Donald Trump dan Peluang Menang Pemilihan Presiden 2020

 In Lainnya, Opini, Politik

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Amerika Serikat akan dilaksanakan pada Selasa pertama bulan November 2020.

Setiap 4 tahun sekali, rakyat Amerika Serikat memilih seorang Presiden dan Wakil Presiden, dan setiap dua tahun sekali, rakyat Amerika Serikat memilih 435 anggota DPR dan sepertiga dari 100 anggota Senat Amerika Serikat. Masa bakti anggota DPR dan anggota Senat 4 tahun.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Amerika Serikat dapat dikatakan Pemilu tidak langsung, karena walaupun seorang calon Presiden dan Wakil Presiden menang dalam popular vote, tidak otomatis memenangkan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Mengapa? Karena konstitusi Amerika Serikat mensyaratkan dilakukan proses Electoral College, yaitu sistem di mana setiap negara bagian menentukan elector (sekelompok orang yang terpilih) untuk memilih Presiden dan Wakilnya setelah pemilihan Popular Vote dilakukan.

Electoral College akan dilaksanakan pada hari Senin pertama setelah hari Rabu Minggu kedua bulan Desember.

Merosot Dukungan Publik

Pada umumnya Presiden Amerika Serikat (incumbent/petahana) memenangkan pemilihan Presiden untuk 4 tahun berikutnya.

Akan tetapi, Presiden Donald Trump, secara sosiologis tidak memiliki peluang yang besar untuk menang dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada awal November 2020.

Setidaknya ada 3 alasan, Donald Trump tidak memiliki peluang yang besar untuk memenangi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2020.

Pertama, kegagalan Trump menangani kemarahan publik Amerika Serikat atas kematian George Floyd yang dibunuh polisi berkulit putih. Dampaknya terjadi gelombang protes di seluruh Amerika Serikat hingga ke penjuru dunia.

Untuk memadamkan protes sosial tersebut, Donald Trump mengancam akan mengerahkan ribuan pasukan bersenjata, jika aksi protes atas kematian Floyd tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah kota dan pemerintah negara bagian. Para pendemo menuntut keadilan atas diskriminasi serta reformasi di tubuh kepolisian.

Kedua, kegagalan Trump menangani wabah corona di Amerika Serikat. Sampai 17 Juli 2020, total kasus corona di Amerika Serikat dikonfirmasi 4,36 juta, sembuh 9,4 juta, meninggal dunia 150 ribu.

Tingginya kasus corona dan kematian di Amerika Serikat dapat dikatakan merupakan kegagalan Donald Trump.

Ketiga, merosotnya dukungan golongan kulit putih di Amerika Serikat terhadap Trump. Pada hal pendukung fanatik Donald Trump untuk terpilih menjadi Presiden Amerika adalah golongan masyarakat kulit putuh.

Indikator merosotnya dukungan golongan masyarakat kulit putih Amerika Serikat terhadap Trump dapat dilihat dari aksi demonstrasi yang memprotes kematian George Floyd, tidak hanya golongan masyarakat kulit hitam, tetapi juga dari golongan masyarakat kulit putih yang mayoritas mendukung dan memilih Donald Trump dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat 4 tahun lalu.

Peluang Terpilih Kembali Kecil

Berbagai lembaga di Amerika Serikat telah melakukan survei. Hasilnya menunjukkan bahwa peluang menang Donald Trump tidaklah besar.

Hasil survei Siena College/The New York Times upshot yang dirilis 24/6/2020 mempertegas kecilnya peluang Trump untuk menang.

Hasil survei tersebut menempatkan Biden unggul 2 digit 14 point dengan dukungan 50% pemilih. Trump tertinggal jauh dengan raihan suara 36%.
(Kompas.com, 22 Juni 2020).

Biden mendapat dukungan kuat dari pemilih perempuan, pemilih muda, golongan minoritas dan hispanik.

Biden juga unggul secara Electoral College hasil survei di sejumlah swing state seperti Wisconsin, Pennsylvania, Michigan, Arizona, North Carolina, dan Florida.

Jika tidak ada keajaiban, maka Donald Trump akan mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai Presiden Amerika Serikat pada Desember 2020

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search