Musni Umar Socmed

Search

peta peyebaran covid-19 di dunia - unsplash Giacomo Carra

Covid-19

Masyarakat Dunia Alami Kesulitan Akibat Covid-19: Peran Universitas

Dunia juga menghadapi ketidak-pastian dalam bidang ekonomi sehingga memberi pengaruh negatif kepada kehidupan sosial, pendidikan dan sebagainya.

Dunia menghadapi situasi yang cepat berubah. Ada kalanya dunia memberi kegirangan (votatility), tetapi cepat berubah ke arah yang memberi pesimistik.

Dunia juga menghadapi ketidak-pastian dalam bidang ekonomi sehingga memberi pengaruh negatif kepada kehidupan sosial, pendidikan dan sebagainya.

Satu hal yang amat menyedihkan ialah terjadinya kompleksitas kehidupan semua bangsa dan negara di dunia. Perusahaan-perusahaan besar, menengah dan kecil mengalami kesulitan, sehingga memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya. Dampak selanjutnya meningkat pengangguran dan kemiskinan

Semua itu terjadi akibat adanya wabah covid-19 yang belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Pengangguran Dunia

World Population Review menyebut 10 negara yang memiliki banyak pengangguran.

1. India

India memiliki jumlah pengangguran sebesar 120 juta jiwa atau sekitar 8,8 persen dari populasi negaranya yang berjumlah 1,3 miliar jiwa. Dengan angka tersebut, India menyumbang jumlah pengangguran terbesar di dunia dengan 1,63 persen.

2. China

Tempat kedua adalah China yang memiliki jumlah pengangguran sebesar 54,4 juta jiwa atau sekitar 3,8 persen dari 1,4 miliar populasi negaranya. Sebesar 0,74 persen pengangguran di seluruh dunia disumbang oleh China.

3. Nigeria

Jumlah pengangguran terbesar ketiga adalah Nigeria yang mencapai 26,9 juta jiwa atau sekitar 13,4 persen dari populasi negara yang mencapai 200,9 juta jiwa.

4. Brasil

Brasil memiliki jumlah pengangguran sekitar 24,9 juta jiwa atau sekitar 11,8 persen dari populasi negaranya, yaitu sekitar 211 juta jiwa.

5. Kenya

Kenya menempati posisi kelima jumlah pengangguran terbesar di dunia yaitu sebesar 21 juta jiwa dari Jumlah populasi negara itu sebanyak 52,5 juta jiwa atau sekitar 40 persen dari total populasinya.

6. Ethiopia

Ethiopia memiliki jumlah pengangguran sebanyak 19,6 juta jiwa dari populasi negara itu yang berjumlah 112 juta jiwa atau setara dengan 0,27 persen dari jumlah pengangguran di seluruh dunia.

7. Afrika Selatan

Pengangguran di Afrika Selatan hingga tahun 2019 berjumlah 16,1 juta jiwa atau sekitar 27,6 persen dari 58,5 juta jiwa populasi negaranya. Jumlah tersebut setara dengan 0,22 persen dari jumlah pengangguran di seluruh dunia.

8. Burkina Faso

Burkina Faso memiliki tingkat pengangguran paling tinggi di dunia dengan 77 persen atau sekitar 15,6 juta jiwa dari populasinya yang mencapai 20,3 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan 0,21 persen dari jumlah pengangguran di seluruh dunia.

9. Indonesia

Indonesia jumlah pengangguran sekitar 15,2 juta jiwa dari 270,6 juta jiwa populasi Indonesia. Menyumbang sekitar 0,21 persen dari jumlah pengangguran di seluruh dunia.

10. Amerika Serikat

Di posisi terakhir adalah Amerika Serikat yang menyumbang sebesar 0,2 persen dari jumlah pengangguran di seluruh dunia. Jumlah pengangguran setara dengan 14,4 juta jiwa atau sekitar 4,4 persen dari 329 juta jiwa populasi Amerika Serikat.

Kemiskinan Meningkat

Menurut Bank Dunia, PDB global akan mengalami -5,2% tahun ini. Ekonomi di negara maju diperkirakan menjadi -7% di tahun ini. Hal ini karena supply dan demand yang terganggu, karena adanya lockdown atau karantina wilayah yang diterapkan oleh negara-negara tersebut untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Kontraksi terdalam terjadi di Jepang yang mencapai -9,1%. Sementara di Amerika Serikat, ekonominya diramal -7% dan Uni Eropa -6.1%. Namun pada 2021, ekonomi negara maju diperkirakan bisa tumbuh 3,9%. Perekonomian Jepang diperkirakan pulih dan tumbuh 2,5%, AS tumbuh 4%, dan Uni Eropa tumbuh 4,5 persen.

Sementara di negara berkembang, perekonomian diprediksi akan mengalami -2,5%. Hal ini karena negara berkembang tidak melakukan pembatasan ketat dalam mengatasi penyebaran virus dan jaring pengaman pemerintah yang terbilang tidak meluas. Pada 2021, pertumbuhan ekonomi di negara berkembang akan menjadi 4,6%.

