Relevansi Saat Ini: 42 Tahun Perjuangan Aktivis 77/78 Kampus Kuning

 In Lainnya, Politik

Dalam acara santai para aktivis 77/78 Kampus Kuning bersama Ahmadi Noor Supit, Mayjen TNI Purn. Dr. H. Eddie M. Nalapraya, yang menangkap dan memenjarakan para pimpinan Dewan Mahasiswa/Senat Mahasiswa PTN dan PTS, pimpinan mahasiswa extra universiter seperti Khumaidi Syarif Romas, Harry Azhar Azis, Lopez Da Lopez, dan sejumlah tokoh seperti Prof Ismail Suny, Dr AM Fatwa, Prof. Arief Rachman dan lain-lain, dalam sambutan singkatnya mengenang 42 tahun peristiwa penangkapan seluruh pimpinan Dewan Mahasiswa/Senat Mahasiswa dan pembubaran Dewan Mahasiswa mengungkapkan sejarah perjuangan mahasiswa yang ditangkap dan dipenjarakannya.

Menurut pengakuannya, dia diminta selaku Asintel Laksusda Jaya untuk menyampaikan perkiraan keadaan (Kirka) tentang keamanan Ibukota sehubungan maraknya gerakan mahasiswa yang banyak diberitakan media, dan ditengarai mendapat simpati dan dukungan masyarakat.

Menurut Eddie M. Nalapraya, untuk mencegah eskalasi politik, sosial dan keamaman yang tidak terkendali di Ibukota, dia mengusulkan ke atasannya tiga langkah.

Pertama, menangkap seluruh pimpinan Dewan Mahasiswa/Senat Mahasiswa untuk mengakhiri gerakan-gerakan mahasiswa.

Kedua, membubarkan Dewan Mahasiswa/Senat Mahasiswa.

Ketiga, membredel media yang memberitakan demo dan gerakan mahasiswa.

Menurut dia, tiga usulnya diterima dalam rapat Laksusda Jaya yang kemudian dilaporkan kepada Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) Laksamana Soedomo, kemudian menjadi kebijakan nasional.

Akhir Gerakan Mahasiswa

Penangkapan dan pemenjaraan pimpinan Dewan Mahasiswa tahun 1978, yang ditindaklanjuti dengan pembubaran institusi Dewan Mahasiswa melalui kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan pembredelan media, telah mengakhiri gerakan mahasiswa yang mengkritisi pemerintah.

Bukan hanya mengakhiri gerakan mahasiswa, tetapi dampak dari penangkapan pimpinan Dewan Mahasiswa, telah memasung demokrasi, yang mengakibatkan semakin mencengkram korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) karena hilangnya kontrol sosial dari dunia kampus.

Hasil perjuangan aktivis Dewan Mahasiswa dan seluruh gerakan mahasiswa dari 1978-1998, akhirnya lahir Orde Reformasi yang mengakhiri kekuasaan Presiden Soeharto selama 32 tahun lamanya.

Lahirnya Orde Reformasi tahun 1998, telah menghadirkan bergantian kekuasaan secara reguler melalui pemilihan umum.

Setelah Orde Reformasi berusia 20 tahun lebih, secara lahiriah nampak bangsa dan negara semakin maju. Akan tetapi sejatinya bangsa Indonesia menghadapi masalah yang semakin besar dan kompleks.

Pertama, korupsi semakin merajalela.

Kedua, bangsa dan negara menghadapi jebakan utang (debt trap) akibat besarnya utang negara, BUMN dan swasta.

Ketiga, kesenjangan semakin melebar antara segelintir orang dan mayoritas bangsa Indonesia.

Keempat, kemiskinan masih dialami mayoritas bangsa Indonesia.

Kelima, Indonesia kehilangan arah mau dibawa kemana, karena tidak konsisten mengamalkan tujuan Indonesia merdeka dan sila-sila dalam Pancasila.

Jika kelima masalah tersebut tidak diatasi dengan baik, Indonesia bisa menjadi negara gagal.

Semoga kita terhindar dari negara gagal.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Berikut foto-foto kegiatan Aktivis 77/78 Kampus Kuning peringati 42 tahun perjuangan mewujudkan pemerintahan yg bebas KKN

Usai syukuran HUT 42 thn Kampus Kuning, saya bersama Mas Soekotjo Soeprapto, Basori Imran, Deny Agusta bersama isteri bersilaturrahim dgn Dr Judil Hery Justam yg sdg dirawat di RSCM Jakarta

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search