Connect with us

Dinas Pendidikan DKI Jakarta menunjuk 85 sekolah untuk menerapkan uji coba pembelajaran tatap muka yang dijadwalkan bergulir sejak 7-29 April 2021 mendatang - IG andrywidiyanto #tatapmuka

Covid-19

Sosiolog Dukung Buka Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19

Untuk menggenjot kembali dunia pendidikan karena merupakan kunci kemajuan Indonesia di masa depan. Kalau pemerintah mengemukakan alasan membuka sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19 karena telah diterbitkan surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Menteri Kesehatan RI, Menteri Agama RI, dan Menteri Dalam Negeri RI yang telah mengatur buka sekolah dan belajar tatap muka.

Cukup ramai perbincangan di media sosial tentang buka sekolah tatap muka di masa pandemi covid-19.

Setidaknya ada 3 kelompok yang berpendapat tentang buka sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19.

Pertama, mendukung kebijakan pemerintah membuka sekolah April 2021. Alasannya untuk menggenjot kembali dunia pendidikan karena merupakan kunci kemajuan Indonesia di masa depan. Kalau pemerintah mengemukakan alasan membuka sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19 karena telah diterbitkan surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Menteri Kesehatan RI, Menteri Agama RI, dan Menteri Dalam Negeri RI yang telah mengatur buka sekolah dan belajar tatap muka.

Selain itu, vaksinasi para pendidik dan tenaga pendidik, dan untuk mencegah lost of learning karena kondisi pendidikan di Indonesia sudah tertinggal dari negara lain selama pandemi ini.

Kedua, menunda buka sekolah tatap muka karena jumlah warga yang divaksinasi masih minim. Hal tersebut disuarakan Rahmat Handoyo, anggota DPR dari PDI Perjuangan yang meminta DKI menunda buka sekolah tatap muka karena sampai kini baru 1,8 juta orang yang sudah divaksin COVID-19. Sementara perkiraan penduduk Jakarta berdasarkan BPS di tahun 2019 sebanyak 11 juta orang. Dengan demikian, sebanyak 9 juta warga Jakarta belum divaksin COVID-19.

Ketiga, menolak buka sekolah tatap muka. Pandangan ini disuarakan oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban yang mengatakan jika risiko penularan Covid-19 terhadap guru dan siswa masih tinggi. Karena itu, dia menolak buka sekolah tatap muka saat ini.

Pandangan Sosiolog

Sebagai sosiolog, saya mendukung buka sekolah tatap muka, walaupun pandemi Covid-19 belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Adapun alasan saya mendukung buka sekolah tatap muka antara lain:

Pertama, sangat banyak murid didik terutama di daerah dan di desa-desa tidak bisa mengikuti pembelajaran melalui daring karena jaringan internet tidak ada. Jika terlalu lama tidak belajar melalui tatap muka (offline), maka pendidikan anak-anak semakin tertinggal.

Kedua, tidak semua guru bisa memberi pelajaran secara baik kepada murid melalui daring, sehingga proses pembelajaran terhambat. Jika keadaan ini berlangsung terlalu lama, maka pendidikan anak didik kita semakin jauh tertinggal.

Ketiga, biaya pembelajaran melalui daring dirasakan berat bagi golongan masyarakat bawah karena harus membeli pulsa dan cepat habis. Walaupun ada subsidi pulsa dari pemerintah, tetapi tidak bisa menjangkau semuanya.

Untuk mengamankan proses pembelajaran tatap muka agar berlangsung aman dari pandemi Covid-19, maka setidaknya harus dilakukan secara ketat antara lain:

Pertama, pelaksanaan proses pembelajaran tatap muka di masa pandemi harus diawasi secara ketat agar menerapkan 3M (Mencuci tangan) secara berkala, (Memakai Masker) dan (Menjaga jarak). Maka setiap sekolah yang banyak murid, pelajar, siswa harus membentuk tim pengawas untuk menerapkan protokol kesehatan.

Kedua, proses pembelajaran tatap muka di kelas sebaiknya 50:50% secara bergiliran. Artinya 50% murid atau siswa belajar tatap muka di kelas dan 50% lagi belajar online (daring) secara bergiliran. Akan tetapi, pada sekolah yang jumlah siswanya sedikit, bisa seluruh murid atau siswa masuk sekolah dan belajar tatap muka (offline).

Keempat, setiap sekolah wajib menyediakan tempat cuci tangan dan sabun cair agar setiap murid atau siswa selalu mencuci tangan minimal setiap masuk sekolah dan saat mau pulang ke rumah.

Kelima, para murid atau siswa wajib menghindari berkerumun di kelas atau kantin agar tidak menghadirkan klaster Covid-19 di sekolah.

Keenam, semua murid, pelajar dan siswa, usai belajar di sekolah diperintahkan untuk langsung pulang ke rumah. Ini penting dilakukan agar tidak terjadi kerumunan massa di luar sekolah. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, maka pemerintah daerah dan kepolisian setempat bisa bekerjasama mengatasi kerumunan murid, pelajar dan siswa ditempat umum.

Baca Juga

DKI Jakarta

Jakarta dibangun dengan kolaborasi semua pihak termasuk Transjakarta. Transjakarta melayani warga sebagai moda transportasi massal yang maju dan modern di ibukota negara Republik Indonesia.

DKI Jakarta

Bank memiliki peran yang sangat penting dan strategis di dalam menopang pembangunan ekonomi nasional.

DKI Jakarta

Pertama kita bersyukur kepada Allah karena pandemi Covid-19 di DKI Jakarta dapat dikatakan sudah terkendali. Walaupun begitu, warga DKI Jakarta harus waspada dan ekstra...

DKI Jakarta

Dalam negara yang multi kultural, multi etnis, dan agama, apalagi dalam negara demokrasi, sangat wajar kalau kubu yang berbeda. Di dalam perbedaan, pasti banyak...

DKI Jakarta

Kebon Sirih tempat berkantornya anggota DPRD DKI Jakarta dibanjiri karangan bunga untuk dukungan interpelasi dari PDIP-PSI terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

DKI Jakarta

Pertama kita panjatkan puji syukur kepada Allah karena pandemi Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin bisa dikendalikan. Begitu pula Covid-19 di Jakarta.

DKI Jakarta

Suhu politik di DKI Jakarta, Ibukota negara Republik Indonesia memanas, setelah 2 Fraksi secara resmi mengajukan interpelasi kepada Gubernur Anies Baswedan menyangkut Formula E.

DKI Jakarta

Dalam 4 tahun terakhir perencanaan dan pembangunan tata kota Jakarta dilakukan dengan memperhatikan lingkungan yang sehat dan asri.