PAN, Amien Rais dan Runtuhnya Citra Hadapi Pemilu 2024

 Di Opini, Politik

Sebagai sosiolog yang pernah memberi dukungan kepada Partai Amanat Nasional (PAN) dalam pemilu 2019 agar lolos parlementary treshold di Senayan pasca Litbang Kompas memberitakan PAN termasuk salah satu partai yang rendah elektabilitasnya yang berpotensi gagal masuk di Senayan, saya sangat kecewa melihat proses pembentukan OC dan SC kongres sampai pelaksanaan kongres PAN di kampung halaman saya di kota Kendari.

Ada lima alasan, saya sangat kecewa dan malu terhadap proses dan pelaksanaan kongres PAN.

Pertama, PAN sebagai partai reformasi tidak lagi menjadi partai terdepan dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Isu sentral untuk melengserkan Pak Harto dan rezimnya yang dimotori Pak Amien dan mahasiswa adalah KKN. Amien Rais sebagai tokoh reformasi yg mendirikan PAN salah satu tujuannya untuk melawan KKN.

Mohon maaf, saat ini diduga PAN telah dijadikan tempat berlindung oleh mereka yang patut diduga terlibat dalam korupsi ketika memegang kekuasaan.

Kedua, hancurnya citra PAN. Kongres PAN di kota Kendari yang ribut dengan lemparan kursi di arena kongres yang disiarkan secara luas oleh semua media nasional sangat merusak citra PAN. Jejak digital keributan PAN dalam kongres akan terus diputar oleh lawan politik untuk semakin menghancurkan citra PAN.

Citra bagi partai politik, para pemimpin, pengusaha dan siapapun sangat penting dan menentukan. Partai politik, para pemimpin, pengusaha, public figur dan siapapun sejatinya berjualan. Kalau citranya rusak, maka tidak akan ada yang mau membeli produknya.

Produk yang sangat penting bagi partai politik adalah citra baik. Kalau citranya rusak, partai politik akan hancur karena tidak ada yang memilih dalam Pemilu.

Ketiga, politik uang. Saya mendapat informasi dari teman-teman di kota Kendari, dalam pelaksanaan kongres PAN terjadi politik uang. Ada yang memberitahu saya satu suara dihargai Rp350 juta. Informasi tersebut saya tidak percaya karena PAN adalah partai reformasi yang didirikan untuk melawan korupsi. Politik uang adalah bagian dari korupsi. Saya yakin info ini tidak benar. Tugas KPK, Polisi dan Jaksa untuk memastikan ada tidaknya politik uang dalam kongres PAN di kota Kendari.

Keempat, intervensi kekuasaan. Pernyataan Zulkifli Hasan pasca terpilih menjadi Ketua Umum PAN yang mengucapkan terima kasih kepada Pak Jokowi, mengkonfirmasi bahwa penguasa melakukan intervensi. Sebagai sopan santun pantas Pak Zul mengucapkan terima kasih ke Pak Jokowi.

Kelima, PAN akan tersandera. Pak Zul sebagai ketua umum PAN sudah tiga kali dipanggil oleh KPK. Dampak dari itu, PAN akan kehilangan trust (kepercayaan) dari publik sebagai partai reformasi dan kadernya akan gamang dalam mengkriti korupsi yang masih merajalela di negeri ini.

Amien Rais

Suka tidak suka Amien Rais adalah Godfather PAN. Posisi Amien seperti SBY di Demokrat, Surya Paloh di Nasdem, Megawati di PDI Perjuangan, Prabowo di Gerindra, Wiranto di Hanura.

Ada kader PAN yang tidak suka Amien Rais karena terlalu menghegemoni PAN, tetapi selama ini mereka tidak berdaya.

Momentum sikap kritis Amien Rais terhadap Pak Jokowi, mereka manfaatkan besan untuk melawan dan menghabisi Amien Rais. Itu dilakukan dalam kongres PAN di Kota Kendari.

PAN Tanpa Amien

Menurut saya, PAN tanpa Amien Rais sama halnya Partai Demokrat tanpa SBY. Begitu juga, PDI Perjuangan tanpa Megawati, Partai Nasdem tanpa Surya Paloh, Partai Gerindra tanpa Prabowo, Partai Hanura tanpa Wiranto.

Rakyat Indonesia adalah masyarakat paternalistik. Mereka melihat siapa pemimpin di satu partai. Mereka memilih PAN karena di PAN ada Amien Rais.

Mayoritas pemilih PAN adalah warga Muhammadiyah. Mereka menjatuhkan pilihan kepada PAN karena di PAN ada Amien Rais.

Sama halnya warga Marhaen, mereka memilih PDI Perjuangan karena simbol PDI Perjuangan adalah Megawati.

0leh karena itu, menghabisi Amien Rais di PAN sebagai simbol partai, sama halnya menghabisi Megawati di PDIP. Begitu pula menghabisi Prabowo di Gerindra, Surya Paloh di Nasdem.

Para kader PDI Perjuangan sangat rasional dan realistik, mempertahankan Ibu Megawati untuk tetap menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan.

Nasib partai Hanura yang ribut dan menggusur Wiranto dari partai Hanura, hasil Pemilu 2019, partai Hanura tersingkir dari Senayan.

Menurut saya, PAN akan mengalami nasib seperti partai Hanura dalam pemilu 2024 jika tidak ada penyelamatan.

Alasannya, pertama, ribut dalam kongres. Rakyat Indonesia tidak suka ribut-ribut. Keributan akan terus di eksploitasi lawan politik melalui jejak digital yang akan terus ditayangkan ke publik.

Kedua, disingkirkannya Amien Rais sebagai simbol PAN. PAN tidak lagi memilki daya tarik pemilih yang konsisten berjuang dalam menegakkan amar ma’ruf nahi Munkar.

Ketiga, citra PAN rusak di mata publik sebagai garda terdepan dalam melawan KKN.

Keempat, publik kehilangan trust (kepercayaan) terhadap PAN.

Semoga analisis sosiologis ini tidak menjadi kenyataan.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search