Kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallah” Semarakkan Demo Besar-besaran Tolak RUU HIP di Depan DPR RI

 Di Opini, Politik, Sosial, Top

Demo besar-besaran yang menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila akhirnya berlangsung semarak di depan DPR RI pada 24 Juni 2020.

Demonstrasi besar-besaran ini menurut saya cukup menarik karena KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii, ulama besar Betawi dari mobil komando memandu massa yang demo untuk mengucapan kalimat tauhid “Laa ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah” serta selawat kepada Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh seluruh pendemo.

Ungkapan tauhid yang berkumandang bertalu-talu di suasana demo besar-besaran menolak RUU HIP sangat menggentarkan hati karena mereka yang menghayati makna tauhid rela mati dalam membela agamanya.

Sepi Pemberitaan: Massa Membludak

Saya sangat prihatin demo yang begitu besar dan inti persoalan yang disuarakan adalah menyelamatkan Pancasila dan NKRI dari upaya mempreteli Pancasila dengan konsep Trisila dan Ekasila, justru tidak diliput oleh media.

Apa benar atau hanya hoax, yang meliput dan memberitakan demo besar-besaran hanya TV ONE.

Walaupun tidak diberitakan media mainstream, tetapi informasi tentang demo besar-besaran yang menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila tetap diketahui secara luas oleh masyarakat melalui pemberitaan media online.

Gelora, sebuah media online memberitakan dengan tajuk “Massa Aksi Tolak RUU HIP Membludak, Jalan Gatot Subroto Ditutup Total” (geloranews, 24 Juni 2020).

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) Yusuf Martak dari mobil komando terus menghimbau agar peserta demo tidak melepas masker dan menjaga jarak, tetapi karena banyaknya massa yang mengikuti demo menolak RUU HIP tidak terhindarkan kerumunan massa.

Saking ramainya massa yang demo, jalan Gatot Subroto depan DPR RI menuju slipi ditutup dan kendaraan dialihkan menuju Gedung TVRI dan dibawah flyover dekat Gerbang Stasion Gelora Bung Karno.

Buang Badan Parpol

Diduga keras fraksi-fraksi di DPR RI yang merupakan representasi dari partai-partai politik, tidak akan mau mengorbankan masa depan mereka demi membela RUU Haluan Ideologi Pancasila.

Rakyat dari berbagai elemen telah bersatu, bagaikan gelombang besar di tengah laut yang tengah menggelora menolak keras RUU HIP.

Bagaimana kesudahan RUU HIP, dan apakah gelombang protes akan berakhir kalau RUU tersebut ditarik dari Proglegnas DPR RI?

Sulit mengungkapkannya hal itu karena di bulan-bulan mendatang hampir dipastikan tidak hanya krisis ekonomi malah depresi ekonomi akan melanda Indonesia, bisa saja terjadi gelombang protes dahsyat.

Oleh karena itu, saya menyarankan supaya para pemimpin di pemerintahan dan parlemen harus ekstra hati-hati dalam mengemukakan pandangan seperti wacana pemilu serentak diundur tahun 2027 sehingga masa jabatan Presiden Jokowi 8 tahun, bisa semakin memancing kemarahan rakyat.

Harus diingat bahwa sekarang ini dan pada bulan-bulan mendatang, mayoritas rakyat Indonesia akan semakin sulit kehidupannya akibat krisis ekonomi dan depresi ekonomi. Dalam keadaan sulit, rakyat amat sensitif, cepat emosi dan marah.

Oleh karena itu, demo besar-besaran RUU HIP dapat menjadi pelajaran bahwa massa dalam jumlah besar terbukti bisa berhimpun tanpa mereka dibayar.

Harus ingat, sejarah selalu berulang jika terjadi krisis ekonomi. Kalau kita tidak sadar dan tidak hati-hati, sejarah bisa berulang.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search