Covid-19 Bikin Susah Semua: Ustaz, Kiai, Ajengan, Ulama Ikut Susah

 In Covid-19, Opini

Covid-19 yang tengah mewabah di Indonesia dan seluruh dunia telah memberi dampak negatif pada seluruh aspek kehidupan.

Komunitas keagamaan termasuk yang terkena dampak covid-19 seperti pelayan umat: ustaz, kiai, ajengan, ulama, khatib (penceramah) dan sebagainya.

Tempat ibadah sepi dari kegiatan. Otomatis kegiatan keagamaan tidak ada. Dampaknya tidak ada pelayanan keagamaan.

Dampak nyata yang dialami akibat pelarangan kerumunan untuk mencegah penyebaran wabah covid-19, Masjid, Gereja, Vihara, Pura, tempat pengajian dan sebagainya sepi, karena umat yang akan melaksanakan lbadah berhimpun (berjamaah).

Dampak Yang Ditimbulkan

Wabah Covid-19 telah menimbulkan dampak negatif. Setidaknya ada tiga dampak yang timbul akibat covid-19.

Pertama, tempat beribadah sepi. Umat Islam misalnya, setiap hari lima kali melaksanakan shalat berjamaah di Masjid atau Mushalla, yaitu shalat Zuhur, shalat Ashar, shalat Magrib, shalat Isya dan shalat Subuh. Jika sibuk paling tidak satu atau dua kali melaksanakan shalat jamaah.

Dengan adanya covid-19, umat Islam tidak lagi melaksanakan shalat jamaah di Masjid atau di Mushalla. Begitu pula shalat Jum’at, tidak dilaksanakan.

Tujuan pelarangan shalat jamaah dan shalat Jum’at untuk mencegah penularan wabah Covid-19 melalui pertemuan, persinggungan atau persentuhan dengan jamaah yang positif covid-19.

Kedua, pelayanan keagamaan ditiadakan. Dampak negatif yang lain dari covid-19 tidak ada pelayanan keagamaan secara tatap muka. Sementara pelayanan jamaah melalui daring (Online) belum biasa dilaksanakan.

Dalam komunitas umat Islam sebagai contoh yang biasa melaksanakan pengajian rutin, melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam, dan kegiatan keagamaan lainnya semua dilaksanakan secara tatap muka.

Para ustaz (guru), kiai, ajengan, dan ulama yang menjadi penceramah selalu hadir dihadapan umat secara tatap muka. Hasil ceramah biasa direkam dan dipublikasikan melalui Youtube.

Kegiatan keagamaan yang nyaris tidak dilaksanakan tahun ini adalah peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tidak ada Masjid, Mushalla, Lembaga Keagamaan formal dan informal, perkantoran yang melaksanakan peringatan Isra dan Mi’raj. Istana negara, yang rutin melaksanakan peringatan Isra dan Mi’raj, tahun ini tidak melaksanakan peringatan.

Jika wabah covid-19 masih mengganas sampai bulan ramadhan, maka shalat traweh yang biasa didahului shalat Isya, ceramah agama yang sering disebut kultum (kuliah tujuh menit), buka puasa bersama, tadassusan berjamaah, shalat Idul Fitri bakal ditiadakan tahun ini.

Ketiga, dampak ekonomi bagi pelayan umat. Bagi umat Islam, yang merasakan dampak negatif antara lain ustaz, kiai, ajengan, ulama, penceramah, marbot dan sebagainya. Selama lockdown atau karantina wilayah, semua kegiatan keagamaan ditiadakan. Mereka otomatis kehilangan penerimaan dana untuk biaya hidup, bayar listrik dan keperluan yang tidak kecil.

Selain itu, yang merasakan dampak negatif akibat wabah covid-19 ialah pengurus Masjid. Masjid di Indonesia dibangun atas prakarsa jamaah. Pemeliharaan dan perawatan Masjid termasuk bayar listrik dan gaji imam rawatib tiap bulan diambil dari donasi jamaah. Penerimaan dana untuk kas Masjid sangat tergantung sumbangan para jamaah tiap Jum’at dan tiap malam di bulan ramadhan.

Lockdown, karantina wilayah dan larangan umat ke tempat ibadah seperti sekarang, kesulitan masif dialami masyarakat luas termasuk para pelayan umat.

Saya yakin covid-19 adalah ujian. Dalam setiap ujian ada kesulitan dan kesusahan. Akan tetapi dibalik kesulitan ada kemudahan. Semoga kemudahan, menghadirkan jalan keluar bagi pelayan umat Islam dan umat agama lain.

Kita hanya bisa berusaha sambil berdoa semoga covid-19 yang tak obahnya tsunami yang banyak merenggut nyawa segera berlalu.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search