Banjir Tuntut Anies Mundur: Jangan Ganggu, Warga Kawal Anies

 In DKI Jakarta, Opini, Sosial, Top

Setiap tahun DKI Jakarta selalu mengalami banjir.

Menurut data banjir Jakarta karya Zainuddin HM yang terekam dalam data jakarta.go.id, DKI Jakarta pernah alami banjir yang amat dahsyat sebanyak 5 kali.

Pertama, Tahun 1976, Gubernurnya Ali Sadikin. Banjir merendam pemukiman sampai meluas di jalan raya. Sekitar 8 ha wilayah DKI terendam banjir meliputi Kebon Kacang, Karet Tengsin, Kebon Melati, Cikini, Proklamasi bahkan kawasan Monumen Nasional dengan ketinggian 90 cm.

Banjir ini hampir dirasakan warga selama satu bulan, 200 ribu warga mengungsi, ekonomi lumpuh, Gubernur Ali Sadikin pasrah saat itu.

Kedua, Banjir awal 1996, hampir semua wilayah Jakarta tergenang air dan ibukota bagaikan danau kecokelatan.

Hujan turun sangat lebat mengakibatkan sungai Ciliwung meluap dan dalam sekejap merendam puluhan ribu rumah.

Gubernur Soeryadi Soedirdja mengakui banjir yang melanda ibu kota sangat parah. Banjir saat itu, tidak hanya merusak ribuan rumah, juga fasilitas umum, jalan raya, jembatan dan melumpuhkan fasilitas perekonomian. Kerugian akibat banjir mencapai triliunan rupiah.

Ketiga, banjir besar akhir Jan – Feb 2002, melanda DKI Jakarta. Banjir ini memakan korban 21 orang dan merugikan 70 persen warga Jakarta.

Banjir ini merendam 42 kecamatan dengan luar genangan air mencapai 16.041 hektare atau 24,25 persen kota Jakarta.

Keempat, 31 Jan-3 Feb. 2007 banjir amat dahsyat melanda Jakarta. Ada yang mengatakan bahwa banjir saat itu merupakan yang terdahsyat karena lebih dari 60 persen wilayah Jakarta terendam. Banyak jalan protokol terputus.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sebanyak 1.500 rumah terendam dan 320 ribu warga terpaksa mengungsi, sebanyak 60 orang meninggal, ditaksir kerugian mencapai Rp4,3 triliun. Jakarta lumpuh total bagai kota mati berhari-hari lamanya.

Kelima, Banjir 2013 pada masa Gubernur Jokowi-Wagub Basuki T. Purnama tergolong dahsyat. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sebanyak 16.167 warga mengungsi, 41 orang meninggal akibat tersengat listrik, hanyut dan sakit. Kerugian akibat banjir mencapai Rp20 triliun.

Pada saat itu Istana Kepresiden terendam setinggi satu lutut orang dewasa dan Bundaran Hotel Indonesia tenggelam bagai kubangan air cokelat.

Saking parahnya banjir saat itu, Gubernur Jokowi menetapkan tanggap darurat selama 10 hari, sejak Kamis, 27/1 sampai Ahad, 27/2.

Penanganan Banjir di Masa Anies Terbaik

31 Des. 2019 sampai 1 Jan 2020, DKI Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang sangat lebat, sehingga terjadi banjir.

Pejabat Pengelola Informasi Daerah (PPID) Provinsi DKI Jakarta dalam rilis gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Bappenas, BMKG dan Open Data Jakarta terkait penanganan banjir dalam skala lima tahun hasilnya, banjir awal tahun 2020 diketahui memiliki curah hujan yang lebih tinggi perharinya ketimbang 2013 dan 2015, yakni 377 mm berbanding 100 mm dan 277 mm (liputan 6, 13 Jan 2020).

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sebanyak 19 kawasan di DKI terendam banjir. Ada ketinggian air setinggi paha seperti RSAL Mintoharjo, Perumahan Setneg Cempaka Putih 50 cm, kampus Brobudur Jl. Raya Kalimalang, Jaktim banjir setinggi 25-40 cm, Komp. BPPT pertama kali masuk rumah warga, dan paling tinggi banjir di Cipinang Jakarta Timur setinggi 2 meter. Total pengungsi akibat banjir sebanyak 31.232 jiwa.

Jumlah korban nyawa yang meninggal akibat banjir di DKI tidak ditemukan datanya, hanya data yang tewas akibat banjir di Jabodetabek tembus 67 orang (CNN Indonesia, 06/1/2020)

Data gabungan menyebutkan penanganan banjir di DKI 2020 lebih baik dibanding sebelumnya.

Selain itu. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI memuji penanganan banjir di DKi Jakarta yang utamakan perlindungan anak dan perempuan (Republika.co.id., 08 Jan 2020).

Mengapa Anies di demo dan dituntut mundur? jawabannya bukan karena kinerja, tetapi faktor politik.

Anies Jangan Diganggu

Saya menghimbau dan mendesak supaya Anies jangan diganggu. Biar dia bekerja untuk mewujudkan visi dan misinya yang merupakan janji politik sewaktu pemilihan Gubernur DKI.

Tidak ada gunanya ganggu Anies karena warga Jakarta yang terdiri dari berbagai elemen telah bersatu kawal Anies dalam memimpin Jakarta dan dalam menghadapi musuh politik seperti tercermin dalam kawal Anies di balai kota Jakarta pada 14 Januari 2020.

Mereka yang kalah dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang lalu sebaiknya segera “move on.” Belajarlah dan hayatilah makna demokrasi. Dalam praktik demokrasi, ada yang menang dan kalah. Mereka yang kalah dengan jantan harus menerima kekalahan.

Dalam mengakiri tulisan ini, saya menghimbau semua warga Jakarta untuk membantu Anies supaya sukses mengemban amanah dalam memimpin Jakarta karena kalau sukses yang untung warga Jakarta. Sebaliknya kalau gagal, warga Jakarta yang rugi.

Warga Jakarta tidak mau kalau Anies gagal dalam memimpin DKI, karena itu semua elemen di masyarakat Jakarta kawal Anies dalam memimpin Jakarta, termasuk dalam melawan para pendemo yang menuntut Anies mundur sebagai Gubernur DKI Jakarta gegara banjir yang sudah diatasi dengan baik.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search