Connect with us

Harmoko memakai batik sedang berpidato - google

In Memoriam

In Memoriam Harmoko Dalam Membaca Sambutan di DPP Golkar

Sebagai aktivis mahasiswa yang mengenal dari dekat Pak Harmoko, saya mengatakan bahwa beliau hebat. Kalau membaca kata sambutan yang telah disiapkan, beliau sangat menghayati yang dibaca, seperti teks sambutan yang dibaca, dibuat sendiri oleh beliau.

Pada saat Harmoko menjadi Ketua Umum DPP Golkar, saya diajak Fahmi Idris dan Fadel Muhammad, Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP Golkar untuk membantu keduanya menjadi Sekretaris Departemen Koperasi dan Wiraswasta merangkap anggota Kordinator Bidang Ekonomi yang diketuai Warno Hardjo.

Melalui Dewan Pimpinan Pusat Golkar, saya mengenai Pak Harmoko. Tidak hanya mengenal beliau, tetapi setiap ada kegiatan Departemen Koperasi dan Wiraswasta yang membuka dan memberi sambutan adalah Pak Harmoko.

Sebagai aktivis yang sejak mahasiswa suka menulis artikel di media, saya selalu diminta membuat konsep pidato Pak Harmoko, kemudian dikoreksi Pak Fahmi Idris, lalu diserahkan ke Pak Ary Mardjono, Sekretaris Jenderal DPP Golkar untuk koreksi terakhir sebelum diserahkan kepada Ketua Umum DPP Golkar Pak Harmoko.

Harmoko Hebat

Sebagai aktivis mahasiswa yang mengenal dari dekat Pak Harmoko, saya mengatakan bahwa beliau hebat.

Pertama, kalau membaca kata sambutan yang telah disiapkan, beliau sangat menghayati yang dibaca, seperti teks sambutan yang dibaca, dibuat sendiri oleh beliau.

Kedua, sangat cerdas dalam mengomentari sambutan yang dibaca. Runut dan terstruktur dalam mengulas pidato yang dibaca.

Ketiga, sambutan yang dibaca dan dikomentari selalu kontekstual, sehingga menarik dan tidak membosankan.

Keempat, acara yang dihadiri dengan sambutan Pak Harmoko, tidak terkesan kaku dan formal, tetapi selalu cair dengan suasana keakraban karena sebagai mantan wartawan memliki banyak kiat untuk membuat suasana cair dan akrab dalam suatu acara.

Kelima, setiap acara Departemen Koperasi dan Wiraswasta yang dibuka Pak Harmoko selalu ramai diberitakan media.

Belajar Dari Harmoko

Harmoko, Menteri Penerangan RI selama 3 periode (15 tahun) dimasa Orde Baru, terlepas dengan kekurangannya, memiliki talenta yang hebat dalam menggalang dukungan publik. Harmoko, publik sering plesetkan “Hari-Hari Omong Kosong.”

Harmoko mengawali kariernya sebagai wartawan. Melalui dunia wartawan, dia dikenal Pak Harto. Kemudian dipercaya Pak Harto sebagai tangan kanannya.

Salah satu warisan Harmoko di bidang jurnalisme bagi Indonesia adalah harian Pos Kota yang didirikannya bersama sejumlah koleganya pada dekade 1970an silam. Harian itu dikenal karena menampilkan berita-berita lokal Jakarta dan sekitarnya terutama soal kriminalitas, masyarakat, olahraga, dan pesohor.

Dari Kalangan Sipil

Seingat saya, semua Ketua Umum DPP Golkar di era Orde Baru semuanya dari latar belakang militer. Harmoko Adalah satu-satunya dari kalangan sipil. Hal tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan kepada Harmoko.

Walaupun kiprah Harmoko bersama Golkar sudah berlangsung sejak dekade 1970-an. Dia malang melintang bersama tim media massa Golkar pada dekade itu, lalu naik pangkat jadi elite partai pada dekade 1980 hingga memimpinnya sebagai Ketua Umum (1993-1998).

