Connect with us

From the river to the sea. 🇵🇸 #FreePalestine - IG blmcardiff

Politik

Demo Besar Dukung Palestina: Bagaimana Bangsa Arab dan Indonesia?

Demo besar dukung Palestina terjadi di Amerika Serikat untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Demo terjadi di seluruh kota di Amerika Serikat seperti di New York, Los Angeles, Pittsburgh, Boston, Philadelphia dan sebagainya. Demo serupa terjadi secara besar-besaran diberbagai negara di Eropa untuk menyuarakan dukungan kepada Palestina seperti di London, Berlin, Madrid dan Paris.

Demo besar dukung Palestina terjadi di Amerika Serikat untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Demo terjadi di seluruh kota di Amerika Serikat seperti di New York, Los Angeles, Pittsburgh, Boston, Philadelphia dan sebagainya.

Demo serupa terjadi secara besar-besaran diberbagai negara di Eropa untuk menyuarakan dukungan kepada Palestina seperti di London, Berlin, Madrid dan Paris.

Demo mendukung Palestina yang dilakukan di Paris diikuti ribuan orang. Presiden Emmanuel Macron telah melarang demo, tetapi rakyat Prancis tidak mempedulikan larangan demo yang disampaikan Macron.

Sementara itu, demo di London diikuti ratusan ribu massa yang merndukung Palestina serta mengecam Israel.

Juga di Madrid sekitar 2,500 orang yang pada umumnya anak muda berbendera Palestina, berjalan ke alun-alun Puerta del Sol di pusat kota. Mereka meneriakkan “Ini bukan perang, ini genosida,” teriak mereka.

Panggilan Kemanusiaan

Besarnya dukungan rakyat Amerika Serikat dan rakyat diberbagai negara di Eropa, menunjukkan betapa besarnya solidaritas mereka terhadap Palestina.

Besarnya dukungan rakyat Amerika Serikat dan rakyat diberbagai negara di Eropa, yang mayoritas bukan Muslim, menunjukkan besarnya rasa kemanusiaan mereka terhadap bangsa Palestina.

Mereka menunjukkan solidaritas terhadap Palestina yang sejak tahun 1948 mengalami penjajahan oleh Israel. Ratusan ribu rakyat Palestina terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka. Tanah dan rumah mereka dirampas, mereka dibunuh, diusir, diperlakukan tidak adil dipenjara, dan mereka yang bertempat tinggal di Gaza diblokade oleh Israel. Mereka yang hidup di Gaza, seperti layaknya hidup dalam penjara.

Mereka yang berdemo di Amerika Serikat, di Eropa dan diberbagai belahan dunia hampir dipastikan mayoritas bukan Muslim.

Pertanyaannya, mengapa mereka berdemo mendukung Palestina? Jawabannya, karena Israel telah mempraktikkan kezaliman yang nyata. Tentara dan Polisi Israel telah mengamalkan kebiadaban terhadap rakyat Palestina. Mereka membunuh anak-anak Palestina yang tidak berdosa, memenjarakan para pemuda dan laki-laki Palestina.

Faktor kemanusiaan telah mendorong bangsa-bangsa di dunia mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk memperoleh kemerdekaan yang abadi guna memperoleh keadilan, kedamaian dan kemakmuran.

Sikap Bangsa Arab & Indonesia

Apa yang salah, sehingga mayoritas bangsa Arab diam? Setidaknya terdapat tiga alasan bangsa Arab diam?

Pertama, pemerintah berbagai negara Arab sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Mereka memilih diam untuk keselamatan bangsa dan negara mereka.

Kedua, bangsa Arab yang diam pada umumnya mereka sudah hidup makmur. Mereka yang sudah makmur dan sejahtera, telah hilang ruhul jihad untuk membela saudaranya bangsa Palestina yang ditindas, dijajah dan dizalimi.

Ketiga, pemerintah mereka bersifat monarki absolut yang melarang demo bagi warganya dengan alasan apapun.

Keempat, Indonesia walaupun mayoritas mendukung perjuangan bangsa Palestina, akan tetapi mereka yang sering demo seperti Hizabut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI) telah dilumpuhkan dengan dibubarkan organisasi mereka. Para tokohnya seperti Habib Rizieq Syihab, Shobri Lubis dan lain-lain sudah dipenjarakan.

Selain itu, pemerintah Indonesia melarang demo dengan alasan untuk mencegah kerumunan massa yang bisa menjadi klaster terjadinya penyebaran Covid-19 dan variannya.

