Connect with us

Patung Ki Hajar Dewantara di Pendopo Taman Siswa

Opini

Hari Pendidikan Nasional: Pendidikan VS Pembangunan Fisik Era Orde Baru dan Orde Reformasi

Pendidikan adalah investasi yang mahal dan bersifat jangka panjang. Maka, pemimpin yang tidak memiliki visioner, lebih memilih pembangunan ekonomi dengan membangun jalan, jembatan dan mengundang investor sebanyak-banyaknya untuk berinvestasi. Di hari pendidikan nasional ini, saya Musni Umar telah menulis artikel untuk arahjaya.com selamat membaca.

Pendidikan adalah investasi yang mahal dan bersifat jangka panjang. Maka, pemimpin yang tidak memiliki visioner, lebih memilih pembangunan ekonomi dengan membangun jalan, jembatan dan mengundang investor sebanyak-banyaknya untuk berinvestasi. Di hari pendidikan nasional ini, saya Musni Umar telah menulis artikel untuk arahjaya.com selamat membaca.

Sejarah adalah guru yang paling baik. Akan tetapi, sejarah seringkali dilupakan karena pemimpin yang dipilih rakyat dalam pemilihan umum {pemilu} ingin segera melihat hasil karyanya bahwa dia membangun.

Pembangunan yang segera bisa dilihat dan dibanggakan ialah pembangunan fisik seperti pembangunan jalan, jembatan, gedung dan sebagainya.

Pendidikan Dinomorduakan

Era Orde Baru dan Orde Reformasi, sama saja menomorduakan pendidikan. Pendidikan bukan skala prioritas.

Pembangunan ekonomi adalah segalanya. Apapun dilakukan demi membangun ekonomi. Pemerintah rela berutang dalam jumlah besar termasuk menggunakan dana haji demi membiayai pembangunan jalan tol, pembuatan jembatan dan sebagainya dalam rangka menopang pembangunan ekonomi.

Pada era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, pembangunan ekonomi masif dijalankan. Selama 32 tahun Orde Baru, pembangunan ekonomi menjadi skala prioritas. Untuk menopang jalannya pembangunan ekonomi, dikeluarkan konsep Trilogi Pembangunan yaitu pertumbuhan, stabilitas dan pemerataan.

Dalam rangka menyukseskan pembangunan ekonomi, maka konsep pembangunan dilaksanakan dengan memasung demokrasi dan kebebasan dalam rangka menerapkan stabilitas keamanan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dalam kurun waktu yang panjang, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sehingga Indonesia diberi gelar sebagai macan Asia.

Akan tetapi, setelah terjadi krisis ekonomi Indonesia tahun 1997-1998, pemerintah berusaha mempertahankan ekonomi Indonesia dengan mengeluarkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam jumlah yang amat besar.

Akan tetapi, kepercayaan (trust) dunia usaha dan dunia internasional sudah runtuh. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang digelontorkan kepada para konglomerat justeru disalahgunakan dengan membawa lari keluar negeri dana bantuan tersebut serta kekayaan mereka, sehingga Indonesia nyaris bangkrut.

Setelah pemerintah Indonesia di era Orde Reformasi melakukan berbagai upaya penyehatan ekonomi dan mengembalikan stabilitas sosial, mereka kembali ke Indonesia, dengan kekayaan yang semakin berlipat-lipat.

Seiring dengan itu, dijalankan liberalisasi dalam segala bidang. Mereka yang sudah kaya raya dari hasil pembangunan ekonomi di masa Orde Baru, semakin kaya karena rezim Orde Reformasi yang sudah silih berganti kembali memberi prioritas pembangunan ekonomi dengan persaingan bebas.

Sadar Pentingnya Pendidikan

Konsep pemerataan yang canangkan oleh pemerintah rezim Orde Baru, gagal diimplementasikan, sehingga pembangunan hanya memperkaya sekelompok kecil.

Setelah runtuh rezim Orde Baru dan dilakukan pemilihan umum (pemilu), para wakil rakyat yang terpilih dalam pemilu dan menjadi anggota DPR/MPR sangat menyadari pentingnya pendidikan.

