Kaleidoskop Kemiskinan Masih Merajalela di Indonesia

 Di Opini, Sosial

Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia selama 52 tahun lebih, telah membawa kemajuan dalam berbagai bidang.

Begitu pula pembangunan infra struktur selama 5 tahun pemerintahan Presiden Jokowi, telah nampak dengan nyata kemajuan pembangunan pisik.

Akan tetapi kemajuan dalam memerangi kemiskinan, harus diakui sangat sulit dan tidak berlebihan jika dikatakan gagal.

Penyebabnya antara lain: Pertama, rakyat yang berada di srtara sosial paling bawah tidak bisa berpartisipasi dalam pembangunan karena tidak memiliki kepakaran (keahlian) dan pendidikan yang memadai.

Kedua, pembangunan menghadirkan perubahan dan persaingan bebas. Mereka yang bisa bersaing dalam pembangunan adalah mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi, kompetensi dan keahlian.

Ketiga, tidak ada politik pemihakan. Rakyat jelata yang hanya bermodalkan otot tidak bisa berubah nasib dari miskin menjadi tidak miskin, jika tidak ditolong oleh pemerintah melalui politik pemihakan.

Keempat, salah memilih paradigma pembangunan. Sejatinya paradigma pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya melalui pendidikan.

Akan tetapi yang dipilih sejak awal Indonesia mulai membangun adalah pembangunan ekonomi. Dampaknya terjadi kemajuan, tetapi yang maju hanya sekelompok kecil dari bangsa Indonesia yang sejak zaman penjajahan Belanda, zaman Orde Lama dan zaman Orde Baru secara turun temurun sudah maju dalam bidang pendidikan dan ekonomi.

Kemiskinan Masih Merajalela

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia terus menerus mengalami penurunan.

Akan tetapi garis kemiskinan yang dipergunakan untuk mengukur miskin tidaknya setiap orang Indonesia, sangat rendah.

BPS pada Maret 2019 menetapkan garis kemiskinan di Indonesia sebesar Rp425.250/per kapita/perbulan. Jika dibagi 30 hari, maka garis kemiskinan setiap hari sebesar Rp14.175/per kepala/perhari.

Saya sudah wawancara dengan para kuli bangunan, pedagang kecil, pedagang sayur, pengangguran, dan mereka yang berada dilapisan strata sosial paling bawah, mereka mengatakan tidak bisa hidup dengan penghasilan perhari sebesar Rp14.175.

Seorang kuli bangunan mengatakan kepada saya dengan penghasilan perhari sebesar Rp50.000, masih jauh dari cukup untuk hidup layak karena harus bayar listrik, biaya transport dan sebagainya.

Dengan berpenghasilan US$ 2 perkepala per hari menurut Bank Dunia sebagai batas garis kemiskinan, jika kurs rupiah terhadap 1 dolar Amerika Serikat sebesar Rp 14.000, berarti 2 dolar Amerika Serikat adalah sebesar Rp24.000, maka jika dijadikan patokan dalam mengukur garis kemiskinan orang Indonesja, belum cukup untuk dikatakan tidak miskin.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, saya ingin mengatakan bahwa sejatinya jumlah orang miskin di Indonesia masih sangat besar.

Kunci untuk mengurangi secara signifikan jumlah orang miskin di Indonesia adalah memberi pendidikan kepakaran kepada setiap orang Indonesia, semangat dan optimisme untuk bangkit dan maju melalui kerja keras sambil berdoa kepada Allah.

Kita harus bekerja lebih keras lagi tahun 2020 untuk membawa sebagian besar bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan dan hidup tidak sejahtera.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search