“Penghasilan per kepala diperkirakan menurun 3,6% diseluruh dunia. Hal ini membuat angka kemiskinan meningkat di tahun ini.”

Bank Dunia mengatakan pandemi akan membuat 60 juta orang masuk ke jurang kemiskinan di tahun ini. Bank Dunia juga memperingatkan risiko dari pandemi yang lebih berkepanjangan, pergolakan pasar keuangan dan perusahaan-perusahaan yang bangkrut.

“Ini dapat memicu kehancuran yang lebih besar dalam PDB dunia tahun ini, bisa menyentuh -8% karena pemulihan ekonomi di 2021 yang cenderung lamban.”

Peranan Universitas

Saat ini mayoritas masyarakat dunia dari kelas atas, kelas menengah, apalagi kelas bawah merasakan kesulitan akibat pandemik covid-19.

Tidak hanya masyarakat yang mengalami kesulitan, tetapi juga pemerintah dari hampir semua negara di dunia mengalami kesulitan. Salah satu kesulitan nyata yang dialami pemerintah, tidak bisa mendapatkan pajak yang cukup untuk membayar gaji pegawai, membiayai pembangunan dan berbagai aktivitas pemerintahan.

Pertanyaannya, peran apa yang bisa dilakukan pemimpin universitas? Menurut saya, harus dilakukan 5 hal.
Pertama, pemimpin universitas harus melakukan aliansi strategis dengan lembaga penelitian untuk segera menemukan vaksin covid-19.

Kedua, pemimpin universitas harus melakukan kolaborasi antar sesama universitas untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi untuk disumbangkan kepada pemerintah dan masyarakat.

Ketiga, pemimpin universitas harus terus menyuarakan optimisme di masyarakat karena di dalam kesulitan pasti ada kemudahan.

Keempat, pemimpin universitas sebaiknya sering menyelenggarakan seminar, simposium, diskusi dan kegiatan ilmiah lainnya dengan menggunakan teknologi seperti yang diselenggarakan Asia e University saat ini.

Kelima, pemimpin universitas harus menjadi agen pencerahan dan penyadaran kepada masyarakat dan pemerintah bahwa dalam keadaan sulit seperti sekarang harus tetap memberi prioritas kepada pendidikan.

Keenam, pemimpin universitas sebaiknya menyarankan kepada pemerintah supaya hidup hemat, tidak boros dan tidak korupsi. Begitu pula kepada masyarakat disarankan supaya sabar, hemat dan banyak berdoa kepada Allah untuk diberi kekuatan lahir batin dan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi.

Kesimpulan Akhir

Kesulitan yang dihadapi banyak negara di dunia termasuk Indonesia, Malaysia dan Thailand akibat covid-19, saya usulkan untuk dilakukan 5 hal.

Pertama, setiap negara
harus fokus mengatasi covid-19 sebagai penyebab utama terjadinya berbagai masalah.

Kedua, unuversitas harus mendorong pemerintah memperbanyak dan memperluas pelaksanaan testing, tracing dan treatment dalam rangka melawan dan mencegah cov ohid-19.

Ketiga, universitas harus memandu dan memberi contoh kepada masyarakat dalam mengamalkan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Keempat, universitas, masyarakat dan pemerintah harus berkolaborasi dalam melawan dan mencegah covid-19.

Kelima, universitas harus menjadi pencerah, penyadar dan pemersatu bangsa ditengah perpecahan akibat kepentingan yang berbeda.

Keenam, harus ada kerjasama antar universitas dan antar negara untuk mengatasi covid-19 dan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Baca Juga

Covid-19

Salah satu kalimat yang penting diamalkan bangsa Indonesia saat ini ialah saling jaga. Kalimat itu sangat penting dibahas dan diamalkan bangsa Indonesia saat ini...

Covid-19

Koalisi baru bersama UMNO, PAS dan lain-lain membentuk Perikatan Nasional (PN) untuk memerintah Malaysia. Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong setelah berkonsultasi dengan seluruh anggota...

Covid-19

Tidak ada yang mengira Muhammad Suaib Didu, yang baru berumur 55 tahun meninggal dunia begitu cepat karena beberapa waktu lalu, ditemani Dr. Muhammad Sulhan,...

Pendidikan

Musni Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun mengingatkan kepada seluruh Sivitas Akademika Universitas Ibnu Chaldun bahwa UIC tahun 2021 genap 65 tahun. Ditengah bangsa Indonesia...

Covid-19

Tahun 2020 sebagai tahun kesedihan dan tahun yang amat sulit bagi sebagian warga DKI Jakarta, bangsa Indonesia, dan bangsa-bangsa lain di dunia telah dilewati.

Covid-19

Saya kemukakan tahun 2020 merupakan tahun kesedihan karena hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia diserang pandemi Covid-19.

Covid-19

Universitas Ibnu Chaldun Jakarta bukan saja bisa survive (bertahan) ditengah badai Covid-19, tetapi bisa bangkit dan maju.

Covid-19

Program Studi Perbankan Syariah Universitas Ibnu Chaldun Jakarta pada 12 Desember 2020 telah menyelenggarakan Webinar dengan tema "Peran Perbankan Syariah Dalam Membantu UMKM Dimasa...