Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia selama 52 tahun lebih, telah membawa kemajuan dalam berbagai bidang.
Begitu pula pembangunan infra struktur selama 5 tahun pemerintahan Presiden Jokowi, telah nampak dengan nyata kemajuan pembangunan pisik.
Akan tetapi kemajuan dalam memerangi kemiskinan, harus diakui sangat sulit dan tidak berlebihan jika dikatakan gagal.
Penyebabnya antara lain: Pertama, rakyat yang berada di srtara sosial paling bawah tidak bisa berpartisipasi dalam pembangunan karena tidak memiliki kepakaran (keahlian) dan pendidikan yang memadai.
Kedua, pembangunan menghadirkan perubahan dan persaingan bebas. Mereka yang bisa bersaing dalam pembangunan adalah mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi, kompetensi dan keahlian.
Ketiga, tidak ada politik pemihakan. Rakyat jelata yang hanya bermodalkan otot tidak bisa berubah nasib dari miskin menjadi tidak miskin, jika tidak ditolong oleh pemerintah melalui politik pemihakan.
Keempat, salah memilih paradigma pembangunan. Sejatinya paradigma pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya melalui pendidikan.
Akan tetapi yang dipilih sejak awal Indonesia mulai membangun adalah pembangunan ekonomi. Dampaknya terjadi kemajuan, tetapi yang maju hanya sekelompok kecil dari bangsa Indonesia yang sejak zaman penjajahan Belanda, zaman Orde Lama dan zaman Orde Baru secara turun temurun sudah maju dalam bidang pendidikan dan ekonomi.
Terima kasih Menteri Sosial krn pernyataannya benar. Kemiskinan dan ketidakadilan mrpkn penyebab radikalisme dan terorisme. Selama ini pemerintah salah sebab yg diatasi bukan penyebabnya (hulunya) tapi hilirnya. https://t.co/VvkK6ouIsS
— Musni Umar (@musniumar) November 27, 2019
Menurut peneliti, lingkaran kemiskinan yang menjerat mereka salah satunya berhubungan dengan akses terhadap pendidikan. https://t.co/MLpq1nrBrC
— kumparan (@kumparan) December 20, 2019
"Sejak digelontorkannya Dana Desa (DD), belum terlihat perbaikan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk pengurangan tingkat kemiskinan dan ketimpangan di desa" https://t.co/rsogkjhpZT
— detikcom (@detikcom) December 21, 2019
Kemiskinan Masih Merajalela
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia terus menerus mengalami penurunan.
Akan tetapi garis kemiskinan yang dipergunakan untuk mengukur miskin tidaknya setiap orang Indonesia, sangat rendah.
BPS pada Maret 2019 menetapkan garis kemiskinan di Indonesia sebesar Rp425.250/per kapita/perbulan. Jika dibagi 30 hari, maka garis kemiskinan setiap hari sebesar Rp14.175/per kepala/perhari.
Saya sudah wawancara dengan para kuli bangunan, pedagang kecil, pedagang sayur, pengangguran, dan mereka yang berada dilapisan strata sosial paling bawah, mereka mengatakan tidak bisa hidup dengan penghasilan perhari sebesar Rp14.175.
Seorang kuli bangunan mengatakan kepada saya dengan penghasilan perhari sebesar Rp50.000, masih jauh dari cukup untuk hidup layak karena harus bayar listrik, biaya transport dan sebagainya.
Dengan berpenghasilan US$ 2 perkepala per hari menurut Bank Dunia sebagai batas garis kemiskinan, jika kurs rupiah terhadap 1 dolar Amerika Serikat sebesar Rp 14.000, berarti 2 dolar Amerika Serikat adalah sebesar Rp24.000, maka jika dijadikan patokan dalam mengukur garis kemiskinan orang Indonesja, belum cukup untuk dikatakan tidak miskin.
Pemb. gagal mengatasi kemiskinan. Sandiaga Uno berkata: kemiskinan yg dialami masy. Papua sebabkan mrk sensitif dan mudah terprovokasi. Bukan hanya masy. Papua tapi myrts rakyat kita masih miskin. Jumlah org miskin kecil krn garis kemiskinan kecil. https://t.co/hikOC5kyew
— Musni Umar (@musniumar) August 22, 2019
Penduduk miskin sebanyak 25,14 juta orang pada Maret 2019. Hampir Miskin: 19,91 juta. Rentan Miskin Lainnya: 46,84 juta. Rata-rata pengeluaran HM dan RML hanya sedikit di atas Garis Kemiskinan. Mudah miskin jika guncangan ekonomi. Terutama fenomena PHK dan usaha mikro yang tutup. pic.twitter.com/PSicVakZ6N
— Awalil Rizky (@AwalilRizky) December 28, 2019
#Foto Kemiskinan jadi problem yang terus dicari solusinya dalam masyarakat. Meski tidak mudah, upaya untuk mengentaskan kemiskinan bukan tak mungkin untuk dilakukan. https://t.co/mzPcUHdqQW#Kemiskinan
—
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom pic.twitter.com/9Q9McCNbO9— DetikFinance (@detikfinance) October 22, 2019
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, saya ingin mengatakan bahwa sejatinya jumlah orang miskin di Indonesia masih sangat besar.
Kunci untuk mengurangi secara signifikan jumlah orang miskin di Indonesia adalah memberi pendidikan kepakaran kepada setiap orang Indonesia, semangat dan optimisme untuk bangkit dan maju melalui kerja keras sambil berdoa kepada Allah.
Kita harus bekerja lebih keras lagi tahun 2020 untuk membawa sebagian besar bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan dan hidup tidak sejahtera.
Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).
Sdh banyak kemajuan yg dialami slm 52 thn Indo. membangun, ttpi yg menikmati kemajuan hanya sktr 20%. Sbgn besar rakyat Indo. masih miskin. Tulisan kaleidodkop ini menwrkn solusi utk bersama mengatasi kemiskinan. https://t.co/4fEIU3LpEh
— Musni Umar (@musniumar) December 31, 2019

Musni Umar adalah Sosiolog dan Warga DKI Jakarta.
