Indonesia Hadapi Multi Krisis Yang Tidak Mudah Diatasi – Fordis ICS Kahmi

 In Covid-19, Dunia Usaha, Lainnya, Sosial

Bangsa Indonesia sedang mengalami multi krisis yaitu krisis kesehatan (covid-19), krisis ekonomi (pertumbuhan minus 5,32%), krisis sosial (pengangguran dan kemiskinan yang masif) dan resesi ekonomi yang sudah diambang pintu.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi terbatas yang dilaksanakan Forum Diskusi Insan Cita Sejahtera (Fordis ICS) Kahmi bertempat di aula Kahmi Center (19/8/2020) yang membahas “Perkiraan Keadaan (Kirka) dari Aspek Ekonomi dan Politik,” dengan narasumber Dr. Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian Republik Indonesia.

Sektor Pertanian Hadapi Masalah

Fahmi Idris menggambarkan bangsa Indonesia sebagai pemakan beras sedang menghadapi permasalahan yang tidak kecil. Sebagai contoh, areal persawahan saat ini seluas 7,46 juta Ha dengan hasil produksi beras sebanyak 31,31 juta ton, lebih rendah dari tahun sebelumnya (1998) sebesar 33 juta ton beras.

Lebih memprihatinkan lagi karena luas areal persawahan terus mengecil akibat berubah fungsi menjadi real estate. Selain itu, banyak sektor industri mengambil lahan persawahan yang sangat produktif

Selain itu, Indonesia hanya bisa menghasilkan produksi beras 3-4 ton/Ha. Dia memberi contoh Jepang yang bukan pemakan utama beras sangat berhasil dalam penelitian padi, sehingga umur padi di Jepang singkat dan pendek. Begitu juga RRC hasil pertanian mereka bisa memproduksi beras 15 ton per Ha.

Selama ini, Indonesia selalu mengandalkan impor untuk menutup kekurangan produksi beras dalam negeri, karena sangat menguntung bagi importir.

Sektor Industri Merosot

Fahmi Idris juga mengemukakan sektor industri Indonesia yang pernah mencapai total hasil industri sebesar 31%. Jika suatu negara mencapai 30-33 % hasil industrinya bisa disebut negara industri.

Saat ini Indonesia mengalami penurunan luar biasa di sektor industri, sehingga tidak bisa diandalkan untuk menampung limpahan tenaga kerja dari sektor pertanian.

Konsumsi: Prime Mover Pertumbuhan?

Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan (14/8/2020) mengemukakan bahwa tahun 2021 diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mecapai 4.5-5%. Menurut Fahmi Idris sulit dicapai karena semua sektor tidak bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Sektor konsumsi rumah tangga yang diharapkan bisa menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi sulit dicapai, karena meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Musni Umar menambahkan bahwa masalah kemiskinan sejatinya sangat besar jumlahnya. BPS mengemukakan jumlah penduduk miskin mencapai 26,42 juta. Akan tetapi, garis kemiskinan yang ditetapkan sangat rendah sebesar 425.250 per kapita perbulan. Jika dibagi 30 hari kerja, maka garis kemiskinan perkapita (perkepala) sebesar Rp14.175 per hari. Tidak ada yang bisa hidup dengan penghasilan sebesar itu.

Muhajir Efendi, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI bahwa jumlah keluarga miskin di Indonesia mencapai 76 juta.

Mengenai pengangguran Musni Umar mengemukakan data BPS per februari meningkat sebesar 6,88 juta. Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa memprediksi jumlah pengangguran tahun depan bisa mencapai 12,7 juta orang.

Kombinasi pengangguran yang besar dan kemiskinan yang masif menurut Dr. Ahmad Ganis merupakan titik api.

Menurut dia, sebelum ada covid, bangsa ini sudah parah. Covid semakin memperparah keadaan Indonesia.

Yang amat memprihatinkan, negara ini di manage dengan 2 hal. Pertama, utang tak terbatas. Kedua, sovereignty (kedaulatan) digadaikan.

Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan, bangsa Indonesia sedang menghadapi situasi yang tidak mudah, karena covid-19 sebagai penyebab utama terjadinya multi krisis tidak diketahui kapan akan berakhir karena belum ada vaksinnya.

Solusinya, setiap orang harus merasa bertanggungjawab, merasa memiliki Indonesia, sabar dan tidak melanggar konstitusi dalam.berjuang.

Bertindak sebagai moderator, Hasbi Armiya.

Turut berbicara Taufik Bahaudin, Darmansyah, Achmad Marzuki, Hakim Sorimuda Pohan, Akrab Amiruddin, dan Syahiruddin. Hadir pula Siti Amina Amahoru, dan Abdul Kadir.

Berikut foto-foto kegiatan

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search