Radikalisme Masuk ke Masjid-Masjid: Anak Good Looking dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 In Lainnya, Opini, Sosial, Top

Menteri Agama RI Letnan Jenderal TNI Purn Fachrul Razi mengatakan tentang cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

“Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9), CNN Indonesia, Kamis, 03/09/2020 05:15).

Radikal dan Radikalisme

Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan kata ‘radikal’ dengan ‘radikalisme.’

Kata ‘radikal,’ pertama, bermakna ‘secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip).’

Kedua, radikal adalah istilah politik yang bermakna ‘amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)’.

Ketiga, radikal juga berarti ‘maju dalam berpikir atau bertindak’.

Adapun makna radikalisme mempunyai tiga arti, pertama, ‘paham atau aliran yang radikal dalam politik’.

Kedua, ‘paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis’.

Ketiga, ‘sikap ekstrem dalam aliran politik.

Radikalisme Politik

Menteri Agama RI berbicara tentang radikalisme. Dugaan saya, karena dia adalah pejabat politik, maka radikalisme yang dimaksud adalah berarti radikalisme dalam paham politik.

Konsekuensinya, masjid dituduh sebagai sumber penyebaran radikalisme dengan modus antara lain anak yang good looking, pandai bahasa Arab dan hafidz.

Sebagai sosiolog, saya tidak percaya yang dikemukakan Menteri Agama RI itu.

Pertama, menghadirkan anak-anak good looking ke Masjid yang mahir bahasa Arab dan hafiz hanya sebagai strategi dakwah untuk menarik minat anak-anak dan orang tua

Kedua, saat anak-anak good looking dihadirkan di Masjid tidak ada ustaz atau kiai yang berceramah tentang politik.

Ketiga, bapak-bapak, ibu-ibu yang hadir di Masjid mayoritas tidak suka mendengar ceramah politik.

Keempat, mayoritas dai, ustaz dan kiai dalam ceramah mereka di masjid hanya menyampaikan ceramah agama. Dalam konteks ceramah, yang sering disalah pahami adalah amar ma’ruf nahi munkar.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dalam Alqur’an, Allah memerintahkan supaya umat Islam mengajak untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam wikipedia disebutkan makna Amar makruf nahi mungkar (bahasa Arab: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر‎, al-amr bi-l-maʿrūf wa-n-nahy ʿani-l-munkar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim.

Jadi dalam Alqur’an dan Sunnah Nabi Mihammad SAW Tidak hanya melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji dan perbuatan baik

Dalam Islam, Allah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan dan mengajak untuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Oleh karena itu, tidak mungkin ustaz, ulama, kiai, cendekiawan Muslim yang lurus dan paham tentang Islam, tidak berbicara politik, ekonomi, keadilan, kebenaran, korupsi, kecurangan dan sebagainya karena hal itu diperintahkan dalam Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search