Connect with us

50 Tahun YISC Al Azhar (6/6/2021) - twitter musniumar

Pendidikan

50 Tahun YISC Al-Azhar: Umat Islam Wajib Tingkatkan Literasi Politik, Sosial dan Ekonomi

Dalam rangka memperingati 50 Tahun YISC Al-Azhar, pada 6 Juni 2021 saya, Tony Rasyid dan Faisal Basri diundang menjadi pembicara dengan topik Literasi Sebagai kekuatan intelektual pemuda muslim.

Dalam rangka memperingati 50 Tahun Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, pada 6 Juni 2021 saya, Tony Rasyid dan Faisal Basri diundang menjadi pembicara. Topik yang diminta Aldo, pengurus YISC Al-Azhar adalah “Literasi Sebagai kekuatan intelektual pemuda muslim.”

Ketiga narasumber yang diundang untuk menjadi pembicara dalam diskusi offline (tatap muka) di Masjid Al-Azhar memiliki latar belakang yang berbeda, saya sebagai sosiolog, Tony Rasyid, pakar politik dan Faisal Basri adalah ekonom terkemuka di Indonesia.

Saya dan Faisal Basri pernah aktif di YISC Al-Azhar pada masa muda, bahkan saya mendapatkan isteri di YISC Al-Azhar. Saya berkenalan dengan Prof. Jimly Asshidiqy, Prof Syafii Anwar, sekarang mengajar di Malaysia dan lain-lain, di YISC Al-Azhar. Pada masa aktif di YISC Al-Azhar tahun 1970-an, saya sering bertemu dan mendengar ceramah Buya Hamka, hanya amat saya sesalkan tidak ada foto bersama dengan sang pujangga.

Untuk mengenang kembali masa aktif di YISC Al-Azhar, saya memberi judul tulisan ini “50 Tahun YISC Al-Azhar: Umat Islam Wajib Tingkatkan Literasi Politik Sosial dan Ekonomi.

Pengertian Literasi

Ekonom Faisal Basri menjelaskan pengertian Literasi dengan mengatakan bahwa Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.

Kemampuan membaca tidak hanya yang tertulis, tetapi juga tidak tertulis berupa fenomena sosial, politik, ekonomi, alam dan sebagainya. Selain itu, kemampuan menulis untuk mencerahkan, menyadarkan dan mengingatkan masyarakat agar tidak salah jalan dalam menjalani kehidupan ini.

Perintah membaca dan menulis dalam Islam telah ditegaskan dalam 5 ayat pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang tercantum dalam al-Qur’an surat Al Alaq.

Perintah membaca أقرأ ditegaskan dalam al-Qur’an yang artinya bacalah. Pada ayat kelima, Allah menegaskan الذي علم بالقلم علم الانسان مالم يعلم yang mengajarkan menulis dengan pena (qalam), yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahui.

UNESCO atau the united nations educational, scientific and cultural organization memberi pengertian Literasi adalah kemampuan untuk membaca dan menulis. Sebagian orang, membaca sesuatu yang membosankan.

Pentingnya Literasi

Di Indonesia tingkat literasi masyarakat masih sangat rendah. Penyebabnya, banyak faktor diantaranya orang tua tidak membiasakan putera (i) untuk membaca dan menulis di masa kecil. Selain itu, faktor lingkungan yang belum mendukung, juga masyarakat belum sadar penting litetasi.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan? Menurut saya, harus dilakukan 5 hal. Pertama, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya berkolaborasi dengan masyarakat Madani (Civil Society) untuk menyadarkan, mengingatkan dan memberi contoh pentingnya literasi di kalangan masyarakat.

Kedua, sekolah dari TK, SD sampai perguruan tinggi harus dibudayakan literasi. Upaya membudayakan literasi akan berhasil jika dimulai sejak Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

Ketiga, orang tua menjadi faktor utama untuk meningkatkan literasi bangsa Indonesia karena dari lingkungan terkecil keluarga, jika dilakukan banyak keluarga akan membentuk kekuatan besar di masyarakat dan bangsa.

Keempat, ulama dan tokoh masyarakat diminta untuk berpartisipasi menggerakkan masyarakat untuk rajin membaca sebagai cara meningkatkan kapasitas dan kemampuan literasi.

Kelima, media dan media sosial sepatutnya berperan besar dalam mendorong peningkatan literasi sosial, politik dan ekonomi.

Literasi Sosial Politik & Ekonomi

Indonesia masih menghadapi banyak masalah. Sesuai dengan kepakaran tiga pembicara dalam diskusi 50 Tahun YISC Al-Azhar, saya kemukakan pentingnya dilakukan 3 literasi bagi pemuda Islam dan umat Islam.