Kiprah Harmoko di dunia jurnalistik pun mentereng secara keorganisasian pada dekade 1970-1980an. Berawal dari memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta, dia kemudian memimpin organisasi tunggal jurnalis di masa Orde Baru tersebut (1973-1983).

Seiring kiprahnya di puncak PWI itu dia pun merupakan pengurus Serikat Grafika Pers, Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Penerbit Surat Kabar (SPS), Wakil Ketua Konfederasi Wartawan ASEAN, anggota Dewan Pers, dan anggota Badan Sensor Film.

Dia pun pernah menjadi salah satu ketua di Komite Olahraga Nasional (KONI) pusat (1978-1983), dan memimpin Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) sebagai ketua umum (1986-1998).

Di kancah politik, selain bersama Golkar, Harmoko sudah merasakan kursi Dewan Perwakilan Rakyat sejak 1977, hingga akhirnya diberi amanah oleh Pak Harto menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988).

Kiprah Harmoko sebagai menteri penerangan itu cukup panjang sebelum berakhir ketika dia menjadi Ketua DPR/MPR pada 1997 silam. Sebagai Menteri Penerangan, Harmoko merupakan ‘kepanjangan tangan’ Presiden Soeharto melakukan pembredelan atas media-media masa dengan alasan demi menjaga stabilitas negara.

Beberapa di antara yang pernah kena ‘tangan dingin’ Harmoko adalah surat kabar Sinar Harapan, majalah Tempo, tabloid Detik, dan majalah Editor.

Semasa menjabat sebagai Menteri Penerangan, Harmoko adalah pencetus gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) yang disiarkan televisi nasional, TVRI.

Harmoko juga dikenal dan dikenang dengan rambut belah kiri lurus nan klimis sebagai ciri khas tersendiri selama menjadi Menteri Penerangan RI.

Selama Orde Baru, di mana stasiun televisi negara TVRI menjadi saluran tunggal kala itu, Harmoko selalu tampil di layar televisi untuk menyampaikan pengumuman dari pemerintah.

Kalimat pembuka yang identik dengan Harmoko adalah, ‘Menurut petunjuk Bapak Presiden’. Kalimat itu menjadi ciri khas yang diingat masyarakat yang tumbuh pada masa Orde Baru.

Akhirnya kita sampaikan selamat jalan Pak Harmoko menghadap ilahi rabi semoga amal ibadahmu dan tobatmu dihari tua diterima oleh Allah.

Baca Juga

In Memoriam

Saya amat terkejut membaca ucapan duka cita yang disampaikan Majelis Nasional KAHMI di media sosial atas wafatnya Prof.Dr. Muchlis R. Luddin, MA.

In Memoriam

Ustaz Nawir, ustaz Abdul Salam dan ustaz Muhiddin adalah alumni Pondok Pesantren Al Khairat, Palu, Sulawesi Tengah. Saya mengajak ketiga ustaz tersebut bersama tokoh...

In Memoriam

Kepergian Artidjo Alkostar menyedihkan kita semua, karena kita kehilangan seorang tokoh yang gigih menegakkan keadilan dan kebenaran pada saat dia menjadi hakim agung RI.

In Memoriam

Letnan Jenderal TNI Purn Prof Dr Syarifuddin Tippe, M.Si, yang wafat pada 14 Februari 2021 karena sakit dalam usia 67 tahun. Civitas Universitas Ibnu...

In Memoriam

Tidak ada kata dan kalimat yang patut kita ucapkan selain Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepadaNya kita kembali)...

In Memoriam

Saya amat terkejut membaca di media sosial bahwa Ustaz Syekh Ali Jaber meninggal dunia.

In Memoriam

Tidak ada yang mengira Muhammad Suaib Didu, yang baru berumur 55 tahun meninggal dunia begitu cepat karena beberapa waktu lalu, ditemani Dr. Muhammad Sulhan,...

In Memoriam

Prof Dr H Beddu Amang, MA yang lahir di Ujung Pandang, 7 Agustus 1936 – meninggal 9 Januari 2021 dalam umur 84 tahun) adalah...