Amerika Serikat Vs China: Indonesia Bisa Seperti Pelanduk Mati Ditengah-Tengah

 In Lainnya, Opini, Politik, Sosial

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompea dalam sebuah konferensi virtual Forum Brussels, menganggap Partai Komunis China (CPC) adalah ancaman.

Mike Pompea memastikan bahwa pasukan Angkatan Bersenjata AS akan ditempatkan di sejumlah lokasi baru.

Pengerahan ini ditegaskan Pompea adalah bagian dari perlawanan terhadap ancaman Partai Komunis China.

Setelah memastikan bahwa AS bakal melakukan transfer masif pasukan ke India, sejumlah negara Asia Tenggara juga dalam pengawasan militer AS. Salah satu yang disebut Pompea adalah Indonesia (viva.co.id, Jum’at, 26 Juni 2020).

Sebagai sosiolog, saya anggap amat penting saya sampaikan analisis sosiologis yang bakal dihadapi bangsa Indonesia atas perseteruan dan persaingan antara Amerika Serikat dengan China.

Amerika Serikat Vs China: Indonesia Dalam Bahaya

Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk sekitar 265 juta telah menjadi pusat perebutan pengaruh oleh Amerika Serikat dan China.

Pada masa Orde Lama, Indonesia berada dalam pengaruh China, sehingga muncul istilah Jakarta poros Peking.

Setelah terjadi pemberontakan G30S PKI tahun 1965, Indonesia kemudian melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan China, dan Indonesia sepenuhnya berada dalam pengaruh Amerika Serikat.

Akan tetapi, setelah terjadi reformasi dan dalam lima tahun terakhir, hubungan Indonesia dengan China sangat meningkat yang ditandai dengan besarnya investasi China di Indonesia.

Ternyata peningkatan hubungan antara Indonesia dengan China dalam bidang ekonomi, dianggap oleh Amerika Serikat sebagai ancaman Partai Komunis China.

Oleh karena itu, Indonesia termasuk salah satu negara dalam pengawasan militer Amerika Serikat.

Berdasarkan pernyataan Menlu Amerika Serikat tersebut, bangsa Indonesia menurut saya dalam bahaya.

Pertama, ketegangan dalam negeri akan meningkat. Amerika Serikat saat ini tidak suka hubungan Indonesia yang sangat akrab dengan China.

Kedua, China yang sudah berinvestasi besar di Indonesia akan mempertahankan penguasa demi kelangsungan program OBOR (One Belt One Road) mereka di Indonesia.

Ketiga, investasi model China di Indonesia, semua dibawah dari China yaitu modal, tehnologi, mesin, pangan dan tenaga kerja (buruh), gugatan publik akan semakin meningkat.

Keempat, umat Islam yang mayoritas tidak suka China karena membawa ideologi komunis, marxisme dan leninisme, tidak tertutup kemungkinan dimanfaatkan dan juga memanfaatkan Amerika Serikat.

Kelima, krisis ekonomi dan depresi ekonomi yang bakal menimbulkan krisis sosial di Indonesia saya duga akan dimanfaatkan.

Nasihat saya sebagai sosiolog, jangan sampai pertarungan antara Amerika Serikat dengan China dalam memperebutkan Indonesia, membuat bangsa Indonesia bagaikan pelanduk mati ditengah-tengah, apalagi pecah belah seperti Uni Sovyet dan Yugoslavia. Nauzubillah.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search