Walaupun begitu, media memberitakan bahwa serikat buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KPSI) berencana berdemo untuk mendukung Palestina pada 18 Mei 2021.

Posisi Indonesia

Secara ideologis, Indonesia sangat menentang segala macam penjajahan dimuka bumi. Penegasan itu tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa “sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.”

Kalau pemerintah dan bangsa Indonesia mendukung perjuangan bangsa Palestina, adalah dalam rangka mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945.

Selain itu, dalam sejarah dicatat dengan tinta emas bahwa bangsa Palestina dapat dikatakan merupakan pendukung utama kemerdekaan Indonesia.

M. Zein Hassan dalam bukunya “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri ” menyatakan bahwa dukungan Palestina untuk kemerdekaan Indonesia dimulai sejak tahun 1944. Mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al Husaini dan saudagar kaya Palestina yaitu Muhammad Ali Taher menyatakan dukungannya.

Kata Ali Taher dalam siaran radio “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Pernyataan tersebut disampaikan Ali Taher dalam siaran radio pada 6 September 1944. Dukungan berlanjut dengan aksi turun ke jalan yang dilakukan rakyat Palestina.

Berkat dukungan Internasional, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan menjadi negara yang berdaulat.

Akan tetapi pada tanggal 14 Mei 1948, negara Israel diproklamasikan oleh David Ben Gurion di Tanah Palestina. Sejak itu Palestina menjadi bangsa yang dijajah dan Indonesia tidak pernah mengakui negara Yahudi itu. Sampai saat ini Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel.

Akan tetapi, pasang surut dukungan Indonesia terhadap Palestina, sangat ditentukan kondisi politik di Indonesia. Walaupun bangsa Indonesia secara ideologis dan historis, tidak punya pilihan kecuali membela, mendukung dan melakukan aksi nyata untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa Palestina.

Akan tetapi, faktor internasional terutama kuatnya dukungan Amerika Serikat dan negara-negara barat terhadap negara Yahudi itu, dan tidak bersatunya negara-negara Arab dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina terutama setelah 4 kali perang Arab-Israel, negara-negara Arab kalah, maka seperti Mesir, Yordania akhirnya menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Pada masa Presiden Amerika Serikat Donald Trump, semakin banyak negara Arab yang “dipaksa” menjalin hubungan diplomatik dengan negara Israel. Untuk kepentingan kekuasaan mereka, maka banyak negara Arab yang “takluk” dan akhirnya terpaksa menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Maka masa depan Palestina, sangat tergantung pada bangsa Palestina sendiri. Perang Isreal dengan Hamas Palestina yang sedang berlanjut, mempunyai arti yang sangat penting terbentuknya negara Palestina karena Israel mustahil memberi kemerdekaan kepada Palestina melalui diplomasi seperti yang pernah dijalankan pemimpin Palestina Yasser Arafat kemudian dilanjutkan oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Baca Juga

Opini

Ribuan orang turun ke jalan memprotes pembunuhan secara brutal 4 orang dari keluarga Muslim Afzaal di kota London Ontario Kanada karena Islamofobia.

Politik

Akhiri perang di Palestina dengan mendorong kemerdekaan bangsa Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur merupakan kunci untuk mewujudkan perdamaian abadi dan berakhirnya perang antara Israel...

Opini

Presiden Turki Erdogan merupakan pemimpin di dunia Islam yang amat populer. Mayoritas rakyat Turki sangat mencintai dan menghormatinya, tetapi kaum sekuler sangat membencinya. Erdogan...

Politik

Telah muncul kekuatan baru di Timur Tengah dan di dunia. Selain Amerika Serikat, telah muncul kekuatan baru di Timur Tengah seperti Rusia, China, Iran...

Politik

Kita mengecam dan mengutuk keras serbuan tentara Zionis Israel di Masjid Al-Aqsa. Telah diberitakan bahwa dalam bentrokan sejak jumat, jumlah korban saat ini mencapai...

Ramadan 1442H

Islam mengajarkan pentingnya damai. Islam berasal dari kata aslama yuslimu islaaman yang berarti taat, tunduk, patuh, pasrah, berserah diri kepada Allah. Menurut etimologi, kata...

Opini

Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang.

Opini

Indonesia adalah Daarul Amni (negeri yang aman) bukan Daarul Harbi (negeri yang sedang perang), maka siapapun dan apapun motif bom bunuh diri di depan...