Imam Mahdi, Ratu Adil dan Keraton: Harapan dan Romantisme Terhadap Masa Lalu

 Di Lainnya, Opini, Sosial

Demokrasi yang dipopulerkan dan diamalkan di Indonesia, sampai saat ini belum mampu menghadirkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat jelata.

Masyarakat Indonesia yang masih mempercayai akan datang Imam Mahdi dan ratu adil yang mirip dengan kepercayaan sebagian masyarakat Jawa “satrio piningit,” selalu merindukan datangnya masa yang membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat jelata.

Ketika datang seorang satria yang gagah – menyebut dirinya sebagai raja kemudian membangun keraton (istana), dengan mudah rakyat jelata percaya dan bahkan menjadi pengikutnya.

Begitu pula dalam perhelatan politik akbar seperti Pemilu Presiden, ada saja yang mempopulerkan seorang kandidat Presiden sebagai satrio piningit, yang kemudian rakyat jelata percaya.

Kepercayaan masyarakat seperti itu tidak pernah hilang dan seolah berada dibawah sadar. Ia selalu hadir pada saat masyarakat menghadapi banyak masalah.

Salah satu simbol yang mudah dipahami masyarakat adalah raja dan keraton yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan di keraton atau istana kerajaan dan di masyarakat.

Warisan sejarah dan budaya dari berbagai kerajaan di masa lampau di berbagai daerah di Indonesia masih eksis seperti istana kesultanan Buton di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, istana Maemoen di Medan, Sumatera Utara, istana Puri Saren Ubud, di Bali, keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan lain-lain.

Harapan dan Romantisme

Rakyat jelata yang percaya akan datang Imam Mahdi, Ratu adil dan Satrio Piningit, mereka mudah terpukau dan percaya tanpa berpikir panjang, jika ada tokoh yang muncul atau dimunculkan ke publik.

Ketika raja memberi janji dan harapan indah, rakyat jelata yang hidup di desa mudah terpukau dan mudah ikut bergabung menjadi komunitas kerajaan, tanpa berpikir panjang dan mengambil pelajaran dari peristiwa dimasa lalu

Rakyat jelata yang sudah lama menderita dan menanti datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil dan Satrio Piningit yang akan datang membebaskan mereka dari penderitaan dan kesengsaraan, dan membawa mereka kepada kehidupan yang gemah ripah log jinawi yang dalam Alqur’an disebut “baldatun thayyibatun wa rabbun gafur” tanpa berpikir panjang mereka menjadi pengikut “sang raja” seperti yang dialami keraton agung sejagat di Purworeja, Jawa Tengah.

Selain rakyat jelata mengharap dan merindukan masa depan yang cerah, tumbuh pula ramantisme di masa dahulu pada saat berbagai kerajaan memerintah di masa dahulu.

Ada ungkapan yang sering dilantunkan “raja adil disembah raja zalim disanggah.” Banyak raja di masa dahulu seperti Umar Ibnu Abdul Azis pada masa memerintah mampu membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika muncul kerajaan-kerajaan di berbagai daerah seperti “Sunda Empire,” yang dalam bahasa Indonesia disebut kekaisaran Sunda, yang mendapat perhatian dan dukungan rakyat jelata.

Dapat disimpulkan bahwa munculnya raja dan kerajaan akhir-akhir ini, bagi yang memproklamirkan diri sebagai raja atau permaisuri, pada umum bermotif ekonomi ingin mencari kekayaan sebagai raja.

Akan tetapi, rakyat jelata yang percaya dan memberi dukungan kepada keraton sejagat di Purworejo, tidak terlepas dari dorongan kepercayaan lama akan datang Imam Mahdi, Ratu Adil dan Satrio Piningit. Seolah-olah yang memproklamirkan sebagai “raja” bagaikan Imam Mahdi.

Selain itu, munculnya kerajaan-kerajaan baru merupakan romantisme kerajaan di masa dahulu yang telah terbukti mampu memberi keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat.

Lebih mengesankan lagi pada masa kerajaan lama tidak ada korupsi. Tidak seperti yang terjadi dan di alami Indonesia pada zaman demokrasi sekarang ini.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Tonton juga:

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search