Analisis Sosiologis PAN Tanpa Amien Rais, Gerindra Tanpa Prabowo, PDIP Tanpa Megawati

 In Opini, Politik

Kisruh yang terjadi dalam Munas PAN di Kendari yang berakhir dengan terpilihnya kembali Zulkifli Hasan terus berlanjut.

Mundurnya Hanafi Rais sebagai Ketua Fraksi PAN DPR RI dan Anggota DPR RI periode 2019-2025 merupakan kelanjutan dari perpecahan yang terjadi dalam Munas PAN di Kendari.

Penyebab Perpecahan

Perpecahan antara Amien Rais dan Zulkifli Hasan sangat dalam karena terkait dengan strategi perjuangan, PAN mau dibawa ke mana? Kekalahan Mulfachri Harahap, kandidat ketua umum PAN yang didukung Amien Rais, bukan inti persoalan.

Amien Rais, Mulfachri Harahap, Hanafi Rais dan gerbong pendukungnya lebih menginginkan PAN berada di barisan oposisi ketimbang menjadi pendukung pemerintah yang “murahan.”

Pertarungan internal yang terjadi di PAN antara Zulkifli Hasan dan pendukungnya yang mengambil strategi perjuangan cooperative dengan kekuasaan melawan Amien Rais dan pendukungnya yang mengambil strategi perjuangan non cooperative dengan kekuasaan.

Dalam pertarungan dua kekuatan yang termanifestasi dalam pemilihan Ketua Umum PAN di Kendari di dimenangkan oleh Zulkifli Hasan yang cooperative dengan kekuasaan karena didukung kuat oleh penguasa.

PAN Kehilangan Pemilih

Amien Rais ingin PAN menjadi non cooperative atau oposisi dengan kekuasaan, karena manfaat dan mudarat bagi PAN di masa depan.

Pertama, PAN sudah rusak namanya akibat “kisruh” dalam Munas PAN di Kendari yang diberitakan secara luas oleh media. Jejak digital akan selalu diungkit dalam pertarungan politik.

Kedua, ketua umum dan jajaran pengurus PAN menjadi pendukung rezim yang sedang berkuasa, PAN sulit diperbaiki namanya yang sudah rusak karena apapun yang dilakukan sebagai pendukung pemerintah sulit dipercaya karena pendukung, simpatisan dan pemilih PAN bukan pendukung rezim yang sedang berkuasa.

Ketiga, PAN akan kehilangan peluang untuk meraih dukungan suara yang signifikan dalam Pemilu 2024, sebab pendukung dan pemilih PAN dalam Pemilu akan meninggalkan PAN sebagai protes karena PAN mendukung rezim yang mereka tidak dukung.

Keempat, Amien Rais sebagai pendiri utama dan tokoh yang membesarkan PAN disingkirkan secara tidak terhormat, para pendukungnya marah.

Kelima, Amien Rais merupakan simbol PAN. Terlepas memiliki kekurangan, tanpa Amien Rais, PAN akan kehilangan dukungan publik.

Prabowo dan Megawati

Mayoritas masyarakat Indonesia masih menganut faham paternalistik.

Dampaknya sangat besar dalam perpolitikan Indonesia. Kebesaran partai politik banyak ditentukan oleh tokoh yang memimpin suatu partai politik.

Sebagai contoh Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya). Partai itu memperoleh dukungan suara yang besar dalam Pemilu karena faktor Probowo. Tanpa Prabowo, Partai Gerindra tidak akan jadi besar seperti sekarang.

Begitu juga PDIP menjadi besar dan menang beberapa kali dalam Pemilu karena faktor Megawati. Tanpa Megawati, nasib PDIP seperti PDI dulu.

Berdasarkan pengalaman sosiologis, PAN tanpa Amien Rais, akan kehilangan dukungan publik dan tidak mustahil mengalami nasib seperti Partai Hanura setelah Jenderal TNI Purn Wiranto dilengserkan dari Partai Hanura.

PAN tidak bisa disamakan dengan PKS. PKS didirikan pada awal reformasi oleh para mantan aktivis dakwah dikampus. Mereka memiliki kolektivitas yang tinggi dan soliditas yang mumpuni.

Sementara PAN didirikan para tokoh dengan simbolnya Amien Rais sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah. Kelemahan selama ini tidak banyak melibatkan kader dan tokoh Muhammadiyah dalam pengurusan PAN.

Sementara Golkar simbolnya Pak Harto, tetapi dampak reformasi, Akbar Tandjung wujudkan Golkar Baru yang sampai sekarang dipertahankan antara lain pengurusnya sangat besar karena merangkul dan menghimpun semua kekuatan.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search