Analisis Dampak Sosiologis PSBB Gagal: Corona Berakhir di Akhir Tahun 2020 #PSBBday7

 Di Covid-19, Opini

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan prediksi bahwa wabah virus corona (Covid-19) di Indonesia akan selesai akhir tahun ini (DetikNews, Jumat, 17 Apr 2020).

Berita ini bisa dimaknai positif karena Kepala Negara telah memberi informasi kepada rakyat Indonesia, pasti berdasarkan analisis yang valid dan dapat dipercaya bahwa akhir tahun ini Corona akan sekesai. Pada tahun 2021 akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama pariwisata (tourism/pelancongan).

Akan tetapi sebalknya bisa dimaknai negatif, jika dilihat perspektif sosiologis.

Oleh karena, dari sekarang sampai akhir tahun, selama hampir 9 bulan, April-Desember 2020, apakah rakyat mampu bertahan hidup?

Setidaknya 3 asumsi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, rakyat mampu bertahan dan sabar. Sudah terbukti selama 3,5 abad lamanya dijajah oleh Belanda, rakyat Indonesia bisa bertahan dan mampu survive (bertahan).

Kedua, rakyat tidak sanggup bertahan, tapi tidak berdaya. Walaupun kemiskinan dan pengangguran merajalela, banyak rakyat yang meninggal dunia, kriminalitas meningkat luar biasa, stabilitas sosial dan keamanan terganggu, tapi rakyat menerima saja keadaan.

Ketiga, rakyat marah tidak terima keadaan, kemudian demonstrasi menuntut keadilan.

Semua kemungkinan yang terburuk bisa terjadi, jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) gagal diwujudkan, dan wabah Covid-19 tidak segera berakhir.

Berpotensi Gagal

Dalam berbagai tulisan saya terdahulu dan kampanye Universitas Ibnu Chaldun, selalu menekankan pentingnya PSBB sukses dan tidak boleh gagal.

Akan tetapi dalam praktik, PSBB berpotensi gagal. Setidaknya ada tiga indikator, PSBB berpotensi gagal.

Pertama, kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan PSBB tidak tegas. Serba tanggung dan tidak total mendukung supaya berhasil. Buktinya, Ojol (Ojek Online) masih boleh bawa penumpang. Selain itu, bus antar daerah tidak dilarang, begitu pula kereta api, dan kapal terbang.

Kedua, lemah koordinasi dan sinkronisasi antar kementerian serta dengan daerah provinsi.
Buktinya, Peraturan Kementerian Kesehatan RI melarang ojol.bawa penumpang. Sebaliknya Kementerian Perhubungan RI membolehkan Ojol bawa penumpang.

Begitu pula dengan daerah dan masyarakat. Berbagai Ormas Islam dan pemerintah Provinsi melarang mudik untuk mencegah penularan Covid-19 di daerah. Akan tetapi, pemerintah membolehkan mudik.

Ketiga, masyarakat mengabaikan PSBB, misalnya kalau keluar rumah tidak pakai masker, masih keluyuran di luar rumah dan tidak peduli arahan pemerintah tentang larangan PSBB.

Tidak Boleh Gagal

PSBB harus sukses dan tidak boleh gagal. Setidaknya ada 3 alasannya.

Pertama, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang diinginkan, seperti penderitaan rakyat yang masif dan lama.

Kedua, untuk memastikan tidak ada gejolak sosial akibat Covid-19.

Ketiga, untuk mencegah terjadinya gejolak politik. Saya memastikan, jika PSBB sukses, maka dalam waktu yang tidak lama, Covid-19 segera diakhiri. Dengan demikian tidak timbul pergolakan politik.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search