Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin Diujung Tanduk: Mahathir Ramal Akan Jatuh

 Di Opini, Politik, Top

Dewan Rakyat atau Parlemen Malaysia pada 13 Juli 2020 akan bersidang. Media memberitakan bahwa ada 4 agenda yang akan dibahas, diantaranya mengganti Ketua Parlemen Mohd Ariff Yusof dari (Pakatan Harapan-Amanah), Wakil Ketua Parlemen Mohd Rashid Hasnon (Pakatan Harapan-PKR) dan Wakil Ketua, David Nga (Pakatan Harapan-DAP).

Penggantian Ketua dan 2 Wakil Ketua Parlemen Malaysia dari Pakatan Harapan merupakan batu ujian pertama bagi Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri Malaysia, apakah berhasil atau gagal.

Kalau sukses mengganti Ketua Parlemen dan 2 Wakil Ketua Parlemen Malaysia dari Pakatan Harapan, dapat dimaknai bahwa Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memiliki dukungan yang kuat dan solid di parlemen.

Sebaliknya, jika gagal mengganti Ketua Parlemen dan 2 Wakil Ketua Parlemen, yang semuanya dari Pakatan Harapan yang memenangi Pimilu Malaysia 9 Mei 2018, berarti Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tidak memiliki dukungan parlemen dan akan jatuh.

Dukungan Sangat Minim

Sebagaimana diketahui bahwa jumlah anggota parlemen Malaysia sebanyak 222 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 113 anggota parlemen yang mendukung Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

Kecilnya dukungan anggota parlemen Malaysia terhadap Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Malaysia sangat mudah dijatuhkan.

Apalagi dalam krisis pandemik covid-19, sangat mudah menggoyang Perdana Malaysia.

Oleh karena itu, sangat menarik ramalan Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang juga anggota parlemen Malaysia bahwa Muhyiddin Yassin, Perdana Menteri Malaysia akan jatuh.

Pertanyaannya, apa yang membuat anggota parlemen Malaysia tidak mendukung PM Muhyiddin Yassin?

Setidaknya ada tiga alasan mayoritas anggota parlemen tidak mendukung Muhyiddin Yassin.

Pertama, Anggota parlemen Malaysia sudah terikat dengan partai politik mereka. Mereka tidak mau berkhianat.

Kedua, proses terpilihnya Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri bukan melalui pemilihan umum (pilihan raya), tetapi melalui pintu belakang, setelah beberapa anggota parlemen dari PKR dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) khianat dengan bergabung bersama anggotan parlemen dari UMNO, PAS dan partai-partai kecil lainnya untuk membentuk pemerintahan baru.

Ketiga, secara etik dan moral banyak yang menyesalkan karena melalui pengkhianatan, Malaysia berada dalam proses politik yang gaduh dan tidak menguntungkan Malaysia dalam pengamalan demokrasi.

Akan tetapi, semuanya telah terjadi, pemerintahan Mahathir Mohamad hasil pilihan raya (pemilu) ke-14 yang dimenangi Pakatan Harapan telah digantikan oleh pemerintahan Perikatan Nasional dengan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

Pertanyaannya? Apakah Muhyiddin Yassin dapat mempertahankan kedudukannya sebagai Perdana Menteri Malaysia dalam sidang parlemen Malaysia yang akan dimulai 13 Juli 2020, atau akan menjadi Perdana Menteri Malaysia paling singkat dalam sejarah politik Malaysia? Kita ikuti perkembangannya.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search