Connect with us

Sawah/ ladang padi di Indonesia - unsplash Claudia O.

Dunia Usaha

Dipa Alumnus UGM Indonesia dan Nurul Alumnus Kolej Antarbangsa Sultan Ismail Petra Malaysia Memilih Jadi Petani: UIC Siap Kolaborasi

Menjadi petani harus memiliki jiwa wirausaha, karena hasil pertanian harus bisa dijual di pasar dalam dan luar negeri.

Alumni berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia, pada umumnya lebih memilih bekerja dikantor ketimbang menjadi petani.

Setidaknya ada 5 alasan, para alumni perguruan tinggi belum banyak yang memilih menjadi petani.

Pertama, menjadi petani masih dianggap bukan profesi yang bergengsi, sehingga tidak banyak tamatan perguruan tinggi yang memilih menjadi petani.

Kedua, menjadi petani harus mau belajar lagi, jika bidang studi di perguruan tinggi bukan bidang pertanian. Pada umumnya mau cepat kerja, cari jodoh dan segera menikah. Walaupun dalam kenyataan, tidak mudah mencari pekerjaan setelah tamat dari perguruan tinggi.

Ketiga, menjadi petani memerlukan dana untuk modal kerja. Sementara, kalau bekerja pada orang lain, tidak memerlukan modal, hanya surat lamaran kerja.

Keempat, menjadi petani, memerlukan keberanian dan kemauan keras untuk maju dan mandiri. Apatah lagi jika tidak memiliki tanah warisan dari orang tua yang bisa diolah menjadi lahan pertanian.

Kelima, menjadi petani harus memiliki jiwa wirausaha, karena hasil pertanian harus bisa dijual di pasar dalam dan luar negeri. Pada hal, banyak alumni perguruan tinggi yang tidak dibekali jiwa wirausaha.

Cara Menjadi Petani

Menjadi petani sebenarnya tidak sulit. Setidak ada 5 kiat untuk menjadi petani.

Pertama, ada ilmu dalam bidang pertanian khususnya yang akan diterjuni misalnya Nurul di Malaysia, dia bertanam terong (terung), harus memiliki ilmu tentang cara merawat terong. Tetapi ilmu merawat terong bisa buka google atau belajar pada orang lain.

Kedua, harus bisa melakukan aliansi strategis dengan pemilik lahan pertanian. Misalnya tiga orang alumni perguruan tinggi membuat proposal kepada pemilik lahan pertanian dengan sistem bagi hasil. Modal kerja sangat perlu disiapkan oleh pemerintah.

Ketiga, harus siap bersusah-susah dahulu, karena menanam apapun memerlukan waktu setidaknya dua bulan paling cepat baru bisa panen hasil pertanian.

Keempat, harus rajin dan kerja keras pada awal menjadi petani.

Kelima, harus siap berpanas-panas dan berhujan-hujan.

Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi bisa berkebun dilahan yang tidak luas, kebun hidroponik untuk menanam sayur-sayuran yang bisa dijual di swalayan atau dipasarkan sendiri.

Peluang Sektor Pertanian

Pandemi covid-19 telah menghadirkan krisis multi dimensional dalam berbagai bidang termasuk di bidang pangan.

Pangan adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Manusia sangat membutuhkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya.

Selain itu, manusia memerlukan sayur-sayuran seperti terong yang dikembangkan Nurul di Malaysia.

Saya belum tahu apa yang akan dikembangkan Dipa di Indonesia. Sangat banyak jenis buah-buahan yang dapat dikembangkan dan harganya dipasaran cukup bagus seperti buah melon, semangka, pisang sunpride dan lain-lain.

Adapun jenis sayur-sayuran yang amat diperlukan seperti kol atau kubis, brokoli, sawi calsim, kailan, bayam hijau, bayam merah, kangkung dan sebagainya.

Peluang bisnis di bidang sayur-sayuran sangat besar. Indonesia masih impor sayur-sayuran dari China senilai Rp 11,55 triliun pertahun.

Kolaborasi

Universitas Ibnu Chaldun Jakarta memiliki Fakultas Pertanian dengan Dekan Dr. Akrab Najamuddin, alumnus dari IPB.

Kami memiliki kepakaran dan sedang merintis pembukaan lahan di Purwakarta, Jawa Barat seluas 12 Hektar.

Tanah tersebut milik H. Edy Haryanto, Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun (YPPIC) yang merupakan badan hukum Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Selaku rektor didampingi Dr. Baharuddin, Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Sulhan, Kepala LPM UIC dan Dr. Akrab Najamuddin, Dekan Fak. Pertanian, beberapa waktu lalu kami sudah melihat dari dekat lahan tersebut dan sangat layak dikembangkan dengan melibatkan para pemuda di desa sebagai mahasiswa dan petani.

Kami siap berkolaborasi dengan Dipa dan Nurul dan lain-lain dalam rangka memajukan kaum pribumi di Indonesia dan Malaysia.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Baca Juga

Pendidikan

Apa yang saya lakukan, akhirnya memberi dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan Universitas Ibnu Chaldun. Karena melalui bantuan beasiswa tersebut saya lobby ke mana-mana,...

Pendidikan

Musni Umar, Rektor Universitas Ibnu Chaldun pada saat silaturrahim dan rapat pimpinan universitas dan pimpinan fakultas mengemukakan pentingnya mempertahankan dan meningkatkan kemajuan Universitas Ibnu...

Pendidikan

Bersama Fahira Idris, Anggota DPD RI, Hiapolo Filantropi Indonesia dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ibnu Chaldun FISIP UIC melaksanakan bakti sosial...

Pendidikan

egiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Fakultas Farmasi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Ibnu Chaldun berkolaborasi dengan PT Kalbe Farma dan PT Alfa Midi dibuka...

Pendidikan

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun menggelar mimbar demokrasi di UIC. Diundang Ketua yayasan, rektor, para wakil rektor, para dekan, dosen dan para pimpinan...

Pendidikan

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW secara virtual ini dilaksanakan Pusat Pengkajian Islam dan Humas Universitas Ibnu Chaldun dengan tema Dengan Isra Mi'raj Kita...

Pendidikan

Rektor Universitas Ibnu Chaldun saat memberi sambutan untuk melepas mahasiswa (i) Fakultas Ekonomi yang mau melakukan abdi masyarakat yang disebut Kuliah Kerja Nyata (KKN)...

Pendidikan

Bersamaan dengan pelantikan pengurus pusat MAPORINA masa bakti 202102026, pengukuhan pengurus wilayah seluruh Indonesia yang dilakukan secara daring serta peringatan Ulang Tahun MAPORINA ke-22