Joe Biden dan Kamala Harris Menang Pilpres Amerika Serikat: Apa Implikasi Bagi Indonesia?

 In Opini, Politik

Joe Biden dan Kamala Harris telah memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat tanggal 3 November 2020.

Kamala Harris dan Joe Biden telah menyampaikan pidato Kemenangan di Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat.

Biden memastikan kemenangannya pada Sabtu (7/11) setelah mengantongi electoral colleges penentu dari Pennsylvania (20) dan Nevada (6), sehingga tokoh kelahiran 20 November 1942 itu melampaui titik kemenangan 270. Biden mengantongi 290 electoral colleges, sedangkan Trump hanya 214.

Pidato Kemenangan

Joe Biden dalam pidato kemenangannya, berjanji akan kembali mempersatukan Amerika Serikat yang terpecah belah.

“Presiden tidak mencari states merah dan states biru, tetapi saya hanya mencari United States (Amerika Serikat)”, Joe mengungkapkan hal itu saat memberikan pidato kemenangannya di Delaware, sebuah Negara Bagian Amerika Serikat.

Ia menambahkan, selama 4 tahun ke depan, pemerintahannya akan fokus dalam melayani masyarakat, dan akan mengembalikan Amerika menjadi negara yang dihormati oleh seluruh dunia.

Pidato kemenangan Biden di tulis di blognya: “Amerika, saya merasa terhormat bahwa kalian telah memilih saya untuk memimpin negeri kita yang hebat. Pekerjaan kita ke depan masih berat, tetapi saya menjanjikan ini kepada kalian; saya akan menjadi presiden bagi seluruh rakyat Amerika, baik yang memilih saya ataupun tidak. Saya akan menjaga kepercayaan yang kalian tempatkan pada saya,” tulisnya.

Implikasi ke Indonesia

Biden dan Harris adalah Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat terpilih dari Partai Demokrat. Tradisi Partai Demokrat adalah pro-demokrasi, pro-HAM dan anti otoriter.

Implikasi terpilihnya Joe Biden dan Kamala Harris dari Partai Demokrat, pergolakan sosial di Indonesia yang menuntut keadilan termasuk di Papua akan mendapatkan perhatian dari pemerintahan Biden dan Harris.

Tidak hanya itu, tetapi pelanggaran HAM di Papua, penahanan tanpa proses pengadilan, demo mahasiswa, masyarakat, dan pelajar yang ditahan aparat, kemudian dijemur tanpa baju di tengah lapangan yang disinari terik matahari, pasti dipersoalkan pemerintah dan anggota parlemen Amerika Serikat.

Begitu pula pengamalan demokrasi, pasti mendapat perhatian pemerintahan Biden dan Harris. Elit Indonesia hari ini menurut Rizal Ramli lebih pro Beijing karena menganggap bahwa China bisa maju menjadi kekuatan nomor dua di dunia karena sikapnya yang otoriter.

Banyak elit kita yang mau mencontoh China dengan melihat otoriternya saja, namun tidak melihat bahwa China sangat melindungi rakyatnya.

Biden dan Partai Demokrat pasti akan mempersoalkan mengapa Indonesia semakin lama semakin otoriter dan keluar dari jalur demokrasi.

Implikasi lain, Biden juga akan mendukung good governance. Artinya masalah korupsi yang merajalela akan mendapat perhatian.

Partai Demokrat di Amerika Serikat menurut Rizal Ramli punya global view, dia terganggu kalau negara partner atau sahabatnya otoriter dan melakukan tindakan bertentangan dengan hak asasi manusia. Jadi, buat pemerintahan Jokowi, menurut Rizal Ramli akan berat menghadapi serangan soal demokratisasi, hak asasi, dan lain-lain.

Implikasi lain terhadap Indonesia, persaingan antara China dan Amerika akan terus berlanjut, hanya gaya atau style yang berbeda antara Trump dan Biden. Oleh karena itu, Indonesia harus hati-hati menempatkan diri di tengah persaingan keras kedua negara tersebut. Jangan sampai Indonesia seperti kata pepatah “Gajah sama gajah berkelahi pelanduk mati ditengah-tengah.”

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search