Musni Umar Socmed

Search

timbangan yang berat sebelah - #belajarhukum #mahasiswahukum #pendidikanhukum

Opini

Sumber Radikalisme dan Terorisme: Ketidak-adilan, Apa Yang Harus Dilakukan?

Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang.

Sejak terjadi bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar beberapa hari lalu, isu radikalisme dan terorisme mencuat kembali.

Para pakar, ulama, ormas dan pengamat ramai membahas masalah bom bunuh diri tersebut. Pada saat yang sama, aparat menangkap mereka yang diduga teroris di beberapa daerah, yang dianggap merupakan jaringan para teroris bom bunuh diri di Makassar.

Penangkapan demi penangkapan terhadap mereka yang dicurigai sebagai teroris akan marak di hari-hari mendatang. Apalagi sore ini (31/3) terduga teroris menyerang Mabes Polri dan tampak membawa senjata. Walaupun terduga teroris telah ditembak mati.

Akan tetapi, dampak dari bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar, serta adanya terduga teroris yang menerobos Markas Besar Polri dan terjadi tembak menembak, maka hampir pasti sebagaimana dikemukakan di atas, diduga akan dilakukan penangkapan demi penangkapan terhadap mereka yang dianggap bagian dari teroris. Ada yang menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri dari JAD (Jamaah Ansharuttauhid).

Umat Islam Disudutkan

Isu radikalisme dan terorisme sangat merusak citra Islam. Apalagi media sosial ramai sekali yang mem-bully mereka yang diduga teroris. Walaupun belum tentu mereka teroris, tetapi citra yang dibangun di tengah-tengah sangat buruk. Bahkan ada yang tidak mau mendekat kepada mereka yang bercadar, celana cingkrang, mukanya ada bekas sujud, dan berjenggot.

Mereka dicitrakan radikal, tidak toleran dan teroris. Bahkan mereka yang diduga teroris di Bekasi, ditemukan ada baju FPI. Hal tersebut sudah dibantah Munarman, Sekretaris Umum FPI. Dia duga sebut sebagai operasi intelijen untuk mengkriminalisasi FPI. Tujuannya untuk menutup pembunuhan 6 laskar FPI di KM 50.

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin telah menegaskan bahwa tindak kejahatan terorisme dan penyebaran paham radikalisme tidak berkaitan dengan agama karena tidak ada satu agama pun yang mengajarkan tentang kekerasan.

“Terorisme itu tidak ada kaitannya dengan agama. Tidak ada agama yang memberikan toleransi untuk terjadinya aksi terorisme, kekerasan; apalagi sampai membunuh orang lain, bahkan membunuh dirinya sendiri,” kata Maruf Amin usai meninjau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa (30/3/2021).

Oleh karena itu, Wapres RI mengharapkan supaya tindakan terorisme dan penyebaran radikalisme tidak usah dikaitkan dengan agama, walaupun sangat sulit masyarakat tidak mengkaitkan dengan agama Islam karena pelakunya oknum-oknum dari umat Islam.

Faktor Ketidakadilan

Berbagai macam analisis yang dikemukakan tentang penyebab adanya masyarakat yang nekat bom bunuh diri atau menyerang Markas Besar Polri, sebagai sosiologis saya menolak pernyataan yang mengatakan pintu masuk radikalisme dan terorisme adalah Wahabi dan Salafi.

Sebagai sosiolog yang selalu mengamati fenomena sosial, saya berpendapat bahwa penyebab utama radikalisme dan terorisme adalah ketidakadilan.

Dalam bidang hukum, sangat banyak yang melanggar protokol kesehatan, tetapi yang ditangkap hanya Habib Rizieq Syihab dan pentolan FPI. Sementara para calon kepala daerah yang mengikuti Pilkada, mereka yang sedang berkuasa dan pendukung kekuasaan tidak dikenai sanksi hukum melanggar protokol kesehatan seperti HRS dan para pentolan FPI. Sikap tidak adil dalam penegakan hukum sangat menyakiti hati para pendukung HRS dan masyarakat yang sadar hukum dan keadilan.

Selain itu, ketidakadilan dalam bidang ekonomi yang luar biasa menyolok. Sekelompok menguasai ekonomi yang kemudian berkolaborasi dengan penguasa dan mendapat perlindungan dan perlakuan istimewa. Ketidakadilan semacam ini telah menjadi pengetahuan umum masyarakat.

Mereka yang tidak berpikir panjang atau sumbu pendek, ada yang memilih bom bunuh diri atau menyerang Markas Polisi untuk melawan ketidakadilan.
Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan? Gunakan hak suara dalam pemilu. Pilih pemimpin dan partai yang benar.

Kutipan

Butuh bahan berita/artikel/tulisan?

Diperbolehkan mengutip sebagian isi dari tulisan ini tapi jangan lupa sebut sumber: arahjaya.com atau dikutip dari Musni Umar.

Diharapkan tulisan-tulisan di website ini bisa menginspirasi pembaca untuk selalu mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Youtube Musni Umar

Baca Juga

Covid-19

Ada perbedaan perlakuan yang amat menyolok menikah saat pandemi, antara resepsi perkawinan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah dengan Syarifah Najwa Syihab (Puteri HRS) dan...

Opini

Indonesia adalah Daarul Amni (negeri yang aman) bukan Daarul Harbi (negeri yang sedang perang), maka siapapun dan apapun motif bom bunuh diri di depan...

Politik

Menjelang ramadhan tiba, para pegiat media sosial sangat ramai yang menyuarakan tuntutan Habib Rizieq Syihab Dibebaskan sehingga banyak dibahas di media sosial.

Opini

Menurut Natalius Pigai, negara wajib mencari bukti dugaan pelanggaran HAM berat terhadap tewasnya enam laskar FPI.

Politik

Amien Rais adalah politisi terkemuka Indonesia, cendekiawan yang mumpuni dengan pendidikan yang hebat, berpengalaman dan banyak ilmu, bersih, jujur dan pemberani.

Politik

Pada dasarnya kalau UU Parpol dan AD ART Partai Demokrat itu ditegakkan, Kongres Luar Biasa di Sibolangit, Sumatra Utara itu ilegal dan tidak sah.

Pendidikan

Dr Ubedilah Badrun, akademisi dan pengamat sosial politik mengatakan bahwa Republik ini akan maju kalau dibimbing dan dipimpin Ulul Albab (Orang yang selalu berzikir...

Politik

UUD 1945 pasal 1 ayat 3 yang berbunyi "Negara Indonesia adalah negara hukum". Konsekuensi Indonesia negara hukum, maka segala kehidupan kenegaraan harus selalu berdasarkan...