Connect with us

Setidaknya, bila kamu masih memiliki iman memanaslah hatimu, ketika saudaramu di hinakan,dibantai bahkan di bunuh - ig mujahidahutara.4

Opini

Mengapa Demo? FPI, PA 212 dan GNPF yang Demo di Kedubes India Bukan Ekstrimis

Saya sangat sedih dan menolak jika mereka yang demo di Kedutaan India di Jakarta disebut ekstrimis.

Tidak bisa dinafikan adanya kelompok di masyarakat yang tidak paham tentang demo berjilid-jilid antara lain tentang masalah Palestina, Rohingya dan terakhir ini masalah pembantaian Muslim di India.

Banyak yang tidak setuju adanya demo. Akan tetapi, mereka tidak faham, apa alasan orang-orang Islam melakukan demonstrasi (demo). Tidak saja mereka demo masalah urusan dalam negeri, tetapi juga urusan negara lain seperti demo masalah pembantaian Muslim di India.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada tiga alasan yang mendasari umat Islam suka demo untuk membela muslim lainnya.

Pertama, alasan teologis. Allah melalui Alqur’an menegaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah bersaudara “innamal mu’minuuna ikhwatun.” Konsekuensi sebagai saudara, maka jika ada perselisihan atau permusuhan diantara sesama Muslim harus didamaikan. Jika ada Muslim dimanapun diperlakukan tidak adil apalagi dibantai, diperangi dan di bunuh seperti di India, maka umat Islam yang mu’min wajib membela saudara-saudaranya.

Selain itu, Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada umat Islam yang beriman supaya membantu dan membela sesama Muslim di manapun mereka berada.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa umat Islam terhadap umat Islam yang lain tak obah satu tubuh, apabila satu bagian sakit, maka seluruh badan terasa sakit.

Oleh karena itu, umat Islam India yang memperoleh diskriminasi, pembantaian, penyiksaan, pembunuhan dan pembakaran Masjid – tempat umat Islam beribadah, wajib dibela.

Disamping itu, Nabi Muhammad SAW mengemukakan bahwa orang yang beriman (mu’min) terhadap mu’min lainya tak obahnya satu bangunan yang saling kokoh-mengokohkan satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, secara teologis umat Islam wajib membela dan menolong Muslim di India yang mengalami pembantaian. Begitu juga Muslim di Palestina, Rohingya dan berbagai negara lainnya yang diperlakukan tidak adil.

Kedua, alasan sosiologis. Ajaran teologis yang diajarkan kepada umat Islam, telah menjadi way of life bagi umat Islam, sehingga semangat juang (jihad) orang Islam untuk membela saudaranya yang ditindas, sudah tumbuh dan berakar di kalangan masyarakat Muslim khususnya di Indonesia.

Maka secara sosiologis, demo di Kedutaan India oleh FPI, PA 212, GNPF Ulama dan lain-lain merupakan ekspresi dari masyarakat Muslim yang diperintahkan oleh ajaran agamanya untuk menyuarakan pembelaan terhadap saudara-saudaranya di India, Palestina, Rohingya dan negara lain yang masyarakat Muslimnya ditindas dan di bunuh.

Ketiga, pelanggaran HAM berat terhadap umat Islam di India. Mereka disiksa, dibantai dan dibunuh. Pelanggaran HAM berat tidak boleh dibiarkan.

Bukan Ekstrimis

Mereka yang demo di Kedutaan India dan di manapun dalam rangka membela saudaranya Muslim yang ditindas dan dibunuh pasti bukan ekstrimis.

Setidaknya ada lima alasannya bahwa umat Islam yang demo yang dimotori FPI, PA 212, GNPF Ulama dan lain-lain bukan ekstrimis.

Pertama, mereka yang demo di Kedutaan Besar India di jalan Rasuna Said Jakarta, hanya menyampaikan aspirasi umat Islam sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara sesama Muslim yang di bantai di India.

Kedua, para pendemo di Kedutaan Besar India di Jakarta tidak melakukan kekerasan terhadap para diplomat India.

Ketiga, para pendemo dari FPi, PA 212, GNPF tidak merusak Kedutaan Besar India di Jakarta.

Keempat, para pendemo dari FPI, PA 212 dan GNPF tidak meneror, menyakiti warga India di Jakarta apalagi membunuh dan membakar tempat beribadah mereka di Jakarta seperti yang dilakukan di India terhadap Muslim.

Kelima, para pendemo di Kedutaan Besar India dilaksanakan secara damai dan aman.

https://www.instagram.com/p/B9a6O6GHgET/
Oleh karena itu, saya menolak keras jika para pendemo di Kedutaan Besar India yang dilakukan FPI, PA 212, GNPF Ulama disebut sebagai para ekstrimis.

Saya sedih dan mengecam keras peristiwa bom Bali, JW Marriot di Jakarta serta peristiwa terorisme lainnya. Akan tetapi demo di Kedutaan Besar India dan berbagai demo lainnya yang dilakukan FPI, PA 212 dan GNPF sama sekali tidak ada kaitannya dengan peristiwa terorisme di masa lalu.

Saya sangat sedih dan menolak jika mereka yang demo di Kedutaan India di Jakarta disebut ekstrimis, terorisme dan apapun disandangkan pada mereka. Indonesia adalah negara demokrasi dan sangat sah dan dilindungi UU jika FPI, PA 212 dan GNPF melakukan demo.


https://www.instagram.com/p/B9eOU0GnCae/

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Tonton juga

Kutipan

Butuh bahan berita/artikel/tulisan?

Diperbolehkan mengutip sebagian isi dari tulisan ini tapi jangan lupa sebut sumber: arahjaya.com atau dikutip dari Musni Umar.

Diharapkan tulisan-tulisan di website ini bisa menginspirasi pembaca untuk selalu mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Youtube Musni Umar

Baca Juga

Opini

Badan Eksekutif Mahasiswa BEM Universitas Indonesia menjuluki Jokowi The King of Lip Service. Julukan itu telah menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat dan bahkan menjadi...

Opini

Hakim Ketua Khadwanto, SH yang mengadili HRS di Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah vonis Habib Rizieq Shihab dengan hukuman 4 tahun penjara dalam kasus...

Covid-19

Ada perbedaan perlakuan yang amat menyolok menikah saat pandemi, antara resepsi perkawinan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah dengan Syarifah Najwa Syihab (Puteri HRS) dan...

Opini

Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang.

Lainnya

Bukan saja teringat kebaikan FPI dalam bidang kemanusiaan, tetapi salut atas kesikapan FPI yang selalu berada di garda terdepan dalam membantu masyarakat yang mengalami...

Covid-19

Saya kemukakan tahun 2020 merupakan tahun kesedihan karena hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia terpuruk ditengah ancaman corona.

Opini

Saya bukan anggota apalagi pengurus Front Pembela Islam (FPI). Akan tetapi, sebagai sosiolog dan akademisi, saya merasa sangat prihatin atas pembubaran dan pelarangan FPI...

Covid-19

Prof. Mahfud MD, Menko Polhukam RI mengatakan, tak ada sanksi pidana bagi yang melanggar protokol kesehatan ataupun tidak ikut dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19.