In Memoriam Prof Dr Abdul Malik Fadjar: Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional RI

 In Lainnya, Opini, Politik

Pepatah mengatakan “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

Pepatah tersebut patut disematkan kepada Prof Dr Abdul Malik Fadjar yang wafat hari Senin, 7 September 2020, pukul 19.00 wib.

Kita mengenang kebaikan dan jasa beliau dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadaNya kita akan kembali).

Selain itu, kita patut pula mendoakan beliau dengan membaca doa “Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu (Wahai Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah dia rahmat, berilah dia kesejahteraan).

Mengenang Jasa dan Amalnya

Saya tidak dekat dengan Pak Malik, tetapi pernah bertemu pada saat dia menjadi Menteri Agama RI.

Pada saat bertemu di Kementerian Agama RI lapangan Banteng Jakarta Pusat, tempat Pak Malik berkantor, saya sampaikan niat saya sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara, untuk membangun pondok pesantren dikampung halaman tempat saya dilahirkan, supaya ada succes story dan kenangan sewaktu menjadi anggota DPR RI.

Alhamdulillah Pak Malik mendukung dan sebagai bentuk dukungannya, dia memberi bantuan uang sebesar Rp75 juta.

Dana itu kemudian dikapitalisai melalui dukungan masyarakat. Ada yang menyumbang kayu, tenaga, semen, uang, makanan untuk tukang dan sebagainya. Jika dihitung dengan uang, bisa mencapai sebesar Rp250 juta, sehingga berdiri Pondok Pesantren Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air).

Pesantren yang berkedudukan di Desa Toli-Toli, Kecamatan LL Meeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, sampai saat ini berjalan baik, ada Madrasah Ibtidaiyah (SD), Stanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA).

Alumni Pondok Pesantren Hubbul Wathan ada yang melanjutkan pendidikan di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Bantuan Prof Dr Abdul Malik Fadjar sebesar Rp75 juta, akan terus di kenang sepanjang hayat dikandung badan dan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak putus selama pondok pesantren itu berjalan.

Mengubah IAIN Jadi UIN

Setahu saya, yang menggagas dan merealisasikan perubahan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) adalah Prof Dr Abdul Malik Fadjar.

Pilot project pertama untuk mengubah status IAIN menjadi UIN adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Melalui bantuan IDB (Islamic Development Bank), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membangun kampusnya yang megah dan modern di Ciputat Tangerang Selatan. Itu terjadi pada saat UIN Syarif Hidayatullah dipimpin Prof Dr Azyumardi Azra, sebagai rektor.

Kesuksesan mengubab IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian diikuti IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, dan lain-lain.

Kini UIN berkembang sangat maju. Jumlah mahasiswanya puluhan ribu, yang tidak pernah terjadi sebelum IAIN diubah menjadi UIN.

Itu terjadi karena jasa Prof Dr Abdul Malik Fadjar sebagai Menteri Agama RI dengan Presiden RI Prof Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie.

Selain itu, jasa Prof Dr Abdul Malik Fadjar dalam mengembangkan berbagai Universitas dilingkungan Muhammadiyah luar biasa.
Dampaknya, banyak Universitas Muhammadiyah yang maju dan memiliki reputasi yang amat membanggakan.

Kita mendoakan Prof Dr Abdul Malik Fadjar yang pernah menjadi Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan Nasional RI semoga husnul khatimah, Allah memberi tempat yang mulia disisiNya. Aamiin.

Selamat jalan Prof Dr Abdul Malik Fadjar menghadap Allah rabbul izzati. Semoga kita meneladani amal kebaikan, pengorbanan dan perjuangannya.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search