Mengenang 42 Tahun Perjuangan Aktivis Kampus Kuning dan Gerakan Mahasiswa 77/78

 In Lainnya, Politik

Tidak terasa sudah berlalu 42 tahun aktivis Kampus Kuning dan Gerakan Mahasiswa 77/78 – Gema 77/78.

Gema 77/78 yang dimotori Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta tahun 1977-1978 merupakan gerakan moral untuk menyelamatkan Indonesia dari KKN.

Gerakan mahasiswa pada saat itu menuntut pemerintahan Presiden Soeharto melaksanakan pemerintahan yang baik bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Gerakan mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk demonstrasi ternyata mendapat dukungan publik yang luas.

Belajar dari sejarah, Bung Karno jatuh karena demonstrasi mahasiswa, maka Presiden Soeharto tidak mau mengalami nasib serupa.

Oleh karena itu, pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto memerintahkan Laksamana Soedomo, Komanda Pemulihan Keamanan dan Ketertiban yang disingkat Kopkamtib untuk menciptakan keamanan dan ketertiban, sehubungan adanya demo mahasiswa (i) yang dinilai mengganggu keamanan dan ketertiban.

Pada 21 Januari 1978, aparat keamana dibawah Kopkamtib melakukan penangkapan terhadap seluruh pimpinan Dewan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia.

Para pimpinan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa serta pimpinan Ormas dan beberapa tokoh terkemuka di Jakarta ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan militer di Tajimalela Bekasi yang merupakan rumah para prajurit dicat kuning. Kemudian disebut Kampus Kuning.

Pada saat yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef mengeluarkan Surat Keputusan No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) yang intinya membubarkan Dewan Mahasiswa/Senat Mahasiswa.

Indonesia Masih Korup

Sudah 42 tahun perjuangan mahasiswa (i) untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan sejahtera bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Akan tetapi faktanya, perjuangan sewaktu menjadi mahasiswa 42 tahun lalu, masih belum sebagaimana yang diharapkan.

Indikator korupsi belum berkurang, ratusan Bupati, Walikota dan Gubernur serta para anggota DPR, DPRD seluruh Indonesia telah terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) korupsi dan mereka sudah divonis bersalah dan telah dijebloskan ke dalam penjara.

Akan tetapi, korupsi belum menandakan akan berakhir. Korupsi berkaitan erat dengan moral hazard dan kepentingan kekuasaan yang sangat memerlukan dana yang besar untuk memenangkan pertarungan kekuasaan.

Sebagai aktivis dan pejuang, tidak ada kata menyerah dan pesimis untuk mewujudkan cita-cita Indonesia maju, mandiri, adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga teman-teman seperjuangan yang sudah wafat mendahului kita, diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di sisiNya sesuai amal kebaikannya selama hidup di dunia.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search