Analisis Sosiologis PSBB: Masalah Kedisplinan Warga Prioritas #PSBBday1

 Di Covid-19, Opini

Saya mengamati dengan saksama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan perasaan gembira.

Setidaknya ada 3 alasan saya merasa gembira terhadap pelaksanaan PSBB di DKI pada hari kedua.

Pertama, ada peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker. Sebagai contoh, pedagang sayur yang setiap hari menjual aneka macam sayur, pisang, pepaya, semangka dan sebagainya di tempat kami tinggal di Cipete Selatan Jakarta Selatan, sebelum pemberlakuan PSBB tidak pernah menggunakan masker, dalam dua hari ini sejak diberlakukan PSBB selalu memakai masker kain.

Kedua, pemberlakuan PSBB dan masifnya sosialisasi serta penyadaran masyarakat, semakin meningkat kesadaran untuk menjaga diri dari wabah Covid-19. Sebagai contoh, penjual roti yang setiap pagi lewat di depan rumah dengan menggunakan motor sudah menggunakan masker.

Ketiga, ibu-ibu yang keluar rumah untuk membeli sayur dan buah-buahan dari seorang penjual yang menggunakan grobak, dalam dua hari ini memakai masker kain.

Masalah Disiplin

Kita bersyukur adanya peningkatan disiplin warga untuk mencegah dan memutus penyebaran wabah corona.

Akan tetapi, harus dilakukan pemantauan dan pengawasan tentang kedisiplinan warga dalam menaati tentang pemberlakuan PSBB.

Pertama, jangan sampai panas-panas tahi ayam. Pada awal pemberlakuan PSBB terpaksa tinggal di rumah #StayAtHome sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, bosan tinggal
di rumah lalu keluyuran. Ini penting diawasi. Jika tidak disiplin sebagaimana yang sering kita saksikan di jalanan, maka pemberlakuan PSBB akan gagal.

Kedua, masyarakat belum memiliki tradisi dan budaya disiplin. Sebagai contoh, penggunaan Helm bagi pemotor. Kalau ada polisi, para pengendara motor menggunakan Helm, jika tidak ada polisi warga menanggalkan Helm. Bisa juga terjadi, kalau ada polisi, warga tidak kerumunan, tetapi kalau polisi sudah pergi, warga sesukanya.

Ketiga, diperlukan partisipasi tokoh agama, tokoh masyarakat.serta adanya keberanian untuk menegur siapapun yang keluar rumah tinggal menggunakan masker. Menegur dan menasihati para pemuda, ibu-ibu dan siapapun yang nongkrong dan ngobrol bareng karena bisa menyebarkan wabah Covid-19.

Maka kunci kesuksesan dalam pemberlakuan PSBB adalah disiplin warga. Dalam konteks itu, peran Polisi, TNI serta tokoh agama serta tokoh masyarakat amat diperlukan untuk mendisipkan warga yang bandel dan panas-panas tahi ayam.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search