Wujud dari kesadaran mereka terhadap pentingnya pembangunan pendidikan diimplementasikan dengan mencantumkan dalam amandemen UUD 1945 bahwa anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun anggaran pendidikan sebesar 20% dialokasikan hampir ke seluruh kementerian karena setiap kementerian memiliki sekolah dinas. Dampaknya, peningkatan dana pendidikan sebesar 20% tidak banyak memberi manfaat dalam upaya mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.

Hari Pendidikan Nasional

Pada saat kita memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021, seyogianya kita melakukan introspeksi tentang konsep dan pelaksanaan pendidikan nasional.

Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana yang dilakukan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan anak yang mulai diajarkan membaca dan menulis agar mendapatkan ilmu dan pendidikan yang bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan warga negara.

Konsep pendidikan yang pernah diajarkan Ki Hadjar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho In Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani.” Artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan di belakang memberi dorongan dan pengaruh.

Jika dikaitkan dengan konsep Merdeka Belajar yang gagas Nadiem Anwar Makarim, maka bisa mendorong kemajuan pendidikan anak. Setiap anak memiliki potensi. Maka dalam rangka mewujudkan konsep “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka,” tetap diperlukan adanya “keteladanan” yang harus selalu dihadirkan oleh para guru dan pimpinan sekolah. Pada tingkat universitas, sama saja dengan di sekolah dasar, sekolah menengah dan atas, harus selalu dihadirkan keteladanan dari para dosen dan pimpinan universitas seperti disiplin waktu, kejujuran, saling menolong dan sebagainya.

Begitu pula di tengah, para guru dan pimpinan sekolah dan di universitas para dosen dan pimpinan universitas harus selalu membangun kemauan dan semangat untuk maju serta di belakang tetap diperlukan untuk memberi dorongan, motivasi dan pengaruh. Tidak boleh dengan alasan “Belajar Merdeka” dan “Kampus Merdeka” semua dibebaskan anak didik serta mahasiswa tanpa menyertakan tiga hal yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.

Dengan demikian, konsep baru dan konsep lama terus disinergikan untuk menumbuhkan kualitas anak didik dan mahasiswa dalam meraih pendidikan disemua jenjang demi mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kerpada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang bertanggung jawab.

Baca Juga

Pendidikan

Dalam rangka memperingati 50 Tahun YISC Al-Azhar, pada 6 Juni 2021 saya, Tony Rasyid dan Faisal Basri diundang menjadi pembicara dengan topik Literasi Sebagai...

Sosial

Sebagaimana provinsi lain di Kawasan Timur Indonesia, tidak mudah bagi mereka yang hidup di Kawasan Indonesia Barat ataupun yang lahir dan hidup di Barat...

DKI Jakarta

Gubernur Anies Baswedan mengemukakan beberapa indikator makro yang dicapai mengalami peningkatan, di antaranya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) warga Jakarta tahun 2020 tercatat sebesar 80,77,...

DKI Jakarta

Pembangunan yang menghadirkan keterbukaan untuk dikritik dan didukung, menurut saya sangat baik, dan inilah ciri demokrasi yang baik kita harus lakukan di masa depan.

Covid-19

Untuk menggenjot kembali dunia pendidikan karena merupakan kunci kemajuan Indonesia di masa depan. Kalau pemerintah mengemukakan alasan membuka sekolah tatap muka di masa pandemi...

Pendidikan

Sejak lama saya berpendapat bahwa kunci kemajuan Indonesia terletak pada pendidikan yang berkualitas. Agar kita dapat menjadikan Indonesia Emas 2045 milik rakyat Indonesia, kita...

DKI Jakarta

Dalam pelaksanaan Pembangunan Di DKI Jakarta, Anies Baswedan, Gubernur DKI mengemukakan jargon menarik yang coba diamalkan di DKI yaitu Membesarkan yang kecil dan tidak...

Pendidikan

Musni Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun mengingatkan kepada seluruh Sivitas Akademika Universitas Ibnu Chaldun bahwa UIC tahun 2021 genap 65 tahun. Ditengah bangsa Indonesia...