China dan Amerika Serikat Perebutkan Indonesia: China Investor dan Pemberi Utang Terbesar ke Indonesia

 In Dunia Usaha, Lainnya, Opini, Sosial

Hubungan bilateral Indonesia dengan China semakin erat di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hubungan baik itu, diimplementasikan dalam kerja sama dibidang investasi, perdagangan, dan pariwisata.

Pada awal kepemimpinan Presiden Jokowi tahun 2015, nilai perdagangan China-Indonesia melejit menjadi US$48,2 miliar. Bandingkan investasi tahun 2005 lalu hanya mencapai US$8,7 miliar.

Investasi China kini telah menggantikan Jepang sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Di era Jokowi, pemerintah menggandeng China untuk berinvestasi di sejumlah proyek infrastruktur besar negara, salah satunya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Selain China telah menjadi investor terbesar di Indonesia menggantikan posisi Jepang, China juga telah menjadi pemberi utang terbesar kepada Indonesia.

Bank Indonesia merilis bahwa total utang Indonesia yang terdiri atas utang luar negeri pemerintah, BUMN, dan swasta, pada tahun 2019 meningkat dibanding nilai utang di tahun 2018 tercatat 379,589 miliar dollar AS. Sementara itu, China berada di urutan teratas dengan total nilai utang sebesar 2,1 triliun dollar AS.

Hubungan Dengan AS

Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat sangat dekat selama puluhan tahun lamanya.

Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, hubungan baik dengan Amerika Serikat tetap dipertahankan. Akan tetapi, hubungan Indonesia dengan China sangat meningkat. Hubungan itu, dapat dikatakan tidak disukai Amerika Serikat.

Untuk membendung pengaruh China di Indonesia, Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan RI dicabut pencekalannya selama 20 diundang ke Amerika Serikat untuk bertemu Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Selain itu, Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat melawat ke Indonesia. Tujuannya dapat dipastikan adalah untuk membendung pengaruh China di Indonesia.

Tidak Banyak Manfaatnya

Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan realisasi investasi China ke Indonesia pada 2019 naik 100 persen yaitu mencapai 4,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp70 triliun dengan kurs Rp15.000. Investasi China selama 2018, realisasinya mencapai 2,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 35 triliun.

Posisi realisasi investasi China ke Indonesia saat ini berada di urutan kedua setelah Singapura yang masih unggul dengan realisasi investasi yang mencapai 6,5 miliar dolar AS atau setara Rp97 triliun.

Akan tetapi model investasi di Indonesia tidak banyak manfaatnya bagi bangsa Indonesia.

Setidaknya ada lima alasan, investasi model China tidak memberi banyak manfaat.

Pertama, uang atau modal dibawa dari China untuk investasi di Indonesia. Ini harus diapresiasi.

Kedua, mesin atau peralatan untuk membangun industri, semuanya di bawa dari China. Model investasi semacam ini tidak memberi manfaat bagi pengembangan industri dalam negeri.

Ketiga, teknologi dibawa dari China. Sejatinya terjadi transfer of technology kepada bangsa Indonesia. Akan tetapi tidak akan pernah terjadi, karena manual dari teknologi yang dibawa ke Indonesia dalam bahasa China. Orang China tidak bisa berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris, begitu pula sebaliknya, orang Indonesia tidak bisa berbahasa China.

Keempat, bahan makanan semuanya dibawa dari China. Dengan demikian, kehadiran industri dari china tidak memberi manfaat bagi pengembangan pertanian dan industri makanan dalam negeri.

Kelima, direksi, tenaga skill sampai buruh kasar dibawa semuanya dari China.

Oleh karena itu, kalau dilihat dari aspek manfaat dan mudarat investasi China di Indonesia, tidak manfaatnya bahkan dapat dikatakan lebih banyak mudaratnya, karena sumber daya alam Indonesia di eksploitasi, tetapi tidak memberi sebesar-besar manfaat bagi bangsa Indonesia.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search