Arab Saudi: Diharapkan Jadi Pemersatu Negara-Negara Arab dan Dunia Islam

 In Covid-19, Lainnya, Opini, Politik

Arab Saudi adalah sebuah negara di Timur Tengah dengan sistem pemerintahan berbentuk monarki absolut. Kerajaan ini didirikan pada 1932 oleh Ibnu Saud. Dia mempersatukan empat wilayah yaitu Hijaz, Nejad, Madinah dan Makkah kedalam sebuah negara tunggal dengan Ibu kota Riyadh.

Raja yang sedang bertahta saat ini ialah Salman Bin Abdul Aziz.

Arab Saudi kembali menjadi perbincangan di media karena raja Salman Bin Abdul Aziz yang berumur 84 tahun jatuh sakit dan telah dirawat di rumah sakit King Abdul Aziz.

Pihak Royal Court mengatakan, raja Salman yang telah memerintah negara kaya minyak sejak 2015 ini masih menjalani pemeriksaan medis. Namun, Royal Court tidak memberikan rincian lebih lanjut perihal kondisi kesehatan Raja Salman.

Khadimul Haramain

Secara historis, raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud melanjutkan kebijakan para pendahulunya sebagai “khadimul haramain” (pelayan dua tanah haram yaitu Makkah dan Madinah).

Selain itu, setiap musim haji, raja Salman seperti para raja Saudi sebelumnya selalu mengundang para tokoh dan pemimpin Islam di seluruh dunia untuk menunaikan ibadah haji sekaligus sebagai tamu raja.

Akan tetapi tahun ini (2020), akibat wabah covid-19, pelaksanaan ibadah haji dibatasi. Bahkan Indonesia, tidak ada jamaah yang di bolehkan menunaikan haji, untuk mencegah penularan wabah covid-19.

Klaim Arab Saudi sebagai “khadimul Haramain,” telah digugat oleh pemerintah republik Islam Iran.

Bagi pemerintah Iran, status kota suci Makkah dan kota suci Madinah, lebih tepat kalau berada di bawah pengelolaan internasional umat Islam.

Akan tetapi, usulan pemerintah republik Islam Iran itu, tidak pernah mendapat respon positif dari para pemimpin Islam.

Kiprah di dunia Internasional

Kiprah raja Salman di dunia Islam khususnya dalam menolong bangsa Palestina yang sudah puluhan tahun dijajah oleh Israil, bangsa Uighur yang ditindas China agar meninggalkan agama mereka dengan kerja paksa dan intimidasi, bangsa Rohingya yang ditindas di Miyanmar, dan lain-lain, raja Salman dan pemerintahannya tidak nampak memberi perhatian.

Akan tetapi, untuk membendung gerakan Houthi di Yaman yang sudah menguasai Sana’a, ibu kota Yaman, Arab Saudi melakukan intervensi. Bersama koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi, berperang membantu Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi yang digulingkan oleh pasukan Houthi.

Akan tetapi, pasukan Arab yang dipimpin Arab Saudi tidak berhasil mengakhiri konflik di Yaman. Arab Saudi sangat banyak berkorban dalam perang melawan Houthi di Yaman yang didukung Iran, tetapi konflik yang sudah berlangsung lama, tidak ada tanda-tanda akan segera berakhir.

Penengah dan Pendamai

Konstitusi Arab Saudi menegaskan bahwa negara itu berdasarkan Islam. Bahkan bendera negara itu bertuliskan Laa Ilaaha illallah muhammadar rasuulullah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Muhammad Rasulullah).

Arab Saudi sebagai negara Islam dan 2 kota suci yaitu Makkah dan Madinah berada di kerajaan Arab Saudi, sebaiknya Arab Saudi di masa depan tidak terlibat dalam mendukung salah satu kekuatan di tiap negara Arab ataupun di dunia Islam yang berkonflik.

Pengalaman di Yaman, Mesir, Libanon, Suriah dan Sudan, media memberitakan bahwa Arab Saudi secara diam-diam dan terus terang mendukung kelompok yang berkonflik, maka sesuai prinsip Islam yang dianut, sebaiknya Arab Saudi menjadi penengah dan pendamai.

Dengan demikian, Islam yang dijadikan Arab Saudi sebagai dasar negara, memberi solusi dan jalan damai, bukan ikut mengobarkan peperangan sesama saudara seagama yang berada dalam satu negara.

Arab Saudi di masa depan, diharapkan menjadi perekat, pengikat dan pemersatu dibawah panji ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah Wathaniyah setidaknya di dunia Arab dan dunia Islam.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search