Analisis Sosiologis Dampak Kepulangan Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab Bagi Umat Islam

 In Opini, Politik

Sejak Habib Rizieq Syihab (HRS) mengumumkan kepulangannya, tidak sedikit yang meragukan kebenarannya, karena sudah 6 kali IBHRS berusaha pulang ke Indonesia, selalu gagal.

Kali ini, menurut pernyataan Munarman, Sekretaris Umum FPI yang disiarkan di Channel Youtube TV ONE, masih ada upaya menggagalkan kepulangan IBHRS, tetapi segala makar yang dibuat, sudah tidak mempan.

Maka sesuai jadwal, pesawat Saudia Air lines yang ditumpangi IBHRS pada 10 November 2020 pukul 09.00 wib. mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Jutaan Yang Jemput

Sejak HRS mengumumkan kepulangannya, Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI di Arab Saudi telah menyampaikan berita yang tidak sesuai fakta.

Atas informasi yang disampaikan Dubes ke media dan saya duga yang juga dia laporkan ke pemerintah Republik Indonesia, Prof Mahfud MD., Menteri Koordinator Politik dan Hukum RI memberi merespon rencana kepulangan Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab, yang kemudian menimbulkan pro kontra di masyarakat.

Bahkan ada media sosial dan diberitakan di YouTube bahwa HRS dibatalkan kepulangannya, tetapi akhirnya menjadi kenyataan, bertepatan 10 November 2020 dengan menumpang pesawat Saudia Air lines, HRS tiba kembali di Indonesia setelah di pengasingan Arab Saudi hampir 4 tahun lamanya.

Kedatangan HRS disambut jutaan orang yang memenuhi Airport Soekarno Hatta dan jalan menuju bandara macet total, sehingga semua harus berjalan kaki untuk sampai di Airport.

Dinobatkan Imam Besar

Habib Muhammad Rizieq Syihab telah dinobatkan oleh puluhan juta umat Islam Indonesia yang hadir di bandara Soekarno Hatta Jakarta dan yang tidak hadir di bandara dengan julukan Imam Besar Umat Islam Indonesia.

Selama ini, HRS disematkan dengan julukan Imam Besar Front Pembela Islam, sekarang HRS telah dinobatkan sebagai Imam Besar Habib Rizieq Syihab dengan akronim IBHRS.

Imam Besar HRS amat diperlukan kehadirannya saat ini dan di masa depan, agar umat Islam Indonesia tidak terus-menerus menjadi alat untuk menghantarkan orang lain memegang kekuasaan di eksekutif dan legislatif, tetapi setelah mereka berkuasa lupa umat Islam.

Pasti ada yang tidak setuju dengan istilah Imam Besar Habib Rizieq Syihab, tapi biarlah yang setuju dan mendukung, mereka nobatkan HRS sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia.

Pemersatu Umat

Islam merupakan agama yang mayoritas di Indonesia, akan tetapi sejak zaman penjajahan sampai saat ini dipecah belah, sehingga umat Islam lemah dan secara de facto tidak pernah menjadi pemimpin di Indonesia.

Kepulangan Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab ke Indonesia, diharapkan menjadi ulama yang mempersatukan semua dan kita bersyukur IBHRS telah dinobatkan sebagai pemersatu umat.

Julukan IBHRS sebagai pemersatu umat merupakan tantangan, dan umat Islam dari berbagai organisasi dan partai manapun sebaiknya bersatu dan akan sangat baik jika tidak mau dibawah komando Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab, tetapi ada sinergi dan musyawarah untuk kepentingan umat saat ini dan di masa depan.

Kalau tidak setuju Imam Besar HRS, tidak usah saling mencerca yang diluapkan di media sosial, sebab hanya melemahkan dan merugikan perjuangan umat Islam.

Oleh karena itu, sebaiknya IBHRS tidak bergabung dengan partai manapun, agar bisa tetap mengayomi, mendorong, memotivasi serta menyadarkan umat Islam semuanya dalam menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan terhadap umat Iskam hari ini dan di masa depan terutama dalam memilih anggota parlemen, Kepala Daerah dan Presiden yang mau tidak mau harus diperjuangkan supaya yang dipilih rakyat adalah yang shidiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search