini hanya kekhawatiran dan ketakutan yang tidak berdasar karena faktanya umat Islam Indonesia sangat toleran dan bisa diajak dialog dan musyawarah.

Kedua, ada kolaborasi kekuatan dalam negeri dan kekuatan global, supaya keseimbangan terus terpelihara dan terjaga, dengan memberi peluang kelompok minoritas, dominan dalam bidang ekonomi.

Ketiga, terjadi perselingkuhan antara penguasa ekonomi dan penguasa politik untuk memelihara dan mempertahankan statuq quo dalam keseimbangan semu dalam bidang ekonomi yang tidak adil antara umat Islam dan kelompok lainnya.

Keempat, pemilu hanya alat legitimasi untuk mempertahankan status quo. Siapa yang memenangkan pemilu, sangat ditentukan oleh kekuatan global yaitu Amerika Serikat dan RRC.

Kelima, umat Islam tidak hanya dibiarkan dan bahkan sengaja diciptakan lemah dalam bidang ekonomi dan politik melalui kebijakan yang super liberal (persaingan bebas), yang kuat akan menang dan yang lemah terpuruk, tetapi mereka dipecah belah dan dihancurkan dengan menggunakan politik pecah belah dan politik bela bambu, yang lain diangkat setinggi langit, sementara yang lain ditekan habis-habisan.

Harus Melakukan Apa?

Pernyaan Ketua Umum PB NU tersebut sebaiknya direspon secara positif dengan melakukan lima hal.

Pertama, memasyarakatkan pernyataan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj tersebut sehingga menjadi kesadaran seluruh umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia untuk mewujudkan perbaikan nasib umat.

Kedua, meningkatkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwawah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) untuk mengukuhkan kebersamaan dan persatuan.

Ketiga, meningkatkan komunikasi, dialog, toleransi dan saling pengertian antara sesama anak bangsa terutama dikalangan umat Islam untuk mencegah perpecahan.

Keempat, menggalang kekuatan nasional dari semua kekuatan bangsa tanpa memandang unsur agama, suku, antar golongan dan ras untuk bekerja sama, bersama pemerintah mewujudkan tujuan kita merdeka yang tercantum dalam Mukadimah UUD 1945 dan Pancasila khususnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, memelihara, menjaga dan mengupayakan terus-menerus kebersamaan, persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia terutama umat Islam yang mudah dan suka diadu domba dan dipecah belah.

Dengan melakukan lima hal yang dikemukakan di atas, diharapkan pernyataan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama memberi pengaruh dalam upaya mewujudkan keadilan terhadap umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search