Bangun Rakyat Indonesia di Desa: Fak. Pertanian UIC Berpartisipasi

 Di Dunia Usaha, Pendidikan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah telah menggelontorkan dana yang amat besar yang disebut “dana desa” untuk membangun desa.

Bahkan pemerintah telah mendirikan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI.

Hal tersebut sangat tepat karena penduduk Indonesia mayoritas berada di desa dan mereka wajib dibangun.

Akan tetapi, jargon membangun Indonesia dari desa tidak direalisasikan. Dalam realitas, para pejabat lebih suka impor segala macam kebutuhan pangan ketimbang memproduksi pangan untuk kebutuhan sendiri.

Dampaknya rakyat di desa hilang gairah untuk membangun desa untuk menanam berbagai macam kebutuhan bangsa Indonesia. Setidaknya ada 5 penyebabnya.

Pertama, para pejabat lebih suka impor ketimbang menyediakan berbagai macam keperluan rakyat desa untuk menanam agar swasembada pangan, karena diduga kalau impor ada komisinya.

Kedua, tidak ada political will untuk mewujudkan kemandirian Indonesia dalam bidang pangan seperti yang pernah dilakukan Presiden Soeharto di masa Orde Baru.

Ketiga, di duga kekuasaan dikendalikan para taipan, sehingga program yang pro rakyat hanya penghias bibir.

Keempat, pemerintahan tidak satu komando, sehingga para menteri bisa mengeluarkan kebijakan yang saling bertabrakan.

Kelima, pemerintah lebih fokus pada pembangunan infrastruktur, sehingga melupakan janji dalam kampanye mau membangun Indonesia dari desa.

Krisis Pangan

Indonesia sedang alami krisis kesehatan, krisis sosial akibat banyak rakyat yang menganggur lantaran mengalami pemutusan hubungan kerja dan banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke Indonesia karena negara tempat mereka bekerja mengalami kesulitan ekonomi, sehingga terjadi pengakhiran hubungan kerja.

Selain itu, Indonesia berpotensi mengalami krisis. Penyebabnya.

Indonesia lebih suka lmpor daripada memproduksi. Saat sekarang ini, berbagai negara di dunia mendekati krisis ekonomi, sehingga setiap negara berusaha melindungi warganya agar tidak kelaparan. Maka, negara importir beras, sekitar 70-80% hasil produksi mereka di stock untuk kepentingan dalam negeri.

Indonesia bisa mengalami kesulitan mengimpor beras, sementara kebutuhan dalam negeri jauh lebih besar ketimbang dengan kemampuan memproduksi beras.

Selain itu, kebutuhan primer lain yang selama era Orde Reformasi lebih banyak diimpor daripada menggenjot produksi dalam negeri.

Oleh karena itu, momentum menjelang krisis ekonomi yang hampir pasti dialami Indonesia dan banyak negara, sudah saatnya bangsa Indonesia memproduksi kebutuhan pangan secara masif.

Kalau ada kelebihan dari hasil produksi pangan dalam negeri bisa di ekspor ke negara lain yang pasti amat memerlukan pangan untuk memastikan warganya terhindar dari kelaparan.

Dalam rangka itu Fakultas Pertanian Universitas Ibnu Chaldun, merasa bertanggungjawab untuk mengambil bagian dalam membangun rakyat Indonesia di desa.

Potensi alam tersedia di kampung pasir, desa selaawi, kecamatan pasawahan, kabupaten Purwakarta, seluas 12 HA yang dimiliki keluarga H. Edy Haryanto, SH., MH., Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun, yang pada 18 Juni 2020, saya selaku rektor UIC, Dr. Baharuddin, wakil Rektor bidang akademik, Dr. Sulhan, kepala LPM dan Dr. Akrab Najamuddin, dekan Fak. Pertanian UIC telah meninjau lokasi untuk pengembangan Fakultas Pertanian Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Berikut foto-foto kegiatan

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search