Connect with us

Kesepakatan damai Israel-UEA-Bahrain di Gedung Putih - IG whitehouse

Lainnya

Palestina, Dunia Islam dan Arab Semakin Terpolarisasi Atas Perdamaian UEA dan Bahrain Dengan Israil

Bangsa Palestina sangat kecewa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain berdamai dengan Israil karena mengkhianati bangsa Palestina yang sudah lama dijajah, dianeksasi dan diokupasi tanah-tanah rakyat Palestina oleh Israil.

Bangsa Palestina sangat kecewa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain berdamai dengan Israil karena mengkhianati bangsa Palestina yang sudah lama dijajah, dianeksasi dan diokupasi tanah-tanah rakyat Palestina oleh Israil.

Menurut saya, bangsa Palestina tidak usah banyak berharap terhadap negara-negara Arab. Setidaknya ada lima alasan yang mendasari saya berpandangan seperti itu.

Pertama, agenda utama negara-negara Arab ialah melindungi kepentingan mereka sendiri, bukan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan membebaskan Masjid Al-Aqsa

Kedua, negara-negara monarkhi yang kaya-raya, sulit diajak berjuang untuk membebaskan Palestina dan Baitul Maqdis dari penjajahan Israil karena daya juang mereka yang kaya-raya lemah lantaran takut mati dan terlalu cinta dunia.

Ketiga, bersatunya Turki dan Iran untuk melawan Israil, diduga telah dijadikan alat oleh Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israil, untuk menakut-nakuti negara-negara Arab yang kaya-raya dan terpaksa mencari perlindungan kepada Amerika Serikat dan Israil dengan berdamai dengan Israil.

Keempat, berbagai perang yang dilakukan bangsa Arab terhadap Israil tidak pernah mereka menang karena berperang melawan Israil, sama saja berperang melawan Amerika Serikat karena negara adidaya itu merupakan pendukung dan pelindung utama Israil.

Kelima, Amerika Serikat sudah lama menjadi pelindung negara-negara monarki di Timur Tengah. Negara adidaya itu mempunyai pangkalan militer di berbagai negara di Timur Tengah. Dengan alasan keamanan, maka ketika Donald Trump memaksa negara-negara Arab berdamai dengan Israil, mereka pasrah dan mengikuti kemauan Trump yang tengah kepepet takut kalah dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat awal November 2020.

Politik Penjajah

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat telah menjalankan politik penjajah yaitu pecah belah (Devide et impera) untuk melemahkan dan menguasai dunia Arab dan dunia Islam

Trump menekan negara-negara monarki yang kaya di Timur Tengah untuk berdamai dengan Israil. Tentu janjinya untuk nemastikan keamanan dan keselamatan negara-negara monarki di Timur Tengah.

Akan tetapi negara-negara Arab yang berdamai dengan Israil atas prakarsa Amerika Serikat, sangat tega membiarkan negara Yahudi itu meneruskan penjajahan, penindasan terhadap bangsa Palestina dan pencaplokan tanah-tanah Arab.

Amerika Serikat memecah Timur Tengah, pada hakikatnya bukan mau menolong bangsa Arab, tetapi untuk melanjutkan penjajahan ekonomi Amerika Serikat di Timur Tengah.

UEA dan Bahrain serta beberapa negara Arab dan Afrika yang diperkirakan akan berdamai dengan Israil atas tekanan Amerika Serikat, akan mengubah geopolitik di Timur Tengah.

Pertama, secara politik, semakin memperkuat posisi Israil. Sebaliknya semakin memperlemah posisi politik Palestina. Akan tetapi ke depan, perjuangan bangsa Palestina untuk mewujudkan kemerdekaan, akan lebih menonjol perjuangan bersenjata yang dimotori Hamas.

Kedua, akan semakin solid dan kuat blok yang melawan Israil dan Amerika Serikat di Timur Tengah karena adanya persekutuan Iran, Turki, Rusia, China, Suriah, dan Palestina (Hamas).

Ketiga, terbentuk dua blok kekuatan besar di Timur Tengah yaitu Israil, Amerika Serikat, dan beberapa negara Arab disatu pihak, dan blok lain yaitu Tukri, Iran, Hamas (Palestina) dibantu Rusia, RRC dan beberapa negara Arab.

Keempat, dunia Arab dan dunia Islam akan semakin terpolarisasi karena adanya dua kekuatan besar di Timur Tengah sehingga perdamaian abadi semakin jauh dari kenyataan.

Jika melihat kekuatan dan daya juang bangsa Palestina yang di motori Hamas, dibantu Iran, Turki, Rusia dan RRC, dan para pejuang seperti Hizbullah, jika terjadi perang total, maka akan dimenangkan kelompok ini karena memiliki misi suci perjuangan yaitu membebaskan Masjidil Aqsa dan mengakhiri penjajahan terhadap bangsa Palestina.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Baca Juga

Politik

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Arab Saudi untuk bertemu dengan raja Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Kita...

Politik

Bangsa Indonesia bersama bangsa Palestina melawan kekejaman dan penindasan tersebut tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia bersama palestina demi...

Ramadhan 1443H

Arab Saudi adalah sebuah negara kerajaan yang sering juga disebut The Kingdom of Saudi Arabia. Negara ini tergolong kaya karena memiliki sumber daya alam...

Politik

kecaman terhadap Putin karena menginvasi Ukraina seharusnya juga diterapkan kepada Negara Israel atas perlakuannya terhadap warga Palestina.

Politik

Pasukan AS telah mengakhiri 20 tahun masa petualangannya di Afganistan pada 30 Agustus 2021 tengah malam.

Opini

Badan Eksekutif Mahasiswa BEM Universitas Indonesia menjuluki Jokowi The King of Lip Service. Julukan itu telah menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat dan bahkan menjadi...

Politik

Akhiri perang di Palestina dengan mendorong kemerdekaan bangsa Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur merupakan kunci untuk mewujudkan perdamaian abadi dan berakhirnya perang antara Israel...

Politik

Demo besar dukung Palestina terjadi di Amerika Serikat untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Demo terjadi di seluruh kota di Amerika Serikat seperti di New...