Mengapa DKI Paling Tinggi Positif Corona Paling Rendah Tingkat Kematian?

 In Covid-19, DKI Jakarta, Opini

Mereka yang hanya melihat jumlah positif Corona di DKi paling tinggi di Indonesia, pasti menganggap DKI paling gagal dalam melawan dan mencegah corona (covid-19).

Akan tetapi, mereka yang mau bersikap obyektif dan jujur, pasti bertanya dan mencari jawaban, mengapa tinggi positif corona, tidak tinggi tingkat kematian? Sejatinya tinggi positif corona, juga tinggi tingkat kematian.

DKI Tertinggi PCR

Swab test atau polymerase chain reaction (PCR) di DKI merupakan tertinggi di Indonesia.

Epidemiolog menilai target Presiden Joko Widodo yang diungkapkan Senin (13/07) agar tes PCR (polymerase chain reaction) berada di angka 30.000 per hari, masih jauh dari standar minimum dalam memetakan skala wabah virus corona di Indonesia (BBCNews.Indonesia, 22/7/2020).

Badan Kesehatan Dunia WHO, telah menetapkan berdasarkan jumlah penduduk, jumlah minimal tes Indonesia adalah 270.000 per minggu atau 54.000 orang per hari.

Berdasarkan data Senin (13/07), pemerintah melakukan tes PCR dengan 13.100 spesimen. Sementara Minggu (12/07), tes PCR dilakukan terhadap 22.379 spesimen.

Angka tes ini masih jauh di bawah target acuan WHO. Hal ini terjadi di tengah posisi Indonesia yang berada dalam situasi yang disebut kolaborator saintis dan juga epidemiolog Lapor Covid-19 Iqbal Elyazar sebagai “kritis”.(bbc.news,13 Juli 2020).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan tes PCR sebanyak 46.691 selama sepekan terakhir.

Menurutnya, Pemprov DKI terus meningkatkan jumlah tes PCR untuk menemukan kasus baru secara cepat, agar dapat segera melakukan tindakan isolasi atau perawatan secara tepat.

Upaya ini untuk memperkecil potensi penularan Covid-19. Adapun pada Minggu (6/9/2020), tes PCR yag telah dilakukan di DKI Jakarta mencapai 7.953 spesimen.

Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 6.362 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 928 positif dan 5.434 negatif.

Target WHO, pengetesan PCR kepada 1.000 warga per 1 juta penduduk per pekan, bukan spesimen. Rapid test tidak dihitung. Untuk Jakarta artinya 10.645 orang di tes per pekan. Target ini sudah dilampaui beberapa waktu. Dalam sepekan terakhir ada 18.105 orang di tes.”

Berdasarkan WHO, Jakarta harus melakukan pemeriksaan PCR minimum pada 10.645 orang per minggu, atau 1.521 orang per hari.

“Saat ini jumlah tes PCR di Jakarta setiap pekan adalah 4 kali lipat standar WHO.”(bisnis.com, 07 Aug 2020).

Tinggi Testing dan Tracing

Tingginya testing di DKI, memberi dampak positif. Pertama, banyak warga yang diketahui positif dan negatif corona.

Kedua, tingginya tingkat Tracing atau pelacakan terhadap yang positif Corona, dia berhubungan dengan siapa, sampai terkena Corona, sehingga pelacakan dilakukan kepada penyebab positif Corona.

Ketiga, tingginya treatment atau pengobatan terhadap mereka yang positif Corona.

Oleh karena tinggi Testing, Tracing dan Treatment, maka dampaknya rendah tingkat kematian warga DKI. Sebaliknya sebagai contoh Jawa Tengah yang dapat pujian dari Anggota DPR RI karena kecil positif Corona, ternyata tinggi tingkat kematian karena minim PCR (Testing).

Prof Akmal Taher, mantan Satgas Covid-19 mengatakan bahwa yang harus digalakkan pemerintah ialah Testing dan Tracing dalam rangka melawan dan mencegah covid-19.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search