Kaleidoskop Impor Pangan Ugal-ugalan: Beras Bulog 20.000 Ton Busuk

 Di Opini, Sosial, Top

Salah satu peristiwa penting tahun 2019 yang ramai dibicarakan publik ialah impor pangan seperti beras, gula, garam dan jagung.

Alasan klasik yang dikemukakan pemerintah untuk melegalkan impor pangan ialah untuk menyediakan stok karena produksi dalam negeri belum sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Alasan tersebut dapat dikatakan hanya mengada-ada sebab sejatinya, petani Indonesia bisa memproduksi pangan nasional, dengan syarat:

Pertama, bibit dan pupuk disediakan oleh pemerintah secara cukup dan harganya terjangkau.

Kedua, petani dirangsang untuk berproduksi secara maksimal dengan menyediakan pinjaman modal kerja dengan bunga yang rendah.

Ketiga, hasil produksi petani dibeli oleh Bulog atau pemerintah menfasilitasi untuk di ekspor keluar negeri.

Di era Orde Reformasi, berbagai kebutuhan petani untuk berproduksi secara maksimal tidak disediakan. Bahkan yang terjadi, pemerintah secara besar-besaran mengimport barang-barang pangan.

Dampak Impor Pangan

Impor pangan besar-besaran memberikan dampak negatif kepada para petani.

Pertama, petani kehilangan semangat dan gairah untuk bekerja keras menanam karena hasil pertanian mereka harganya anjlok pada saat panen karena pemerintah melakukan impor.

Kedua, petani rugi sebab Bulog bersama DPR RI menetapkan harga hasil produksi petani lebih rendah dari harga pasar. Akibatnya hasil produsi petani tidak bisa diserap oleh Bulog. Apalagi standar kualitas yang ditetapkan Bulog cukup ketat.

Ketiga, hasil produksi pangan dalam negeri tidak jarang lebih mahal ketimbang impor karena produksi pangan yang diimpor diproduksi massal dan biaya produksi lebih murah karena suku bunga rendah dan petani mereka dilindungi oleh pemerintah.

Ugal-ugalan Impor Pangan

Impor pangan dan impor barang-barang kebutuhan dalam negeri, komisinya besar (gede). Apalagi impor pangan menurut berbagai sumber besar sekali keuntungannya dan sudah tentu besar komisinya. Komisi itu di duga dibagi ke berbagai pejabat dan partai politik.

Maka walaupun impor pangan disorot sangat tajam berbagai kalangan, impor pangan bagaikan “anjing menggonggong kafilah berlalu.”

Mengapa impor tidak bisa dihentikan? Jawabannya, karena importir dan para pejabat terkait dan diduga partai penguasa ikut kecipratan komisi impor pangan dan impor lainnya.

20.000 ton Beras Busuk

Impor beras yang ugal-ugalan telah menimbulkan kerugian yang besar bagi negara dan para petani.

Menurut Kepala Bulog, beras busuk tidak kurang 20.000 ton. Beras yang sudah lama digudang, jika tidak segera dilepas ke pasar, maka beras akan busuk.

Begitu juga beras yang diimpor Indonesia, jika sudah lama digudang importir bisa cepat busuk jika disimpan lama digudang Bulog.

Karena impor terus, maka beras di gudang Bulog tidak bisa cepat dilempar ke pasar. Akibatnya beras 20.000 ton busuk dan dijual murah.

Jadi impor ugal-ugalan untuk meraup komisi yang besar tahun 2019, yang diduga untuk biaya pemilu telah merugikan negara, tidak hanya terkuras devisa kita, tetapi negara rugi dengan 20.000 ton beras busuk, Indonesia gagal swasembada pangan, dan para petani Indonesia terpuruk.

Apakah impor ugal-ugalan pangan terutama beras akan dilakukan lagi tahun 2020, kita berharap kepada pemerintah supaya belajar dari kesalahan tahun 2019 dalam impor pangan, tidak diulangi tahun 2020.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search