Pertama, literasi sosial sangat penting ditumbuhkembangkan sejak dini. Karena dengan literasi sosial, tidak hanya membaca buku-buku sosial, tetapi melihat dan mengamati fenomena sosial seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang masih dialami sebagian masyarakat. Dengan demikian, jika para pemuda Islam pada suatu saat memegang kekuasaan, telah memiliki empati dan ilmu untuk membantu mereka yang kurang beruntung dalam hidup. Selain itu, akan tumbuh rasa syukur kepada Allah dan semangat tinggi untuk memberantas masalah sosial yang dikemukakan di atas dengan mengutamakan pentingnya pendidikan sebagai solusi permanen.

Kedua, literasi politik. Literasi dalam bidang politik sangat penting dan menentukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah sosial, ekonomi dan sebagainya ditentukan oleh politik. Dr. Tony Rasyid mengemukakan tentang pentingnya politik, 1000 ulama yang menyerukan hotel Alexis tempat maksiat agar ditutup tidak akan mempan, tetapi selembar kertas yang ditanda tangani seorang Gubernur, hotel Alexis langsung ditutup.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan politik sangat penting dan menentukan. Dalam sejarah Islam, Nabi telah berdakwah selama 13 tahun di Makah, jumlah penduduk Makah yang memeluk Islam tidak banyak. Akan tetapi setelah Nabi Muhammad saw hijrah di Madinah dan mendirikan negara Madinah Al Munawwarah, Islam berkembang pesat dan syariah Islam bisa ditegakkan.

Belajar dari sejarah Nabi Muhammad saw, maka literasi politik di kalangan pemuda Islam dan umat Islam wajib ditingkatkan agar umat Islam yang mayoritas tidak terus menerus jadi alat, tetapi bisa sadar dan mencontoh Rasulullah betapa pentingnya umat Islam memegang kekuasaan politik untuk membela agama, membela harta negara agar tidak dikorupsi, membela jiwa agar tidak ada pembunuhan tanpa sebab yang dibenarkan syar’i, menyelamatkan keturunan dengan meniadakan perzinahan dan sebagainya. Amar Ma’ruf nahi Munkar lebih mudah ditegakkan jika memegang kekuasaan politik.

Ketiga, literasi ekonomi. Pemuda Islam dan umat Islam wajib memiliki literasi ekonomi. Nabi Muhammad saw telah memberi contoh bahwa Rasulullah tidak hanya memiliki literasi ekonomi, tetapi sejak kecil sampai dewasa menjadi pelaku ekonomi. Jadi pemuda Islam dan umat Islam tidak hanya bisa literasi ekonomi, tetapi menjadi pelaku ekonomi.

Dengan demikian, pemuda Islam dan umat Islam selain memiliki literasi ekonomi, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi, sehingga pemerataan dan keadilan serta kemakmuran bisa dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia tidak hanya kelompok kecil.

Berikut foto-foto kegiatan

Baca Juga

Lainnya

Pergantian tahun baru Islam harus dimaknai dengan belajar sejarah. Momentum tahun baru Islam, mesti dijadikan titik awal, umat Islam belajar sejarah Nabi Muhammad SAW.

Opini

Presiden Turki Erdogan merupakan pemimpin di dunia Islam yang amat populer. Mayoritas rakyat Turki sangat mencintai dan menghormatinya, tetapi kaum sekuler sangat membencinya. Erdogan...

Opini

Pendidikan adalah investasi yang mahal dan bersifat jangka panjang. Maka, pemimpin yang tidak memiliki visioner, lebih memilih pembangunan ekonomi dengan membangun jalan, jembatan dan...

Ramadan 1442H

Islam mengajarkan pentingnya damai. Islam berasal dari kata aslama yuslimu islaaman yang berarti taat, tunduk, patuh, pasrah, berserah diri kepada Allah. Menurut etimologi, kata...

Opini

Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang.

Opini

Isra Miraj merupakan peristiwa yang amat penting bagi umat Islam karena pada saat Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah untuk menunaikan...

Pendidikan

Dr Ubedilah Badrun, akademisi dan pengamat sosial politik mengatakan bahwa Republik ini akan maju kalau dibimbing dan dipimpin Ulul Albab (Orang yang selalu berzikir...

Opini

Fahmi Idris mendirikan Akademi Alquran dan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa (i) untuk mengikuti program tahfiz (hafal Alquran).