Rakyat Sudah Menolak RUU HIP: Sebaiknya Tidak Dipaksakan

 In Opini, Politik, Sosial

Seluruh Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, MUI, serta Ormas Pemuda Pancasila, Purnawirawan TNI-POLRI dan lain-lain sudah menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila.

Indonesia telah dikepung demonstrasi dari berbagai daerah seluruh Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Pontianak, Palembang, Batam, Poso, Garut, Tasikmalaya, Purwakarta, Purwokerto dan lain-lain menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila.

Setidaknya ada tiga alasan, rakyat menolak RUU HIP dan mendesak untuk dibatalkan.

Pertama, alasan ideologis. Pancasila telah diperas menjadi Trisila dan Ekasila yang dicantumkan dalam RUU HIP. Ini merupakan kesalahan besar yang bisa disebut sebagai “makar” karena bermaksud mengubah Pancasila.

RUU HIP telah ditengarai mengandung unsur sekularistik dan ateistik. Mengapa? Karena sila pertama dalam Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” diperas ke dalam konsep “Trisila” menjadi “Ketuhanan yang berkebudayaan.”

Makna “Ketuhanan yang berkebudayaan,” bahwa ajaran Tuhan yang terdapat dalam kitab suci, hanya akan diberlakukan jika sesuai dengan kebudayaan. Beda halnya kalau “kebudayaan yang berketuhanan,” artinya kebudayaan akan diberlakukan sesuai ajaran Tuhan dalam kitab suci.

Dengan demikian, sangat beralasan kalau RUU HIP disebut mengandung unsur sekularistik dan ateistik.

Kedua, alasan sosiologis. Rakyat telah melakukan demonstrasi di berbagai seluruh Indonesia yang menolak RUU HIP. Maka tidak ada pilihan RUU HIP harus dibatalkan, dicabut dari Program Legislasi Nasional DPR RI karena mayoritas rakyat Indonesia telah menolak RUU tersebut.

Ketiga, alasan politik. Rakyat dalam demokrasi adalah “yang berdaulat – berkuasa.” Kekuasaannya diberikan kepada wakil-wakilnya dalam pemilihan umum. Mereka yang duduk di parlemen, adalah representasi dari rakyat. Sejatinya bukan representasi partai politik yang diatur oleh
maunya oligarki partai politik yang berkolaborasi dengan penguasa.

Ketika rakyat demo menolak RUU HIP, maka para wakil rakyat di parlemen tidak punya pilihan kecuali mendengarkan aspirasi rakyat.

Tidak Usah Dipaksakan

Rakyat melalui berbagai Ormas besar dan pemuda serta purnawirawan TNI-POLRI, telah menolak RUU HIP.

Sebaiknya tidak usah dipaksakan, karena telah kehilangan kepercayaan publik terhadap RUU HIP. Mau diubah judul, dihilangkan berbagai hal yang krusial seperti Trisila dan Ekasila, tidak ada gunanya karena telah kehilangan kepercayaan dari rakyat.

Sebaiknya partai pengusung RUU HIP bersikap “gentlement,” terbuka, legowo, mengaku bersalah dan minta maaf. Moga-moga bisa meredahkan situasi tegang dan kembali damai.

Kita perlu fokus mengatasi krisis corona yang telah menghadirkan krisis ekonomi, agar kita terhindar dari krisis sosial dan krisis politik.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search