Krisis Corona, Krisis Sosial dan Krisis Ekonomi: Malah Buat RUU Haluan Ideologi Pancasila

 Di Covid-19, Opini, Politik, Sosial, Top

Sejatinya dalam menghadapi wabah corona yang telah memberi dampak negatif hadirnya krisis kesehatan yang terus meningkat jumlah positif corona, semua bersatu dan fokus mengatasi corona.

Data terbaru corona di Indonesia (19/6/2020), positif corona 43.803, meninggal dunia 2.373, sembuh 17.349 (CNN Indonesia, 19 Juni 2020).

Begitu juga akibat corona telah meruntuhkan sendi-sendi ekonomi, sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meluas di berbagai perusahaan.

Selain itu, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di berbagai negara, juga mengalami masalah akibat corona, sehingga banyak diakhiri hubungan kerja mereka dengan majikan. Dampaknya mereka terpaksa kembali ke Indonesia.

Corona, banyak rakyat yang ODP (Orang Dalam Pengawasan) PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan positif corona. Dampaknya banyak yang mengalami kesulitan yang disebabkan sakit, jatuh miskin, dan berbagai persoalan sosial yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia.

Kondisi yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia, saya sebut sebagai krisis sosial.

Selain itu, hampir pasti berdasarkan penjelasan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrwati bahwa tahun 2020 defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bakal melebar hingga 6,72 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau mencapai Rp 1.028,5 triliun (kompas.com, 18 Mei 2020).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 minus 3,8 persen (Bisnis.com, 19 Juni 2020)

Dengan demikian hampir pasti, Indonesia menghadapi 3 krisis yaitu krisis corona (kesehatan), krisis sosial dan krisis ekonomi.

Bersatu dan Bersama

Pemerintah dan DPR sejatinya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu dan bersama mengatasi 3 krisis yang dikemukakan, malah membuat Rancangan Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang menimbulkan kontroversial dan memecah bela bangsa Indonesia.

Mereka yang mengajukan RUU Haluan Ideologi Pancasila, menurut saya sangat tidak peka dan tidak menyadari bahwa RUU HIP bisa membangkitkan kembali memori kolektif pertarungan ideologi dengan menyantumkan dalam “RUU Haluan Ideologi Pancasila”
Konsep Trisila yang diantaranya menyebut “Ketuhanan yang berkebudayaan” dan Ekasika yaitu “Gotong Royong.”

Trisila dan Ekasika merupakan pidato Bung Karno yang sering diulang Megawati Sukarnoputri dalam berbagai pidatonya.

Oleh karena itu, sangat wajar kalau umat Islam, ormas Islam, ulama, purnawirawan, cendekiawan, aktivis dan mahasiswa bangkit dan memberi reaksi penolakan yang keras terhadap RUU tersebut yang dinilai mau mengubah Pancila dengan menghilangkan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

RUU HIP telah memunculkan kembali memori kolektif “pertarungan ideologi” 7 kata dalam Piagam Jakarta “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang dicoret sehingga sila pertama dalam Pancasila menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pengorbanan umat Islam yang amat besar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang akhirnya rela menghilangkan hasrat untuk yang menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan rela pula dihapus 7 kata dalam Piagam Jakarta, mau dikhianati dengan konsep Trisila dan Ekasila, yang kemudian dikaitkan dengan kebangkitan komunisme, marxisme, dan leninisme.

Jadi tidak salah kalau ada yang mengatakan, RUU HIP membuka kembali luka lama yang sudah sembuh dengan menghidupkan kembali konsep Trisila dan Ekasila Bung Karno.

Oleh karena itu, umat Islam pada khususnya sepakat RUU Haluan Ideologi Pancasila dihapus bukan ditunda dalam prolegnas DPR RI.

Pancasila telah menjadi norma dan sumber utama hukum di Indonesia, sehingga tidak perlu dibuat UU Haluan Ideologi Pancasila.

Tugas pemerintah, DPR, partai politik dan seluruh bangsa Indonesia adalah mengamalkan seluruh sila Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search