Musni Umar Socmed

Search

Mural George Floyd di Barcelona Spanyol - IG possibileit

Opini

Kerusuhan Sosial di Amerika Serikat Sebaiknya Jadi Pelajaran Indonesia

George Floyd yang disiksa polisi, merupakan keturunan Afrika Amerika, dan yang menyiksa adalah polisi berkulit putih.

Amerika Serikat adalah negara adidaya yang penduduknya terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Selain itu, penduduknya majemuk (heterogen) dari aspek etnis, agama dan antar golongan.

Dibalik kemajuan, kejayaan dan kehebatan Amerika Serikat, juga mengandung masalah yang tidak kecil, ada sentimen etnis, antara kulit dan kulit hitam.

George Floyd yang disiksa polisi, merupakan keturunan Afrika Amerika, dan yang menyiksa adalah polisi berkulit putih.

Masyarakat keturunan Afrika Amerika, melihat George Floyd disiksa oleh seorang polisi berkulit putih, sehingga George meninggal dunia, langsung mengundang aksi solidaritas sosial di kalangan warga keturunan Afrika Amerika di seluruh Amerika Serikat, yang kemudian berujung dengan kerusuhan dan penjarahan.

Untuk meredam kerusuhan dan pembakaran yang amat merugikan itu, maka “25 kota di Amerika Serikat telah memberlakukan jam malam akibat meluasnya kerusuhan” (katadata.co.id., 31 Mei 2020).

Pemberlakuan jam malam itu lantaran terjadi kerusuhan sosial yang meluas. Pada hal, awalnya hanya merupakan aksi solidaritas atas kematian George Floyd.

Akan tetapi, tanpa diduga aksi solidaritaa terhadap George yang menghadirkan kerumunan massa, akhirnya berubah menjadi kerusuhan, karena rasionalitas hilang dan yang timbul adalah emosi yang tidak terkendali karena menyatu dengan gelombang emosi dalam kerumunan massa.

Penyulut Kemarahan Publik

Dalam era digital, semua peristiwa yang terjadi dimanapun di belahan dunia ini bisa direkam oleh setiap orang dan saat itu juga diberitakan oleh ke seluruh penjuru dunia dan bisa di saksikan oleh siapapun.

Itulah yang terjadi pada diri George Floyd yang direkam pada saat disiksa, kemudian disebar-luaskan secara masif, kemudian mengundang simpati dan solidaritas sosial yang diwujudkan dalam bentuk protes sosial.

Protes sosial semakin masif

Publik Amerika Serikat menyaksikan secara kasat mata, George disiksa oleh seorang polisi berwarga kulit putih sehingga meninggal dunia.

Dampaknya sangat mengerikan karena peristiwa itu menghadirkan sentimen ras antara warga Amerika Serikat yang berkulit hitam dan polisi yang menyiksa George berwarna kulit putih.

Oleh karena kematian George Floyd mengundang isu ras, maka skala protes sosial sangat keras dan menakutkan.

Sebagai sosiolog, cukup mengejutkan saya karena dibalik kemajuan, kehebatan dan kejayaan Amerika Serikat, ternyata persoalan “SARA” (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) sama saja dengan Indonesia yang belum semaju dan sehebat Amerika Serikat.

Pelajaran Bagi Indonesia

Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat karena isu sekretarian yang “mengutamakan” kulit putih.

Oleh karena itu, penyiksaan terhadap George Floyd yang kemudian memunculkan simpati dalam bentuk solidaritas sosial yang berubah menjadi protes dan kerusuhan sosial, saya menduga bukan persoalan satu-satunya, tetapi ada serangkaian kebijakan atau peristiwa sebelumnya, yang biasanya bersumber dari ketidakadilan.

Oleh karena itu, kerusuhan sosial di Amerika Serikat sangat penting dijadikan pelajaran, agar tidak terjadi di Indonesia.

Sehubungan itu, saya mengusulkan sebagai berikut.

Pertama, dalam penegakan hukum supaya dilakukan secara adil dan dihindari penyiksaan pisik terhadap siapapun.

Kedua, perlakuan hukum antara yang mendukung pemerintah dan yang kritis terhadap pemerintah harus seimbang dan adil.

Ketiga, ada perasaan dikalangan umat Islam bahwa mereka dicurigai, sehingga Masjid harus diawasi oleh aparat setiap Jum’at dan jika ada ceramah.

Keempat, aparat harus menjadi pengayom masyarakat jangan menjadi alat penguasa semata dan mengabaikan perlindungan terhadap rakyat.

Kelima, aparat harus mengayomi rakyat, tidak berkata kasar apalagi menyiksa mereka yang ditahan.

Semoga tulisan ini memberi manfaat kepada bangsa Indonesia dan siapapun yang membacanya.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Baca Juga

Politik

Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat tgl 3 November 2020 yang dimenangkan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris, puncaknya akan dilaksanakan pada 21 Januari 2021...

Covid-19

Langkah keadaan darurat diberlakukan setelah demonstran pro-Trump menyerbu gedung Capitol Amerika Serikat dan melakukan kerusuhan (6 Januari 2020) untuk mencegah kongres mensahkan Joe Biden...

Opini

Trump adalah contoh buruk dalam demokrasi. Dia kalah dalam pemilu 3 November 2020, tetapi menuduh pemilu curang tanpa bukti.

Lainnya

Trump memprovokasi para pendukungnya untuk datang ke Gedung Capitol Amerika Serikat menolak pengesahan Joe Biden dan Kamala Harris sebagai pemenang pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Opini

Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat tersebut sampai hari ini 3 Januari 2021, belum mau dinerima Donald Trump atas kemenangan Joe Biden, walaupun hasil ellectoral...

Lainnya

Sistem demokrasi tidak sempurna. Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi, telah menunjukkan boroknya.

Opini

Joe Biden memastikan kemenangannya pada Sabtu (7/11) setelah mengantongi electoral colleges penentu dari Pennsylvania (20) dan Nevada (6), sehingga tokoh kelahiran 20 November 1942...

Opini

Pada saat artikel ini ditulis , belum ada pengumuman resmi dari Panitia Pemilihan Umum Amerika Serikat bahwa Joe Biden dan Kamala Harris telah memenangi...